Judul buku : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

Penulis : Brian Khrisna

Penerbit : Grasindo

Tahun terbit : 2025

ISBN : 978-602-05-3132-8

Jumlah halaman : 216

Iklan

Seringkali saya tertekan dalam menjalani kehidupan. Biasanya tekanan datang beragam, mulai dari menumpuknya tugas kuliah, dompet yang menipis, atau sekedar pemikiran berlebihan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Saat diri merasa tertekan, terkadang terpikir oleh saya untuk melompat ke arah sebuah truk atau kendaraan lain yang sedang melaju kencang.

Meski begitu, rasa bunuh diri kerap mereda ketika saya melihat tunawisma yang sedang tidur di trotoar. Ataupun saat saya memandang pedagang kerupuk tunanetra, seorang ibu mengemis sambil membawa balita, dan para pelacur yang sedang berjalan pulang ke rumahnya. Ketika melihat berbagai pemandangan tadi, muncul perasaan lega dan bersyukur. Sebab, saya merasa “beruntung” dibanding dengan orang-orang barusan yang bernasib lebih buruk.

Selain perasaan “beruntung” dibanding orang lain, saya juga bersikukuh untuk terus hidup lewat berbagai alasan-alasan kecil lainnya. Misalnya, keterikatan dengan keluarga, teman-teman, orang yang dicintai, atau alasan lebih kecil lainnya seperti makanan kesukaan.

Baca juga: Ilusi Kebahagiaan Konsumsi Simbol Boneka Hirono

Keadaan yang saya alami barusan, mempunyai sejumlah kemiripan dengan isi novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna. Dalam novelnya, Brian mengulik alasan-alasan kecil untuk tetap bersyukur dan tidak memilih untuk mengakhiri hidup.

Ale, karakter utama dalam novel ini adalah seorang lelaki lajang berumur 37 tahun. Pekerja kantor tersebut digambarkan berkulit hitam dengan tinggi 189 cm dan berat badan 138 kg. Selain itu, Ale memiliki bau badan menyengat.

Dipengaruhi kondisi fisiknya, Ale dijauhi oleh orang-orang di sekitarnya. Ale juga mengidap penyakit depresi akut sedari kecil, yang diakibatkan oleh kebiasaan ibunya menyandingkan dirinya dengan adiknya. Karena tekanan tersebut, Ale memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggak obat berdosis tinggi.

Sebelum mengakhiri hidupnya, Ale memutuskan untuk memakan seporsi mie ayam dari gerai gerobak langganannya. Dalam perjalanan, Ale bertemu orang-orang “kurang beruntung” dengan latar belakang yang berbeda-beda. Dari berbagai pertemuan yang terjadi, diceritakan Ale mendapati banyak hal yang membuat rencananya untuk mengakhiri hidup tertunda.

Baca juga: Keluarga Super Irit: Titik Nadir Kelas Menengah Indonesia

Pertama, Ale bertemu Murad, si pemimpin kelompok preman yang pernah berada satu sel bersamanya. Ale direkrut menjadi bawahan Murad sebagai preman, karena fisiknya dinilai menyeramkan. Hal itu menguatkan rasa percaya diri Ale tentang kondisi fisiknya.

Iklan

Selain itu, Ale berjumpa Ipul yang bekerja sebagai Office Boy. Kala itu, Ale yang sedang berulang tahun hendak memberikan kue kepada karyawan lain sebagai bentuk perayaan. Namun, hanya Ipul yang mau menerima kue dari Ale. Ipul berkata kepada Ale bahwa kue tersebut bisa diberikan kepada anaknya yang juga sedang berulang tahun.

“Aku kecewa karena teman kantorku tidak ada yang mau mengambil kue ulang tahunku, ternyata takdir Tuhan memang demikian agar kue itu tetap utuh dan diberikan kepada seseorang yang lebih bisa bersyukur menerima kueku,” (halaman 122).

Ale juga bertemu Pak Uju. Penjual layangan itu sangat berterima kasih dengan Ale. Sebab, Ale pernah menyelamatkan anaknya yang mau diperkosa oleh Murad. Selain berterima kasih, Pak Uju juga memotivasi Ale untuk terus hidup. Pak Uju menyatakan sudah sewajarnya manusia menghadapi banyak kesengsaraan dalam hidup.

“….Untuk mengenal apa itu bahagia, bung harus pernah sedih dulu,” (halaman 165)

Banyak tokoh lain yang menemani perjalanan Ale. Semisal Mami Louisse dan Juleha sebagai pelacur, Ibu murni yang kehilangan anaknya karena ulahnya sendiri, ataupun seorang penjual kerupuk tunanetra bernama Pak Jipren. Ale menemukan pembelajaran dan pengalaman berharga dari setiap orang yang ia temui sebelum hendak bunuh diri.

Karena hal tersebut, Ale memutuskan untuk terus melanjutkan hidup. Bukan sebagai Ale lama, tetapi sebagai Ale yang keluar dari kehampaan makna, tidak tunduk pada semua perkataan buruk, dan menjadi dirinya sendiri.

