Judul Lagu: Baepsae atau Silver Spoon
Album: The Most Beautiful Moment in Life Pt.2
Durasi Lagu: 3:33
Rilis: 29 November 2015
Penulis Lagu: Pdogg, Supreme Boi, Bang Si-Hyuk, RM, Suga, J-Hope
Label: Big Hit Entertainment
“They call me baepsae, yokbwatji i sedae (Mereka memanggilku Baepsae, kami dikutuk oleh generasi ini.)
Begitulah penggalan lirik dari lagu “Baepsae” karya boyband terkenal asal Korea Selatan, yakni Bangtan Boys (BTS). Termasuk ke dalam album The Most Beautiful Moment in Life Pt.2 yang dirilis pada 2015, lagu “Baepsae” sangat kental dengan kritik sosial.
Baepsae sendiri merupakan sejenis burung kecil yang mempunyai kaki pendek. Di Korea Selatan, Baepsae umumnya merujuk kepada peribahasa berupa “baepsaega hwangsa ttaragada garangiga jjijeojinda” yang artinya jika Baepsae mengikuti bangau, kakinya akan terbelah. Peribahasa ini menggambarkan seseorang tanpa privilese sangat sulit untuk menyamai kesuksesan orang kaya.
Melalui lagu penuh beat energik ini, BTS hendak mengungkapkan keadaan masyarakat yang penuh ketimpangan. Keadaan seperti itu menyebabkan sebagian besar masyarakat menjadi Baepsae. Dengan kata lain, seseorang yang modal ekonomi dan jaringan sosialnya minim.
Pun, BTS menganggap diri mereka sebagai Baepsae. Pada awal karier, personel BTS merekam lagu di garasi dan menyebarkan sendiri flyer konser mereka di jalanan Seoul.
Adapun saat lagu ini dirilis, industri musik Korea Selatan didominasi agensi besar. Grup dari perusahaan kecil seperti BTS yang berada di bawah Big Hit Entertainment, harus berjuang lebih keras. Mereka menghadapi keterbatasan finansial dan terdapat bias media serta publik yang lebih memilih menyoroti grup dari agensi besar.
Keadaan menjadi Baepsae juga dialami sebagian besar masyarakat Korea Selatan yang hidup pada realitas penuh ketimpangan. Di Negeri Ginseng itu, konglomerat keluarga (chaebol) menguasai ekonomi masyarakat, memastikan kekayaan tetap berputar di kalangan elit. Jadi, kesempatan sosial lebih berpihak pada mereka yang memiliki privilese dan relasi, sedangkan kelompok kelas bawah terus terjebak dalam sistem yang menghambat mobilitas sosial mereka.
Mereka yang lahir dari keluarga kaya lebih mudah mengakses pendidikan berkualitas dan mendapat pekerjaan di perusahaan besar. Sementara itu, anak-anak dari kelas pekerja harus berjuang lebih keras dengan sumber daya yang terbatas. Bahkan, keadaan penuh ketimpangan turut menjadi faktor tingginya angka bunuh diri di Korea Selatan.
“Ige jeonguirani you mu be kiddin’ me!” (Mengatakan bahwa ini adalah keadilan, kau pasti bercanda!).
Keadaan serupa juga terjadi di Indonesia hari ini. Sebanyak satu persen orang terkaya di Indonesia menguasai 46 persen kekayaan penduduk. Ketimpangan melahirkan ketidakadilan.
Lihat saja yang terjadi kepada para keturunan mantan Presiden Indonesia, Joko Widodo. Gibran Rakabuming Raka berhasil menjadi Wakil Presiden lantaran adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang bermasalah. Tidak hanya itu, secepat kilat Kaesang Pangarep yang baru beberapa hari masuk ke dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kemudian menjadi ketua umumnya.
Baca juga: Idealisme Kampus Mencari Kebenaran Ilmiah dalam Pemilu 2024
Dapat dilihat seseorang yang lahir dari keluarga penguasa memiliki jalur cepat menuju kesuksesan tanpa harus menempuh jalan berliku. Sementara itu, si miskin hanya gigit jari. Boro-boro menjadi pejabat, justru sering terjadi mereka terus menjalani kemiskinan struktural yang tidak berujung.
