Besaran biaya penyediaan peralatan dan bahan untuk kegiatan praktikum yang cukup mahal masih menjadi beban bagi mahasiswa Fakultas Teknik. Wakil Dekan (WD) II berdalih hal itu adalah sesuatu yang wajar.

Di Fakultas Teknik Universitas Negeri Jakarta (FT UNJ), kegiatan praktikum sudah menjadi proses perkuliahan yang mesti ditempuh bagi mahasiswa. Mahasiswa FT dapat menjalankan kegiatan praktikum dua sampai tiga kali seminggu.

Sebagaimana yang dirasakan oleh Mahasiswa Program Studi (Prodi) Tata Rias, Shiera Najwa —bukan nama sebenarnya— mengaku dalam perkuliahan sering kali melakukan kegiatan praktikum. Sebab di FT, mahasiswanya lebih ditekankan memiliki keterampilan praktik, di samping mempelajari teori-teori pembelajaran.

Akan tetapi, kata Shiera, seringnya kegiatan praktikum menyebabkan pengeluaran biaya bertambah banyak. Sebab, dirinya perlu mengeluarkan biaya untuk membeli peralatan dan bahan-bahan penunjang praktikum. Baru ini saja, dirinya mengeluarkan biaya untuk proyek pagelaran —sebuah pameran tata rias— yang ditanggung oleh mahasiswa. Biayanya bisa mencapai lebih dari Rp1 juta.

“Kalau dari kelompokku, sekarang itu sudah menyentuh sejuta, masing masing patungan Rp200 ribu. Rp500 ribu untuk konsum, dan kira kira sisanya untuk properti proyek,” ucapnya saat diwawancarai Didaktika, pada Jumat (14/11).

Baca juga: Hilangnya Kemanusiaan Kala Soeharto Jadi Pahlawan

Bagi Shiera, tingginya biaya kebutuhan praktik membuat dirinya terbebani. Karena di samping biaya kuliah dan praktikum, ia juga harus memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi ongkos yang dikeluarkan untuk berangkat dari rumahnya ke kampus. Oleh karena itu, Shiera terpaksa bekerja untuk mendapatkan biaya tambahan.

Iklan

Lebih dari itu, selain mengeluarkan biaya untuk kegiatan perkuliahan dan biaya hidup, dirinya mesti menyisihkan secercah rupiah untuk membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT). Terlebih, UKT Shiera yang sebesar Rp6,2 juta membuat dirinya memiliki beban lebih secara ekonomi.

Selanjutnya, Shiera mengeluhkan besarnya biaya UKT tidak sebanding dengan fasilitas yang didapatkan. Baginya, fasilitas yang disediakan sangat tidak memadai dan tidak berfungsi dengan baik. Maka dari itu, ia dan mahasiswa lainnya acap kali membeli maupun membawa peralatan pribadi agar dapat mengikuti praktikum dengan baik.

“Kadang kan ada yang butuh air hangat atau air panas ya, tapi tuh kadang kadang heater nya gak berfungsi. Mungkin, kran air nya tuh rusak,” ungkapnya.

Setali tiga uang, Mahasiswa D4 Prodi Desain Mode angkatan 2024, Sifa Awdya mengeluhkan hal serupa. Dirinya mesti membeli mesin jahit seharga Rp2 – 3 juta untuk kebutuhan praktikum menjahit. 

Nyatanya, kata Sifa, pihak kampus hanya menyediakan mesin jahit industrial yang memiliki kecepatan tinggi. Walhasil, mahasiswa baru tidak dapat menggunakannya karena keterbatasan keahlian, dan harus membeli mesin jahit sendiri.

“Kami juga harus bikin tugas kan, membuat jahitan gitu,  karena ga bisa pake mesin jahit yang di kampus. Karena mesin jahit di kampus terlalu rumit, sehingga tidak diperkenankan digunakan bagi mahasiswa baru yang kurang mahir,” ujarnya.

Di samping itu, Sifa juga perlu membeli peralatan pendukung kegiatan praktikum. Misalnya bahan kain jahit, gunting, jarum pentul, dan peralatan lainnya. Bila dijumlah, biayanya dapat sebesar Rp500 ribu.

