Para mahasiswa merasa komitmen UNJ terkait green campus berbanding terbalik dengan realita di lapangan. Sebab, mereka selalu nelangsa akibat terjangan banjir setiap tahun.
Pada akhir Desember 2025, UNJ meraih peringkat 81 nasional dalam pemeringkatan UI GreenMetric World University Rankings. UI GreenMetric menilai komitmen universitas mengenai green campus atau kampus hijau. Salah satu indikator pemeringkatan tersebut adalah konservasi air, yakni pengelolaan air secara berkelanjutan.
Sebelum pemeringkatan itu, UNJ telah bertekad mewujudkan green campus melalui konservasi air. Hal demikian tertulis dalam Surat Keputusan (SK) Rektor UNJ Nomor 1269 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengelolaan Kampus Sehat Ramah Lingkungan. Tertera di peraturan tersebut, upaya untuk melakukan konservasi air, seperti pembuatan pemanen air hujan, sumur resapan, dan biopori guna menyimpan air untuk dapat digunakan kemudian hari.
Baca juga: Mengajak BEM Universitas Belajar dari Sejarah untuk Bertindak Nyata!
Namun, jauh panggang dari api, UNJ belum secara optimal melakukan pengelolaan air hujan. Sebab dalam lima tahun terakhir, kampus bekas Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta ini kerap dilanda banjir, yang menandakan melimpah air hujan terbuang percuma. Lebih lagi, situasi berulang tersebut membawa banyak masalah bagi sivitas akademika UNJ.
Salah satunya dirasakan mahasiswa Prodi Pendidikan Teknik Bangunan 2024, Reinhart Jansen. Lelaki yang tergabung dalam unit kegiatan mahasiswa Batavia Team—organisasi yang bergerak dalam bidang otomotif—itu mengatakan, ketika banjir terjadi banyak peralatan untuk merakit mobil hanyut terbawa air.
“Batavia Team biasa menyimpan alat-alat dalam peti dari besi. Namun, genangan air merendam ruang sekretariat hingga berjam-jam sehingga peralatan hilang selepas banjir,” ungkapnya kepada Tim Didaktika pada Rabu (17/02).
Ia mengeluhkan kehilangan alat-alat itu menguras tenaga dan uang. Sebab, Jansen mengaku Batavia Team selalu kerja bakti untuk mencari peralatan yang hilang. Jika tidak ditemukan, mereka akan membeli barang baru dengan harga mahal. Terakhir dia mengingat kerugian lantaran banjir mencapai setengah juta rupiah.
Apalagi, Jansen melanjutkan, peti penyimpan barang menjadi berkarat karena terendam banjir setiap tahun. Padahal, peti tersebut selalu dibawa untuk berkompetisi dalam ajang internasional. Alhasil, anggota Batavia Team sering memperbaiki peti dan peralatan di dalamnya.
“Peti ini sangat dibutuhkan terutama ketika kami mengikuti ajang lomba merakit kendaraan di luar negeri. Jika dibiarkan berkarat takutnya akan rusak terkena air laut saat pengiriman menggunakan kapal,” keluhnya.
Tak berhenti sampai di sana, Jansen menjelaskan persiapan mengikuti lomba menjadi terganggu. Musababnya, beberapa kali uji coba kendaraan terkendala karena jalanan dilanda banjir. Dalam ingatannya, kondisi tersebut berlangsung selama hampir satu bulan. Mau tidak mau, ia bersama anggota Batavia Team lain bahu-membahu menyapu jalanan setelah banjir.
Meskipun demikian, Jansen mengatakan, genangan air tidak dapat hilang secara total. Hal tersebut berimbas pula kepada penurunan keakuratan data saat mereka mengukur kecepatan kendaraan. Jansen semakin gundah karena belakangan Batavia Team sedang mengembangkan mobil listrik. Ia berpendapat ketika jalanan banjir, mobil riskan rusak akibat terciprat air.
“Seharusnya jika tidak banjir, kita dapat mengambil data kecepatan mesin untuk persiapan kompetisi. Pun, dapat dengan aman menguji mobil listrik,” tuturnya.