Dalam perspektif Karl Marx, kondisi di atas mencerminkan eksploitasi dalam sistem kapitalisme. Kapitalisme menciptakan ketimpangan tajam di masyarakat. Di sistem ini terdapat kelas penguasa maupun pemilik modal besar (borjuis) yang menguasai sumber daya dan kelas pekerja (proletariat) serta terus mengeksploitasinya.
Kelas pekerja dipaksa bekerja keras demi keuntungan mereka yang sudah berada di puncak. Namun, peluang kelas pekerja mencapai puncak amat kecil, meski mereka bekerja melakukan sesuatu yang umumnya tidak merupakan bakat atau keinginannya. Akibatnya, banyak individu menjadi terasing karena realitas yang menindas berimbas sulitnya mengembangkan keahlian dan potensi diri.
Penguasa akan selalu berupaya mempertahankan sistem yang menguntungkan mereka. Pemikir asal Italia, Antonio Gramsci mencetuskan konsep hegemoni, yakni proses dari upaya penguasa menundukkan masyarakat.
Hegemoni kerap berlangsung dalam ranah-ranah kebudayaan. Melalui jalur media maupun pendidikan, penguasa menciptakan banyak narasi yang menjelaskan ketimpangan terlihat wajar dan tak terhindarkan. Narasi seperti “anak muda harus lebih gigih, bukan mengeluh” , dijadikan alat untuk membungkam protes terhadap ketimpangan sosial.
Akibatnya, seseorang yang mempertanyakan sistem dianggap hanya mencari alasan dan dinilai tidak gigih bekerja. Padahal, seseorang yang patuh mengikuti aturan sistem juga belum tentu bisa berhasil karena sistem tidak adil, terutama bagi mereka yang miskin.
Baca juga: Bisakah kita Lepas dari Hegemoni Politik Bahasa Orde Baru?
“Nae tasirani neo nongdamiji,” (Mengatakan bahwa itu adalah kesalahanku? Kau bercanda kan?).
Media pun kerap menyoroti segudang kenikmatan yang dirasakan penguasa. Dampaknya, ekspektasi masyarakat sangat tinggi untuk berada di puncak sosial. Masyarakat terpaksa mengejar standar kesuksesan yang ditentukan oleh kelas penguasa, meskipun jalan menuju ke sana penuh ketidakadilan. Lebih jauh, banyak individu tertekan jika keadaanya tidak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.
Di tengah praktik hegemoni yang berlangsung, Gramsci menekankan pentingnya kontra hegemoni dari rakyat yang tertindas. Artinya, harus ada upaya perlawanan dari masyarakat terhadap hegemoni dari penguasa.
Menggunakan kepopulerannya, BTS melawan hegemoni penguasa dengan membongkar mitos bahwa kesuksesan hanya bergantung pada kerja keras individu. Mereka menunjukkan bahwa ketidakadilan struktural menghambat mobilitas kelas. Dengan menyanyikan lagu ini, BTS menanamkan kesadaran perubahan hanya terjadi jika generasi muda menolak tunduk dan mulai mempertanyakan sistem yang ada.
Walaupun sulit untuk menghancurkan sistem yang lebih besar, BTS menuangkan harapan kepada generasi muda untuk dapat hidup di dunia yang lebih baik. Melalui lagu ini, BTS tidak hanya membongkar realitas sosial, tetapi mereka juga mengajak pendengar untuk mempertanyakan sistem yang ada dan mencari cara untuk mengubahnya.
Baepsae mungkin burung kecil dengan kaki pendek, tetapi jika cukup banyak dari burung itu sadar dan bersatu, mereka tidak perlu lagi mencoba mengejar bangau. Mereka akan menciptakan jalannya sendiri, mengguncang sistem, dan membangun dunia yang lebih adil.
“Rul bakkwo change change Hwangsaedeureun wonhae wonhae maintain,” (Ubah aturan, ubah-ubah, atasan menginginkannya, ingin mempertahankan).
Penulis: Hanum Alkhansaa R
Editor: Andreas Handy

