Penggunaan ChatGPT marak terjadi di kalangan mahasiswa. Dosen dituntut untuk lebih kreatif dalam pembelajaran dan penugasan.

Penggunaan ChatGPT sedang marak terjadi di dunia pendidikan hari ini, salah satunya di Perguruan Tinggi. Banyak mahasiswa menggunakan ChatGPT dengan dalih mempermudah saat mengerjakan tugas karena dapat memberikan jawaban secara praktis dan cepat. Seperti yang terjadi di Universitas Negeri Jakarta, LPM Didaktika melakukan survei terkait penggunaan ChatGPT di kalangan mahasiswa.

Dikutip dari data survei tersebut, melingkupi total responden sebanyak 200 mahasiswa. Sebanyak 65 persen mahasiswa menyatakan pernah menggunakan ChatGPT, dan 85 persen menyatakan terbantu dengan pemakaian ChatGPT. 

Salah satu mahasiswa Prodi Sastra Indonesia, Darryl Anandaputra, mengungkapkan alasannya menggunakan ChatGPT. Diantaranya karena deadline pengumpulan tugas yang relatif singkat, hal tersebut mendesaknya untuk menggunakan ChatGPT karena sulit mengalokasikan waktunya.

“Alasan saya pakai ChatGPT ya karena praktis, dan relatif singkat pengerjaannya. Jadi mempersingkat waktu pengerjaan, karena biasanya kan ada tugas yang deadlinenya mepet.” ungkap Darryl Minggu (21/5).

Selain itu, Darryl juga mengatakan bahwa pembelajaran yang diberikan dosen tidak cukup memuaskan. Menurutnya penugasan dan pengajaran yang diberikan dosen di Prodinya kurang bervariasi dan cenderung monoton. Seperti penugasan yang hanya membuat artikel, makalah, dan presentasi secara terus menerus tanpa diberikan penjelasan materi oleh dosen.

Iklan

“Masih banyak dosen yang monoton penugasannya, seakan-akan gak ada inovasi untuk tugas yang lebih bervariasi,” ucap Darryl.

Melihat fenomena tersebut, Dosen Prodi Sosiologi, Rakhmat Hidayat khawatir pola penggunaan ChatGPT tersebut membuat mahasiswa seamakin malas, dan kehilangan mekanisme berpikir kritis. Kemudahan akses yang ditawarkan ChatGPT membuat mahasiswa lebih memilih jalan instan.

“Seharusnya mahasiswa mengerjakan sesuai dengan kemampuannya, dan tidak menggunakan cara-cara instan yang dapat mencoreng kultur akademik,” ujar Rakhmat.

Menurut Rakhmat, proses pembelajaran harus dikedepankan untuk mengembangkan pemikiran kritis pada mahasiswa. Entah proses melatih kemampuan maupun proses dalam kepenulisan.

Semisal, sebagai seorang pengajar ilmu sosial, Rakhmat sangat tidak menghendaki kelakuan serba instan dan cepat. Rakhmat mengungkapkan, proses berpikir itu akan menghasilkan sesuatu yang otentik, serta memberikan pengalaman bagi mahasiswa maupun dosen.

“Kalaupun hasilnya tidak bagus, tapi dengan proses yang dilakukan, itu saya hargai. Daripada dia hasilnya bagus tapi dengan menggunakan cara instan seperti ChatGPT menurut saya itu ironis,” ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa Merasa Terbantu dengan ChatGPT

Dosen Harus Lebih Kreatif

Penggunaan ChatGPT memberikan banyak manfaat termasuk peningkatan keterlibatan mahasiswa dalam perkuliahan, dan keluasan aksesibilitas alternatif sumber belajar. Koordinator Pusat Sumber Belajar (PSB), Cecep Kusstandi, berpendapat teknologi ChatGPT dapat berkembang di perguruan tinggi. Namun para akademisi harus bisa menyiasati saat memanfaatkan penggunaan ChatGPT dalam proses pembelajaran.

“Bagi saya ChatGPT itu boleh saja berkembang, tapi kita harus pintar mensiasatinya dan dosen harus lebih kreatif,” ungkap Cecep.

Iklan

Untuk bisa beriringan dengan kemajuan teknologi, dosen harus lebih kreatif dalam proses pembelajaran. Menurut Cecep, dosen harus memikirkan alternatif dalam proses pembelajaran yang bisa membuat budaya akademik di perguruan tinggi dapat beriringan dengan pemanfaatan  teknologi seperti ChatGPT. Misalnya, dosen bisa memberikan pengajaran yang lebih variatif kepada mahasiswa, dengan menggabungkan proses pengajaran yang memanfaatkan kemajuan teknologi. 

Cecep melihat, ChatGPT hanya sebagai penunjang pembelajaran saja. Ia tidak membedakan teknologi tersebut dengan Wikipedia maupun Google. Seharusnya pemakaian ChatGPT tidak perlu dipermasalahkan, asal penggunaannya bisa diiringi dengan proses pembelajaran yang diberikan oleh dosen. 

“Sebagai yang memanfaatkan teknologi, saya akan meminta mahasiswa untuk melakukan apersepsi menggunakan ChatGPT sebelum proses pembelajaran berlangsung, sehingga saat pembelajaran berlangsung mahasiswa dan dosen bisa aktif berdiskusi,” ungkapnya.

Selain itu dosen bisa memberikan pola-pola tugas yang pengerjaannya tidak bisa dilakukan dengan ChatGPT. Seperti meminta mahasiwa untuk menganalisis artikel, atau analisis video terkait pembelajaran. Dengan itu mahasiswa bisa berpikir kritis, dan dapat memecahkan sebuah permasalahan.

“Agar ChatGPT tidak terpakai, dosen harus memberikan pola-pola penugasan yang mengharuskan mahasiswa menggunakan kemampuan berpikirnya,” pungkasnya.

 

Penulis/ Reporter: Anna Abellina Matulessy

Editor: Izam Komaruzaman