Terkait pemeringkatan green campus, Jansen mengaku kurang mengetahui tentang hal tersebut. Kendati begitu, ia yakin semua mahasiswa merasa dirugikan akibat banjir. Oleh sebab itu, Jansen berharap masalah ini segera ditanggulangi.
Berbeda dengan Jansen, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah angkatan 2023, Shynta Kesya, mengaku mengetahui komitmen UNJ sebagai green campus. Namun, ia menilai kondisi banjir yang terus terjadi berbanding terbalik dengan klaim tersebut.
Lebih lanjut, Shynta mengatakan ia mengalami banjir di UNJ sejak menjadi mahasiswa baru. Menurutnya, banjir yang terus berulang menunjukkan minimnya upaya optimalisasi saluran air di lingkungan kampus selama tiga tahun terakhir.
Tambah Shynta, UNJ seharusnya mampu menyediakan lingkungan kampus yang layak sesuai standar green campus. Setidaknya hal tersebut dapat diwujudkan melalui optimalisasi saluran air dan penyediaan ruang terbuka hijau yang memadai.
“Katanya sudah resmi green campus, tapi kondisi lapangannya gak sejalan. Minimal selokan atau aliran airnya dibersihkan, dan penghijauan lebih diperbanyak supaya air bisa terserap,” tegasnya.
Untuk mengetahui sejauh mana komitmen UNJ sebagai green campus menangani banjir, LPM Didaktika mengadakan survei dengan total sampel 50 mahasiswa. Adapun metode pengumpulan sampel adalah random sampling. Responden diminta memberikan jawaban skala numerik satu sampai lima. Semakin tinggi nilai yang dipilih, maka narasumber kian mengiyakan pertanyaan dalam survei.
Dalam survei mengenai green campus di UNJ, rata-rata skor untuk indikator ruang terbuka hijau yang membantu penyerapan air hanya mencapai 2,32. Selain itu, skor untuk fasilitas pengelolaan air hujan adalah 2,20. Sementara itu, persepsi terhadap perubahan positif terkait banjir bernilai 2,46.
Tak jauh berbeda, keyakinan mahasiswa kepada konsistensi UNJ menjalankan green campus berada di angka 2,48, serta penilaian bahwa UNJ telah menerapkan green campus untuk pencegahan banjir hanya 2,56. Semuanya masuk dalam kategori rendah hingga cukup rendah.
Terkait kondisi banjir, sebanyak 92% mahasiswa pernah mengalami banjir, dengan 66% di antaranya merasa keadaan tersebut mengganggu hingga sangat mengganggu. Rata-rata frekuensi banjir mencapai 3,94 dari skor maksimal sebesar 5, menunjukkan banjir cenderung sering terjadi. Secara keseluruhan, mayoritas mahasiswa tidak merasakan perubahan positif terkait penanganan banjir melalui program green campus di UNJ.


Menanggapi hal tersebut, Wakil Rektor II Bidang Keuangan dan Sumber Daya, Ari Saptono menjelaskan, bahwa kondisi geografis kampus menjadi salah satu faktor utama kesulitan penanganan banjir di UNJ. Meski begitu, UNJ bersama Pemerintah Kota Jakarta Timur telah berupaya melakukan pencegahan banjir dengan membangun delapan sumur resapan di area kampus.
“Posisi UNJ itu berada di cekungan. Jadi untuk sistem drainase memang cukup sulit. Sumur resapan itu sudah membantu mengurangi debit air yang masuk ke kampus,” jelasnya pada Jumat (13/03)
Namun, Ari mengakui efektivitas saluran air masih terbatas karena air yang masuk ke dalam sumur resapan tidak hanya berasal dari hujan, tetapi juga dari air tanah. Kondisi tersebut menyebabkan daya tampung air cepat penuh dan memicu terjadinya sedimentasi lumpur.
“Walaupun masing-masing kapasitas saluran air 15.000 Liter, kalau diisi air terus dari berbagai sumber ya terus-terusan penuh. Jadi, penampungannya enggak maksimal,” katanya.
Selain itu, Ari mengakui pemeliharaan sumur resapan dan drainase belum berjalan optimal sejak dibangun. Idealnya, pemeliharaan sumur resapan seharusnya dilakukan tiga kali setahun.
