Judul: I don’t wanna hate the world
Album: Sonic/Panik Vol. 3 IKLIM
Artist: Reality Club
Durasi: 3.32 menit
Tahun rilis: Oktober 2025
Look at the mess we’ve left behind
No more life, no more honey in the trees
Serpihan lirik dari lagu berjudul “I don’t wanna hate the world” karya grup band Reality Club di atas seolah meramal bencana alam yang terjadi saat ini di Pulau Sumatera. Lagu yang dirilis sebulan tepat sebelum musibah menimpa Sumatera ini menampilkan potret keserakahan manusia atas eksploitasi alam.
Bahala banjir bandang dan longsor melanda 52 kota dan kabupaten di tiga provinsi; Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara. Hampir seluruh fasilitas dan infrastruktur masyarakat remuk total dihantam gelombang. Keadaan diperparah dengan terputusnya banyak akses ke lokasi bencana. Jalan raya ringsek, jembatan terputus, serta internet dan listrik mati total. Situasi ini mempersulit masyarakat luar lokasi bencana untuk berkomunikasi dan memberi bantuan.
Akibatnya, mengutip data terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Kamis, (11/12) sebanyak 986 orang meninggal dunia, 224 orang masih hilang, dan hampir satu juta orang mengungsi. Tak hanya itu, para pengungsi di berbagai kota turut banyak terpapar penyakit kulit dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Lebih rinci, sebanyak 6.433 kasus penyakit kulit dan 5.151 kasus ISPA.
Baca juga: Hilangnya Kemanusiaan Kala Soeharto Jadi Pahlawan
Memantik tanda tanya besar, apa penyebab utama dari bencana Sumatera yang berdampak pada ratusan ribu korban ini? Reality Club menjawab dengan, look at the mess we’ve left behind.
Menurut catatan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi), sepanjang tahun 2016 – 2025, hutan di ketiga provinsi di atas telah mengalami deforestasi seluas 1,4 juta hektar. Area itu setara 21 kali wilayah provinsi DKI Jakarta.
Memang bencana alam adalah sebuah keniscayaan. Namun alam pula yang telah memberikan cara menekan dampaknya, yaitu dengan menjaga dan merawat hutan. Hutan dan pohon-pohon di dalamnya memiliki peran penting dalam ekosistem alam. Hutan memiliki fungsi menyerap air hujan, pelindung tanah dari erosi, penyedia air tanah, habitat keanekaragaman hayati, penghasil oksigen, dan penyerap karbon.
Fungsi tersebut tidak bisa tergantikan oleh perkebunan dengan jenis apapun. Termasuk oleh kebun kelapa sawit yang dibanggakan Presiden Prabowo Subianto. Dalam salah satu pidatonya, Prabowo menyebut masyarakat tidak perlu takut deforestasi karena ia menganggap perkebunan sawit berfungsi sama halnya dengan hutan.
Padahal secara fungsi dan jenis lahan, sawit sangat berbanding terbalik. Perkebunan sawit bersifat monokultur yang tidak bisa menjadi inang bagi keanekaragaman hayati. Selain itu, fungsi hidrologi yang dimiliki sawit cenderung sangat rendah sehingga tidak menyerap volume air secara efektif. Hal ini memperparah cepatnya erosi tanah dan memperbesar resiko banjir bandang.
Contoh nyata terjadi pada bencana banjir bandang di Sumatera saat ini. Walhi melaporkan sedikitnya terdapat aktivitas dari 631 hak guna usaha perkebunan sawit, perusahaan pemegang izin tambang, perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH), dan geothermal. Ratusan izin ini menunjukan bahwa alih-alih melindungi hutan, pemerintah justru melegitimasi lajunya deforestasi yang terjadi.
Ketimbang melihatnya sebagai biang keladi malapetaka, pemerintah justru semakin gencar mempromosikan produk sawit. Lagi-lagi orang nomor satu di Indonesia, Prabowo Subianto dalam pidatonya saat HUT Partai Golkar pada Jumat, (5/12) menyebut kelapa sawit sebagai karunia Tuhan yang wajib dijaga. Lebih lanjut, ia menekankan Indonesia harus segera mengembangkan teknologi agar mampu mengolah sendiri produk sawit menjadi minyak siap pakai.
Betapa ironis. Saat bencana akibat perluasan kebun sawit sedang melanda seperti sekarang, Prabowo masih sempat membanggakan komoditas tersebut. Pernyataan Prabowo di muka turut selaras pada bait lirik ‘Artificial intelligence, I don’t feel so intelligent. With all this exploitation and greed’.
Melalui penggalan lirik itu, Reality Club menggambarkan kondisi kemajuan teknologi justru menjadikan manusia semakin serakah dan eksploitatif. Dalam konteks di atas, ambisi Prabowo untuk memajukan teknologi pengolahan sawit berpotensi memperbesar ekspansi industri ini dan memperpanjang catatan deforestasi.
Siapa yang diuntungkan? Tentu dengan mudah kita menjawab para elite politik yang memiliki gurita bisnis kelapa sawit, termasuk Prabowo sendiri.
Baca juga: Antek Asing Teriak Antek Asing, Paradoks Rezim Komprador Prabowo
Max Weber menyebut pola pikir Prabowo sebagai rasionalitas instrumental. Yaitu saat paradigma seseorang hanya melihat suatu perkara melalui nilai untung-rugi semata. Prabowo hanya melihat hutan sebagai kawasan yang tidak bermanfaat secara materiil, dan sepatutnya diganti menjadi perkebunan sawit yang jelas menghasilkan pundi uang.
Teknologi pun tak ubahnya sebuah alat. Selagi manusia masih memiliki paradigma instrumental, mereka hanya akan melihat alam sebagai bahan mentah yang harus dikeruk habis demi meraih keuntungan. Paradigma ini mengaburkan nilai ekologis alam, menggantinya jadi nilai tukar semata.
Fenomena seperti kerusakan ekosistem, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim bisa terjadi kapan saja. Pada akhirnya, bait lirik ‘no more life, no more honey in the trees’ menjadi kenyataan. Akibat dari keserakahan manusia, semua kehidupan akan lenyap, dan tidak ada lagi madu yang menempel di dahan pohon.
Lagu yang masuk dalam kompilasi album terbaru Sonic/Panic Vol. 3 dari The Indonesian Climate Communications, Arts & Music Lab (IKLIM) ini memberikan warna baru bagi Reality Club. Jika sebelumnya kita disuguhi Reality Club kisah romantisme, pada lagu ini ada semangat amarah melawan eksploitasi alam yang turut disebarkan.
Penulis: Zidnan Nuuro
Editor: Ezra Hanif

