Rambua Kapuas, tahun 1997
Pagi menjadi awal mula roda aktivitas kehidupan berjalan. Anak-anak berlari menuju sekolah dengan seragam yang belum sepenuhnya kering. Di tikungan dekat sungai, ibu-ibu menjemur kain dan kerajinan rotan. Para penopang punggung berjalan cepat ke arah bangunan panjang beratap seng di ujung desa, tempat di mana tangan-tangan mereka bekerja sampai matahari tak menampakkan sinarnya.
Pagi berikutnya—malalipur orang desa kami. Rambua Kapuas, sebuah desa di dataran tinggi yang dikelilingi pepohonan besar. Aktivitas hari itu seolah dibekukan waktu. Pergi ke mana semua orang? Terutama orang tua kami. Gelisah hati mendorong nekat. Kami diminta untuk berhati-hati.
Rambua Kapuas, tahun 1997
Anak-anak berlari menuju sekolah dengan semangat. Ibu-ibu mereka menjemur anyaman rotan atau menuju ke pasar, dan para penopang punggung berjalan cepat ke arah bangunan panjang beratap seng, tempat di mana tangan-tangan mereka bekerja sampai matahari terbenam.
Tidak ada yang benar-benar berubah di Rambu Kapuas. Hanya kesibukan pasar yang ramai disertai bunyi mesin pabrik yang menopang hidup hampir seluruh warga. Pabrik itu sudah lama ada. Dengungnya seperti napas. Kadang pelan, kadang meninggi. Orang-orang bilang itu tanda kemajuan.
Delfian manut, dirinya percaya.
Dua tahun lalu, ia sempat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, menulis huruf-huruf tegak bersambung dengan tekun. Ia hafal sedikit lagu dan tahu nama-nama pulau besar yang tak pernah terbayangkan aslinya. Namun setelah caturwulan berjalan, bangkunya berakhir digantikan orang lain.
Sekarang bangkunya adalah peti kayu di toko loak milik orang tuanya.
Ia memilah botol plastik, memungut besi tua, dan menimbang kardus. Tangannya kecil, tapi sudah tahu mana yang laku dan mana yang tidak.
Siang harinya, Delfian pulang untuk beristirahat. Termenung duduk di depan toko, melihat anak-anak seusianya pulang sekolah.
Mereka membawa cerita tentang serunya pelajaran olahraga yang berakhir dengan permainan adu benteng.
“Boleh dicoba nih,” ucap Delfian.
Rambua Kapuas, sore hari
“Ayo gak usah nunggu Rama, kita gak jadi main nih?” tanya Bima menggendong bola di tangannya.
“Sabar Bim!” sahut Ditra memungut sawo di halaman itu.
“Hah … Iya,” Bima menghela napas. Bosan.
“Oh iya, Del, kan kamu sudah kerja,” ujar salah satu dari mereka.
“Kamu ngerasa bebas, gak?”
Delfian menaikkan alisnya, apa maksudnya?
“Bebas dari sekolah, bosan di sekolah tau,” lanjut Bima.
“Iya bebas karena gak mengerjakan tugas setiap hari, tapi gak enak juga. Kata kakakku kamu diperalat, orang tuamu kan—” Armu tiba-tiba menimpali lalu dengan cepat perkataannya dihentikan Bima, bukan ini yang Bima maksud.
Diperalat.
Delfian tidak tahu pasti apa makna kata itu, tapi rasanya seperti kain basah yang dipelintir.
Benar memang, dirinya memiliki ayah yang temperamen dan suka memintanya pergi memulung. Tetapi, Delfian selalu teringat kulit tangan ayahnya yang memerah setiap pulang dari pabrik. Juga teringat ibunya yang tetap merajut sampai lampu mulai redup. Delfian tidak merasa diperalat, hanya saja mereka butuh dirinya.
“Kalau aku diperalat,” katanya pelan, “siapa yang memperalat mereka ya?”
Teman-temannya saling pandang, hening.
“Eh, orang tua kan memang bekerja keras untuk anaknya, itu tanggung jawab bukan karena diperalat siapa-siapa,” Armu menjawab kikuk, ia salah sudah menimpali.
Delfian tersenyum puas.
“Ya sudah, ayo ajari aku gimana cara main bentengan,” pintanya lalu dibalas anggukan teman-temannya.
