Kekerasan seksual masih menjadi momok yang menghantui masyarakat hari ini. Pelaku menggunakan kekuasaan untuk menjalankan aksi bejatnya.
Judul film: The Wonder
Sutradara: Sebastian Lelio
Tanggal Tayang: 2 September 2022
Durasi film: 1 jam 41 menit
Kekerasan seksual terhadap anak masih marak terjadi hingga hari ini. Jamaknya, pelaku merupakan orang paling dekat dengan korban, seperti guru dan orang tua. Apalagi, pelaku memiliki pengetahuan dan modal kuasa lebih yang membuat pelaku merasa dapat sewenang-wenang menjalankan tindak kekerasan seksual.
Ketimpangan modal antara pelaku dan korban menjadi salah satu faktor utama pelanggengan kekerasan seksual. Merujuk data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), pada tahun 2024 angka kasus kekerasan terhadap anak mencapai 11.952 orang, 58,6% merupakan kasus kekerasan seksual.
Dari banyaknya kasus, lingkungan berbasis keagamaan menjadi salah satu tempat kekerasan seksual terjadi. Pada tahun 2023, Kompas mewartakan seorang Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatul Al Kahf yang melakukan tindak kekerasan seksual terhadap beberapa santriwatinya.
Dalam melancarkan aksi bejatnya, pelaku kerap menggunakan kedudukannya untuk memanipulasi para gadis belia. Ia memperdaya korban dengan modus mujahadat (sungguh-sungguh menuntut ilmu). Kepada para korban, pelaku menyuruh untuk menyelesaikan setiap persoalan harus bermujahadat dengan cara bersenggama.
Dari kasus di atas, terdapat suatu relasi yang menyebabkan korban tunduk dan menuruti keinginan pelaku. Dalam hal ini, dogma agama justru melanggengkan nilai-nilai patriarkis dan menjadi alat pembenaran tindak kekerasan seksual di hadapan para korban.
Baca juga: May Day 2025: Melawan Kapitalisme dan Militerisme
Objektifikasi Perempuan dalam Pusaran Dogma Agama
Sebastian Lelio menyajikan dengan apik ihwal konstruksi objektifikasi perempuan di bawah pusaran dogma agama. Ia membedah hal itu dalam film The Wonder dengan latar tahun 1862. Mengisahkan seorang anak perempuan bernama Anna O’ Donnell di desa terpencil Irlandia yang dikatakan ajaib karena tidak makan setelah ulang tahun ke sebelas.
Saat berumur sembilan tahun, sang kakak melakukan tindak kekerasan seksual kepada Anna. Mengetahui hal itu, keluarganya justru menikahkan Anna dengan pelaku yang memerkosanya. Nahas, Anna turut disalahkan akan kematian sang kakak yang terjadi tidak lama setelah pernikahan paksa itu.
Untuk menebus dosa, Anna dipaksa melakukan puasa seumur hidup. Tidak sampai disitu, keluarganya memanfaatkan kondisi Anna sebagai ladang penghasil duit dengan mengatakan kondisi tersebut adalah sesuatu yang ajaib. Berita itu tersebar luas hingga memicu keramaian di desa.
Untuk memverifikasi situasi di desa, Lib Wright yang merupakan seorang perawat diutus oleh komunitas religius untuk meneliti kondisi Anna. Lib diutus bersama biarawati dari gereja setempat selama beberapa bulan untuk memberikan keterangan terkait kebenaran kondisi Anna kepada pemuka agama.
Saat penelitiannya, Lib turut serta dalam ibadah rutin keluarga Anna. Rutinitas Lib bersama keluarga Anna memantik rasa curiga Lib akan kondisi Anna. Pasalnya Ibu Anna seringkali mencium lama bibir sang anak, hal itu dilakukan setiap waktu makan. Kecurigaan Lib diperkuat oleh Anna yang selalu mengatakan ia mendapat keajaiban dari Tuhan untuk berpuasa.