Dalam pandangan sosiolog asal Jerman Émile Durkheim, keadaan yang dialami Ale termasuk dalam motif bunuh diri egoistik. Hal ini terjadi ketika seseorang mengalami isolasi, individualisme yang berlebihan, atau dirinya tidak terintegrasi kepada masyarakat. Bunuh diri ini juga biasa terjadi karena fenomena nihilisme yang dialami oleh seorang individu.

Dalam pemikiran seorang filsuf asal Jerman Friedrich Nietzsche, nihilisme adalah suatu fenomena ketiadaan nilai dan makna pada seorang individu. Ale dalam awal cerita digambarkan sedang melalui fase nihilisme pasif, yaitu ditandai dengan sikap keputusasaan, kelelahan, dan penarikan diri dalam masyarakat.

Nietzsche mengilustrasikan perjalanan seorang manusia sebagai seutas tali—di atas jurang nihilisme yang dalam—penghubung antara binatang dan Übermensch. Übermensch merupakan sebuah konsep Friedrich Nietzsche yang berarti overman atau superman. Übermensch adalah seorang manusia yang telah melampaui manusia biasa, mampu menciptakan nilai-nilai baru, menguasai dirinya sendiri, dan berani menghadapi isolasi serta penderitaan dari menjadi diri sendiri.

Dalam perjalanan manusia menelusuri jalan nihilisme, terdapat sikap yang menjadi salah satu prasyarat manusia untuk mencapai Übermensch, yaitu amor fati. Amor fati adalah sikap kecintaan terhadap nasib, sebuah amalan yang memungkinkan manusia dapat bertahan dalam jalan nihilisme dan mencapai Übermensch.

Ale sudah mengamalkan Amor Fati dalam kehidupan dirinya, tetapi hal tersebut masih jauh dari Übermensch menurut pemikiran Friedrich Nietzsche. Alih-alih menciptakan nilai baru dan mencapai Übermensch sejati, Ale justru hanya melakukan amor fati yang bersifat semu. Ale menerima nasib, cenderung hanya dipengaruhi karena ia melihat banyak orang lain bernasib lebih buruk dibanding dengannya, bukan disebabkan penerimaan diri apa adanya.

Dalam novel, Ale seolah kecanduan “rasa bersyukur” ketika melihat penderitaan orang dibawahnya. Rasa candu itu menidurkan Ale atas atas permasalahan struktural dan dorongan untuk melakukan perubahan. Mirip seperti perkataan Karl Marx, yakni “Religion is the opium of the people” yang menunjukkan terdapat “obat tidur” berupa nilai-nilai dalam masyarakat untuk mempertahankan status quo atau kekuasaaan.

Rasa bersyukur Ale adalah opium karena ia merasa lega bukan karena permasalahannya selesai, tetapi sebab melihat orang yang lebih menderita. Dalam perjalanannya menemui berbagai macam orang yang memberinya pelajaran, harusnya Ale dapat menciptakan nilai-nilai baru yang mungkin akan lebih bermanfaat bagi dia dan orang sekitarnya.

Akan tetapi, Ale hanya berpuas diri dan mengamini semua yang terjadi begitu saja. Hal tersebut melanggengkan fenomena di mana masyarakat yang tertindas hanya dijadikan bentuk objek bersyukur, bukan diselesaikan permasalahannya.

Sementara itu, ketika saya melihat berbagai bentuk ketertindasan seperti keadaan di atas, saya tidak hanya bersyukur, tetapi merasa kesal dengan permasalahan sosial yang ada. Saya melihat ketertindasan seseorang bukan sekedar menjadi bahan untuk bersyukur, tetapi sebagai dasar refleksi terhadap permasalahan sosial yang mestinya harus diubah.

Novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dinobatkan sebagai mega best seller oleh penerbit Grasindo. Hal ini dapat dilihat dari novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati yang selalu konsisten menempati rak-rak best seller di Gramedia, bersanding dengan Laut Bercerita dan Atomic Habits.

Baca juga: Quo Vadis Kaum Muda? Sang Pembaharu di Tiap Zaman

Ada beberapa faktor yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi. Pertama, Brian Khrisna menggunakan dua musik dari Radiohead yang sedang populer di media sosial, yaitu “Creep” dan “Let Down”.

Kedua, novel ini menggunakan tema permasalahan kesehatan mental. Tema tersebut memang sangat digandrungi oleh para generasi muda hari ini yang banyak berhadapan dengan isu kesehatan mental, seperti depresi maupun dorongan untuk bunuh diri.

Terlepas dari berbagai kritik terhadap Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, novel ringan ini dapat membantu orang mengatasi masalah mental. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati bisa memberi harapan-harapan kecil di tengah ketiadaan makna dalam diri seseorang. Satu kutipan yang paling menarik bagi saya dari buku tersebut ada di kalimat akhir, yaitu “maybe life is worth living again.”

Penulis: Muhammad Rasha Putra

Editor: Andreas Handy