Pada sore itu mereka bermain adu benteng bersama-sama.
Saat perjalanan pulang, Delfian menjadi berpikir, apa benar memang ada yang memperalatnya selama ini? Dari kejauhan, dirinya menatap ke arah pabrik yang sekilas seperti menara logam besar. Di sanalah ayahnya bekerja. Bunyi mesin selalu terdengar seperti detak jantung yang terlalu cepat.
Malam itu, dengung mesin terdengar lebih berat.
Delfian terbangun karena getar halus di lantai kayu rumahnya. Ia mengira hanya angin atau truk pengangkut hasil anyaman seperti biasa. Ia pun kembali tidur.
Rambu Kapuas, malalipur
Pagi datang tanpa suara ayam berkokok.
Aneh. Apa karena memang tidak terdengar karena pulas? Dia bangun kesiangan.
Delfian memanggil ibunya. Tidak ada jawaban. Dapur menjadi dingin dan air belum dipanaskan. Ia mengecek keluar dan ternyata anak-anak sebayanya juga sudah berdiri kelimpungan di jalan. Wajah mereka seperti kaca yang kehilangan pantulan. Firasatnya buruk. Delfian segera menghampiri mereka.
“Kalian ngapain? Kalian gak sekolah?” tanyanya.
“Sekolah? Kamu pikir apa Del, orang tuamu ada?” Lina, anak perempuan itu berwajah cemas.
“Di rumahku … Ibu bapakku pergi, gak mungkin karena semalam berantem,” terang yang lain, berpikir.
“Pergi ke mana?” tanya Delfian.
“Delfian!” Beberapa anak lari terengah-engah, sudah pasti teman-temannya, Bima, Armu, Rama, dan Ditra.
“Orang tuamu ada di rumah gak, Del? Kalian juga?” tanya Armu kepada semuanya. Semua berbincang dan panik mengonfirmasi keadaan orang tua mereka yang hilang.
Delfian mulai menyadari suatu kejanggalan di mana orang-orang dewasa tidak ada. Tidak ada yang tahu sejak kapan tepatnya mereka pergi.
“Semuanya, ayo kita periksa tempat yang lain,” ajak Delfian, ia masih berpikir mungkin di kawasan mereka saja.
Hari pertama malalipur itu, terasa seperti permainan sembunyi-sembunyi. Mereka bertujuh, tidak—gerombolan anak itu terus bertambah dan berjalan di keheningan, mencari seseorang yang bisa memimpin dan mengarahkan mereka.
Berjam-jam kemudian, akhirnya mereka bertemu dengan seseorang paling tua di antara mereka. Kak Hera. Usianya sekitar 16 tahun.
“Semuanya tenang ya, gak apa-apa, aku juga ke sini mencari kalian,” Kak Hera berucap, dia menenangkan anak-anak.
Kak Hera pun menuntun mereka berjalan menuju sebuah tempat di mana para militer tinggal. Namun saat ini, tempat itu nyaris tak berpenghuni. Mungkin mereka sedang rapat, pikir sebagian anak. Namun, setelah berlama di situ, tempat itu memang kosong, di sanalah mereka menjadikan tempat berlindung.
“Arya, semuanya sudah aman,” lapor Hera kepada lelaki yang sedikit lebih tua dari usianya, mungkin sekitar 17 tahun. Ternyata Kak Hera masih memiliki teman sebaya.
“Ya Hera, terima kasih dan beristirahatlah, nanti kita bergerak lagi,” balasnya, namun tanpa sengaja mata Arya melihat ke mata salah seorang anak yang mirip dengan temannya dulu. Karena teringat, dia segera mengumumkan.
“Semuanya berhati-hati, jangan nekat apalagi berpikir buat keluar,” Arya kemudian pergi mengurus gudang pangan. Anak-anak pun dibubarkan dan menuju ruang istirahatnya masing-masing.
Kemudian, di selasar kamar barak militer, Delfian hanya terdiam melihat senja turun tanpa satu pun bayangan kembali. Warung tidak ada yang buka. Pasar hanya menyisakan ramainya titik lampu kios. Mesin pabrik tetap berdengung pelan, walau tidak terlihat ada yang menjalankannya.
Delfian mulai menyadari bahwa mereka tidak pernah benar-benar tahu bagaimana desa itu berjalan.