“Aku diberi makan langsung dari bibir sang manna, Tuhan memberikan keajaiban ini padaku,” terang Anna.
Demi membenarkan kecurigaannya, Lib memutus kontak Anna dan keluarga dengan dalih penelitiannya mengharuskan Anna terbebas dari kontak fisik. Sebulan terlewati, Lib mengetahui bahwa yang dilakukan Anna merupakan bentuk penebusan dosa untuk kakaknya.
“Ini demi penebusan. Aku harus menolong kakakku dari siksa neraka, siksa neraka yang kekal,” jelas Anna.
Rasa bersalah yang dimiliki Anna membuat Lib geram. Seorang anak korban kekerasan seksual yang seharusnya mendapatkan pemulihan, justru menanggung beban psikologis berlebih dari keluarganya. Hal itu memantik Lib untuk menyelamatkan Anna dari jerat keluarganya.
“Kau tidak salah, Anna. Mari buat kehidupan baru, dimana kau masih berumur sembilan tahun dan tidak pernah mengalami kejadian buruk itu,” ucap Lib.
Ketakutan akan kehidupan di akhirat justru menjadi awan hitam yang menyesatkan pikiran kedua orang tua Anna. Orang tuanya menjadikan agama sebagai kontrol yang menjerumuskan ke penyelewengan nilai-nilai kemanusiaan.
Filsuf Perancis, Michel Foucault memandang fenomena di atas sebagai bentuk relasi kuasa. Relasi kuasa merupakan kesenjangan modal pengetahuan dan kekuasaan dari dua individu atau kelompok. Kesenjangan itu mengakibatkan pemaksaan nilai-nilai si pemilik kuasa. Akhirnya, kelompok yang tidak memiliki kuasa mengikuti nilai-nilai itu meskipun merugikan mereka.
Nilai pengetahuan lebih menciptakan sebuah kekuasaan yang menciptakan ketundukan akan peraturan dari pemilik kekuasaan. Ketundukan itu diinternalisasikan melalui dua unsur, relasi kuasa atas tubuh dan atas relasi kuasa atas pemikiran. Relasi kuasa atas tubuh terjadi ketika objek terikat akan pengetahuan dan budaya yang menciptakan tubuh tunduk akan aturan dari si pemilik kuasa.
Sialnya, relasi kuasa kerap diproduksi oleh lembaga-lembaga modern yang ada pada suatu negara. Lembaga-lembaga itu dapat berupa agama, budaya, dan pendidikan.
Dalam film The Wonder, Anna sebagai objek relasi kuasa, terikat atas pengetahuan dan budaya yang diterapkan oleh orang tua. Mereka menggunakan dogma agama untuk membentuk karakter Anna sebagai pribadi yang tunduk meski ia hampir mati karena kelaparan.
Baca juga: Perempuan dalam Gerakan Feminisme: Sebuah Usaha Dekonstruksi
Lebih jauh, konsep relasi kuasa digunakan untuk mempertahankan kekuasaan patriarkis dalam keluarga Anna. Orang tuanya menggunakan kekuasaan mereka untuk mempertahankan struktur sosial yang tidak adil, dimana anak diposisikan sebagai objek yang harus patuh.
Dengan demikian, kekerasan seksual bukanlah kejahatan individu semata. Tetapi manifestasi dari struktur sosial luas yang melanggengkan kekerasan terhadap perempuan melalui lembaga-lembaga modern dan kekuasaan. Maka, kita harus terus menciptakan kesadaran dan melawan semua bentuk penindasan kepada kaum puan.
Oleh sebabnya, Film The Wonder tidak hanya menggambarkan kekerasan seksual semata. Sebastian turut membedah struktur sosial yang memungkinkan kekerasan seksual terjadi. Ia menjadikan film sebagai alat untuk mentransmisikan pemikirannya mengenai akar permasalahan dari kekerasan seksual itu sendiri.
Penulis: Anna Abellina
Editor: Annisa Inayatullah

