Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta menggelar aksi damai menolak brutalitas aparat, ditutup dengan pernyataan sikap sivitas akademika kampus.
Senin (1/9), puluhan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar aksi damai bertajuk “Dari UNJ untuk Indonesia” di halaman Plaza kampus Rawamangun. Aksi ini digelar sebagai respons atas gelombang kekerasan aparat terhadap massa demonstrasi pada Jumat (29/8) dan Sabtu (30/8).
Gelombang kekerasan tersebut dipicu oleh tewasnya Affan Kurniawan (21), seorang ojek daring yang terlindas mobil rantis Brigade Mobil (Brimob) pada Kamis (28/8). Peristiwa itu memicu kemarahan masyarakat dan mendorong aksi besar yang berakhir ricuh di Markas Korps Brimob, hingga aparat melakukan pembubaran secara represif.
Baca juga: Geruduk Markas Brimob, Massa Tuntut Keadilan Untuk Affan
Sebagai bentuk solidaritas dan penolakan atas tindakan represif tersebut, mahasiswa UNJ menggelar aksi simbolik di lingkungan kampus. Rangkaian aksi dibuka dengan orasi dan pembacaan puisi dari mahasiswa. Area aksi dipenuhi berbagai spanduk dan poster berisi kemarahan terhadap polisi, salah satunya bertuliskan “I Hate Every Cop in This Town”
Anggota Red Soldier, Yuliana Ayu, menilai brutalitas aparat kerap dibenarkan dengan narasi penanganan kerusuhan. Karena itu, menurutnya aksi simbolik ini menjadi bukti bahwa demonstrasi bisa berlangsung damai dan terorganisir
“Kita membuktikan aksi ini bisa berjalan dengan lancar, dengan damai, tanpa ada kerusuhan pembakaran di mana mana dan penjarahan,” ujarnya.
Menurut Ayu, aksi yang akhir-akhir ini terjadi didasarkan oleh rasa marah masyarakat. Sehingga, aksi yang dilakukan berujung pada kerusuhan. Hal tersebut dimanfaatkan untuk memecah masyarakat.
“Walaupun marah, harus ada tuntutan yang jelas untuk mendesak pemerintah. Kami (Mahasiswa UNJ), menggelar aksi damai ini dengan tetap membawa tuntutan,” tegas Ayu.
Anggota Green force, Rahman Hakim, menyatakan aksi damai ini merupakan bentuk solidaritas sebagai sesama teman perjuangan. Karena itu, Hakim menjelaskan dalam kegiatan ini, mereka juga mengajak pihak rektorat untuk menyampaikan pernyataan sikap atas kondisi Indonesia belakangan. Pernyataan tersebut, kata Hakim, disusun bersama-sama antara mahasiswa dan birokrat kampus.
“Pernyataan moral disusun secara bersama sebagai bentuk imbauan kepada aparat dan pemerintahan,” terangnya.
Adapun pernyataan sikap disampaikan oleh Rektor UNJ, Komaruddin. Pernyataan terdiri dari tujuh poin yang dinamakan sebagai “Seruan Moral Rawamangun”.
Pada pernyataan tersebut, Komaruddin membuka dengan ekspresi belasungkawa terhadap individu yang menjadi korban dari aksi demonstrasi. Lalu, Komaruddin menyinggung sikap penyampaian aspirasi mahasiswa yang harus diapresiasi dan dilindungi oleh hukum.
Lebih lanjut, pernyataan menekankan agar aparat bertindak sesuai kepentingan rakyat dan menahan diri dari kekerasan, serta mendorong masyarakat menjaga kondusifitas. Pernyataan ditutup dengan imbauan agar pemerintah membuka ruang dialog dengan mahasiswa dan elemen masyarakat lainnya.
Baca juga: Kelompok Politik Sayap Kanan Represif: Anak Rakus yang Lahir dari Rahim Negara Demokrasi
Sebagai penutup, Komaruddin menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa Indonesia saat ini. Ia pun berharap agar semua elemen masyarakat menghentikan segala tindakan yang merugikan bangsa dan meminta kampus untuk turut berpartisipasi.
“Ini saatnya kampus harus bersuara memperjuangkan kebenaran keadilan demi masa depan bangsa,” pungkasnya.
Penulis/Reporter : Khalda Syifa
Editor : Hanum Alkhansaa