Akhirnya dia memutuskan kabur, ia berjalan berpatokan pantulan sinar bulan di menara logam itu. Dia berupaya mengecek ke pabrik, siapa tahu ia menemukan jejak orang tuanya. Dan ketika memasuki pabrik, banyak kertas-kertas berserak seperti daun gugur. Ada lembaran dengan cap resmi, angka-angka panjang, dan beberapa kata yang bisa ia baca.
Ia hanya mengenali beberapa kata: target, produksi, dan kewajiban.
Di sudut meja, terdapat daftar nama. Ia membaca pelan. Nama ayahnya tertera di sana. Begitupun dengan ayah Bima, Ditra, Armu, dan anak-anak lainnya. Itu semua nama ayah mereka.
“Di mana ibu?” matanya fokus mencari nama ibunya. Ia berpikir mungkin di daftar lain.
Namun, tanpa sengaja matanya tertuju pada nama tempat yang terdengar asing, Everlight Industries. Dia tidak bisa membacanya dengan benar.
Sebelum kembali ke barak. Ia mencoba menaiki menara di samping pabrik. Dari situ, dirinya bisa melihat pemandangan malam yang sunyi dan hanya tampak beberapa sinar dari sana, beberapa rumah, sekolah, barak, dan cahaya lebih terang dari biasanya. Sepertinya ada bangunan baru berdiri di sana. Tinggi. Berpagar tinggi.
Delfian memejamkan mata, ia memfokuskan ke titik suara. Dengung mesin yang ia kira selama ini dari pabrik, ternyata masih terdengar beberapa jarak. Saat membuka mata, ia melihat sumber dengung itu.
“Besok pagi, kutunjukkan ke yang lain,” gumamnya.
Pagi buta, mereka berlima sudah berjalan menaiki bukit. Saat berada di atas, pagar tinggi itu akhirnya dihadapan mereka.
“Ini tempat apa, ya?” Tanya Bima sambil menelusuri batas ujung pagar itu.
“Kayaknya masih jauh, coba cari pagar yang ada celahnya,” saran Ditra yang kemudian diangguki lainnya.
Melalui celah pagar, Delfian bersama teman-temannya menyaksikan barisan orang duduk berjajar. Tangan-tangan bergerak cepat. Rotan diraut. Benang ditarik. Anyaman ditumpuk.
Wajah-wajah yang ia kenal ada di sana.
“Eh itu ayahku,” Armu melotot tak percaya.
Ayahnya duduk dengan punggung lebih membungkuk dari biasanya. Ibunya menunduk, jari-jarinya tetap lincah, tapi gerakannya seperti tidak pernah selesai.
Tidak ada jam di dinding. Tidak ada jendela terbuka. Hanya cahaya putih dan suara mesin.
Rama menjatuhkan lututnya, bersiap memberontak memanggil ayahnya yang baru saja lewat. Tetapi Delfian dengan cepat menahannya. Ini bukanlah cara yang tepat. Mereka tidak tahu apa yang terjadi jika mereka nekat.
“Kenapa mereka gak mau pulang?” renung Bima, tidak percaya apa yang ia lihat.
Delfian memandangi pagar tinggi itu dengan dingin. “Karena mungkin … pulang bukan lagi pilihan. Mereka diperalat,” tukasnya.
Delfian menyebut kata itu lagi—diperalat.
Desa Rambu Kapuas tetap terlihat normal bagi siapa pun yang lewat. Jalan tetap ada. Rumah tetap berdiri. Langit tetap biru.
Hanya saja, anak-anak kini tahu bahwa sesuatu yang tidak terlihat bisa lebih kuat daripada yang tampak.
“Kita harus belajar lagi,” Delfian tiba-tiba berdiri, menyudahi kegiatannya. Ia seperti paham maksud peringatan Arya.
Sementara teman-temannya masih terdiam, memproses situasi tersebut.
“Belajar kenapa mesin itu tidak pernah tidur.”
Teman-temannya tidak sepenuhnya mengerti. Tetapi untuk pertama kalinya, mereka sadar bahwa ada pertanyaan yang tidak boleh ditertawakan.
Dan mungkin, suatu hari, ketika mereka cukup tinggi untuk melihat melewati pagar, mereka akan tahu bagaimana cara membuat bunyi mesin itu berhenti sejenak—cukup lama untuk mendengar kembali suara orang tua memanggil mereka pulang.
Penulis: Atikah

