Judul Lagu: Perfect

Album: No Pads, No Helmets … Just Balls

Penyanyi: Simple Plan

Durasi Lagu: 4:37

Rilis: 26 Agustus 2003

 

Iklan

Hey, dad, look at me

Think back and talk to me

Did I grow up according to plan?

Penggalan lirik di atas diambil dari lagu Perfect yang dipopulerkan oleh grup musik Kanada bernama Simple Plan. Terinspirasi dari kisah asli sang drummer, Chuck, lagu ini menceritakan tentang perasaan frustasi anak yang tidak bisa sempurna di kacamata orang tuanya karena memilih berkarier di bidang musik ketimbang menjadi dokter gigi.

Dengan fokus pada hubungan ayah–anak, Simple Plan mencoba menyoroti situasi anak yang tidak terpenuhi kebutuhan afeksinya. Merujuk dari Narasi, anak yang kekurangan kasih sayang orang tua cenderung berisiko alami masalah akademik dan berperilaku buruk.

Anak seharusnya diberi perhatian dan didampingi, bukan malah dijadikan robot yang patuh demi mencapai keinginan sepihak orang tuanya. Bukannya mendapatkan dukungan yang didambakan, si ayah justru kerap menolak dan berbeda pandangan soal pilihan hidup anaknya.

Perbedaan pandangan ini bukan sekadar soal selera atau keputusan kecil, tetapi menyentuh inti kehidupan anak, membuatnya merasa dirinya salah sejak awal. Saat seorang ayah memandang keputusan anak sebagai sesuatu yang “tidak berguna”, luka yang muncul bukanlah luka kecil.

Kegelisahan anak itu terpampang jelas dalam lirik, I just wanna make you proud, I’m never gonna be good enough for you. Sebuah pengakuan jujur tentang betapa jauhnya anak dari sosok imajiner yang ayahnya harapkan, akibatnya ia tidak pernah merasa cukup.

Baca juga: Merenungi Bencana Ekologis Sumatera Lewat Lagu Reality Club

Ayah yang seharusnya menjadi tempat berpulang justru hadir sebagai sumber tuntutan dan penilaian yang menyakitkan. Ketika dukungan dan empati absen, inilah salah satu bentuk fatherless. Sekalipun masih tinggal bersama, kehadirannya terasa hampa.

Iklan

I try not to think about the pain I feel inside

Did you know you used to be my hero?

Anak menyadari ikatan dengan sang ayah hampir mustahil diperbaiki hanya dengan usaha satu pihak. Tidak ada empati, tidak ada upaya memahami, bahkan sekadar mendengarkan pun tidak. Hal ini membuat rasa keterasingan semakin dalam.

Puncak keputusasaan anak terlihat dalam lirik And nothing’s gonna make this right again. Upaya keras untuk memenuhi harapan tetap berujung pada perasaan tidak pernah cukup. Pada akhirnya, kesadaran muncul bahwa apapun yang dilakukan tidak akan mengubah keadaan.

Kehadiran ayah kerap dibersamai dengan ekspektasi kaku yang menitikberatkan hasil dan pencapaian. Standar kesuksesan sempit yang diberikan membuat relasi ayah–anak terasa menekan. Di titik inilah jarak emosional dapat terbentuk, meski niatnya berangkat dari kepedulian.

Sebanyak 15,9 juta anak berpotensi tumbuh tanpa pengasuhan ayah atau fatherless. Angka ini berarti terdapat sekitar satu dari lima anak di Indonesia tidak memiliki figur ayah, baik secara fisik ataupun emosional, yang berdampak pada perkembangan anak.

Faktor yang melatarbelakangi kondisi itu pun beragam. Ada yang karena sibuk bekerja, sudah bercerai dengan istrinya, atau tidak tinggal satu atap bersama anak. Minimnya keterlibatan ayah dapat memengaruhi perkembangan emosional, kepercayaan diri, serta kemampuan sosial anak dalam jangka panjang.

Baca juga: BTS dalam Lagu Baepsae: Kontra Hegemoni Melawan Ketimpangan Sosial

Untuk mengatasi hal tersebut, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) melalui Surat Edaran Nomor 14 Tahun 2025 membuat Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang dimulai awal bulan Desember. Harapannya supaya ayah ikut serta dalam pendidikan dan pengasuhan anak.

Program GEMAR dinilai dapat mengurangi isu anak tanpa figur ayah dengan memberi kesempatan bagi para ayah untuk terlibat langsung dalam perkembangan pendidikan anak. Namun, program ini sekaligus berpotensi menimbulkan masalah baru, karena cenderung mengedepankan narasi tentang keluarga ideal.

Kebijakan itu menjadi kurang adaptif terhadap realitas sosial di Indonesia dengan beragam kondisi keluarga. Selain itu, kebijakan ini juga berpotensi menimbulkan risiko psikologis bagi ayah yang merasa “gagal” saat tidak bisa terlibat karena harus bekerja.

Diketahui sebelum GEMAR, Mendukbangga sudah lebih dulu meluncurkan Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) pada bulan April yang fokusnya untuk penguatan peran ayah dalam keluarga guna mencegah fenomena fatherless. Sasarannya pun lebih luas, tidak hanya para ayah yang sudah memiliki anak, tapi juga calon ayah dan remaja laki-laki.

Kendati terlihat bagus secara konsep, nyatanya GATI belum sepenuhnya menyentuh akar permasalahan struktural. Jika program hanya sebatas sosialisasi, hambatan yang lebih dalam seperti tidak adanya cuti ayah (di luar kondisi khusus) belum terselesaikan. Hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait keberlanjutan program.

GEMAR dan GATI merupakan upaya negara merespons isu fatherless, namun keduanya masih cenderung menawarkan solusi jangka pendek. Program-program ini belum sepenuhnya menyentuh akar persoalan yang bersifat struktural.

Alih-alih berhenti pada program simbolik, pemerintah perlu melengkapinya dengan kebijakan pendukung jangka panjang untuk membangun kesiapan laki-laki sebelum menjadi ayah. Dengan begitu, relasi ayah–anak dapat dipahami sebagai persoalan sistemik, bukan semata tanggung jawab individu.

Meski lahir dari pengalaman personal sang drummer, Perfect tidak berhenti sebagai kisah individual. Lagu ini justru menjadi cermin bagi banyak anak yang tumbuh dengan beban ekspektasi orang tua, terutama ayah.

Standar hidup yang ditentukan sepihak kerap membuat anak kehilangan tempat untuk menjadi dirinya sendiri. Kasih sayang harus “dibayar” dengan pencapaian, dan penerimaan hanya datang jika mampu memenuhi keinginan yang bukan pilihannya.

Lagu Perfect merepresentasikan pengalaman banyak anak yang tumbuh dengan tuntutan tinggi tanpa mendapatkan dukungan emosional yang memadai. Lagu ini menegaskan bahwa kehadiran orang tua bukan hanya soal keberadaan fisik, melainkan juga empati, dukungan, dan pengertian.

Penulis: Safira Irawati
Editor: Hanum Alkhansaa