Sebagai mahasiswa rantau, Sifa merasa sangat terbebani dengan harga peralatan praktikum. Terlebih, ia harus menyiapkan biaya untuk membayar biaya kuliah sebesar Rp6 juta per semester. Di samping itu, ia memikirkan ihwal biaya kebutuhan sehari-hari yang membutuhkan pengeluaran besar. 

Ia berharap pihak FT dapat mengalokasikan dana dengan lebih efisien, dan diperuntukkan untuk mengembangkan fasilitas praktikum yang lebih memadai. Karena baginya, itu dapat  meringankan beban yang harus dipikul mahasiswa.

“Aku hanya berharap dana fakultas bisa dialokasikan lebih efisien. Soalnya itu bakal dipakai juga untuk kegiatan pembelajaran kita,” pungkasnya.

Iklan

Besarnya biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa di FT bukan hanya terjadi pada tahun ini saja. Merujuk artikel berita LPM Didaktika berjudul Mahal Biaya Penunjang Praktikum Fakultas Teknik, memuat keluhan mahasiswa tentang mahalnya biaya untuk keperluan praktikum pada 2023. 

Merujuk laporan berita di atas, diketahui besaran biaya yang dikeluarkan Mahasiswa Prodi Tata Boga saat itu bisa mencapai Rp1,1 juta. Sedangkan, Mahasiswi Produk Tata Rias dapat mengeluarkan biaya sekitar Rp1,2 juta untuk membeli peralatan dan bahan-bahan praktikum.

Dalam laporan berita yang sama, sebetulnya WD I FT pada saat itu, Pitoyo Yuliatmojo mengatakan seluruh kebutuhan praktik sudah seharusnya disediakan kampus. Sehingga pihak Prodi semestinya lebih selektif di dalam memetakan kegiatan praktikum yang memerlukan biaya. Tujuannya, supaya tidak ada lagi mahasiswa yang mengeluarkan biaya diluar UKT. 

Hal tersebut dikuatkan melalui Permendikbudristek Nomor 2/2024 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Perguruan Tinggi (SSBOPT). Sebagaimana tertuang dalam Pasal 1 ayat (4) yang menyatakan, seluruh biaya operasional perkuliahan per tahun sudah diakomodir melalui perhitungan Biaya Kuliah Tunggal (BKT). BKT merupakan perhitungan sebelum pihak Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menetapkan biaya UKT kepada mahasiswa.

Akan tetapi, WD II FT sekarang, Nur Riska menyatakan, biaya tambahan untuk kegiatan praktikum mahasiswa merupakan hal yang wajar. Sebab, besaran nominal golongan UKT UNJ tidak pernah naik.

Baca juga: Malapetaka Ketidaksesuaian Penggolongan UKT

Riska mengatakan, rata-rata penerima UKT berada di golongan tiga dan empat, tidak jauh berbeda dengan fakultas-fakultas lainnya. Selain itu, ia juga mengklaim, biaya UKT UNJ itu lebih murah dibandingkan dengan PT lainnya.

“Jadi bisa dibayangkan, dengan rata-rata UKT [golongan] tiga dan empat, dan memiliki 20 prodi. Apalagi prodi-prodi tersebut membutuhkan praktik dan tentunya membutuhkan alat dan bahan praktikum,” jelasnya saat diwawancarai secara daring oleh Didaktika, pada Jumat (6/12).

Selanjutnya, Riska berdalih, pihak FT sudah menyediakan beberapa keperluan untuk menunjang kegiatan praktikum mahasiswa. Misalnya menyediakan minyak, garam, tepung, dan bahan kering lainnya untuk Prodi Tata Boga. Oleh sebab itu, terbilang wajar baginya, mahasiswa menyediakan sendiri bahan-bahan basah atau keperluan praktikum yang bersifat individual lainnya.

“Menyiasati hal itu, biasanya mahasiswa mencari sponsor untuk menutupi biaya praktikum. Tujuannya agar mahasiswa tidak terlalu terbebani dengan biaya-biaya yang cukup besar,” tutupnya.

Reporter/Penulis: Kavi Ryegard dan Ramadhan Alderisyah

Editor: Lalu Adam Farhan Alwi