Ari mengatakan, ke depan pihak kampus berencana melakukan pemeliharaan secara berkala sebanyak dua kali setahun. Lanjutnya, hal itu termasuk pembersihan sedimentasi lumpur yang dinilai menjadi salah satu penyebab berkurangnya daya resap air.
“Terlalu banyak kalau tiga kali, menurut saya dua kali pun sudah cukup. Kalau terlalu banyak mahal juga, satu sumur resapan saja Rp2 juta, sedangkan kita punya delapan,” ujarnya.
Mengenai standar green campus, Ari menyebut, UNJ memenuhinya dalam aspek lain seperti kampus hemat energi dan pengolahan sampah zero waste. Lanjutnya, ruang terbuka hijau UNJ bertambah dengan kemunculan ruang terbuka bersusun sebagaimana terdapat di berbagai gedung Saudi Fund for Development (SFD).
“Saat ini, kita sudah memenuhi standar dengan poin-poin tadi. Untuk banjir, kontur tanahnya memang tidak bisa diubah, jadi penanganannya bertahap dan terus diupayakan,” tutupnya.
Menanggapi hal tersebut, peneliti lingkungan, Prima Yustitia tidak memungkiri lokasi UNJ yang berada di tengah kota turut menjadi penyebab banjir. Namun, ia berpendapat masalah juga terletak dalam drainase dan struktur selokan. Bagi dosen Pendidikan Sosiologi UNJ ini, banjir menahun dalam suatu wilayah umumnya dipengaruhi oleh keadaan drainase yang bermasalah.
Menurut Prima, drainase UNJ sekarang merupakan warisan sejak lama. Dengan kata lain, belum ada perbaikan signifikan terkait drainase kampus. Meski begitu, ia merasa diperlukan kajian lebih lanjut untuk memahami drainase di UNJ.
“Perlu banyak penelitian untuk mengatasi persoalan ini. Sebab, ini sudah menjadi banjir tahunan,” ucapnya kepada Tim Didaktika, Kamis (26/03).
Tambah lagi, Prima mendorong pengelolaan sumber daya air di UNJ dapat dikelola lebih baik. Prima mencontohkan kampus yang lebih luas semestinya terdapat wadah besar pemanen air hujan. Fungsinya sebagai penadah dan sulingan air ketika hujan tiba. Di perkotaan dengan lahan sempit, lanjutnya, wadah pemanen air hujan bisa diletakan pada area atas gedung.
Prima menilai wadah pemanen hujan mengandung prinsip keberlanjutan dan selaras dengan komitmen green campus UNJ, seperti konservasi air. Sebab, setelah tertampung, air hujan akan otomatis disuling oleh wadah pemanen hujan, sehingga dapat dipergunakan sebagai air bersih non-konsumsi.
Menurutnya, wadah pemanen hujan tidak hanya menjadi penadah ketika musim hujan datang. Ketika musim kemarau, teknologi tersebut bisa mengalirkan air ke area yang terdampak kekeringan. Prima menyebut inilah yang dinamakan sirkulasi air.
“Ini bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengoptimalkan sumber daya air. Hasil dari penyulingan bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman, membersihkan toilet atau bisa didaur ulang,” jelasnya.
Baca juga: Sekam Api World Class University
Kendati demikian, Prima mengatakan UNJ memerlukan biaya besar. Jika ingin melakukan sirkulasi sampai ke air siap minum. Meskipun, konservasi air sampai menjadi air siap minum ini menjadi salah satu indikator komitmen UNJ mengenai green campus.
Ia mengaku, komitmen green campus dapat terwujud dengan mengintegrasikan kebijakan level kampus, seperti SK Rektor UNJ Nomor 1269 Tahun 2020 tentang Pedoman Pengelolaan Kampus Sehat Ramah Lingkungan dengan implementasi di lapangan. Dengan begitu, Prima melanjutkan, UNJ dapat memberikan manfaat terhadap lingkungan sekitar.
“Dibutuhkan kemauan kuat dari pihak UNJ untuk menerapkan green campus. Namun, perlu diakui UNJ masih memiliki keterbatasan dana untuk mengembangkan teknologi ramah lingkungan yang membantu meningkatkan peringkat di UI Green Metric,” pungkasnya.
Reporter/penulis: Annisa Inayatullah dan Hanum Alkhansaa
Editor: Andreas Handy

