Adanya kebijakan bebas pustaka dinilai tidak menambah koleksi buku-buku di Perpustakaan UNJ. Mahasiswa merasa koleksinya masih kurang beragam.
Dalam Buku Panduan UPT Perpustakaan UNJ tahun 2022 mengenai Bebas Pustaka, mahasiswa diwajibkan menyumbang buku sebagai salah satu syarat pemberkasan lulus kuliah. Tertulis juga, mahasiswa bisa membayar Rp50.000 apabila tidak bersedia menyumbang buku. Namun, adanya kebijakan tersebut dipertanyakan oleh mahasiswa. Pasalnya, mereka tidak merasa buku-buku di perpustakaan mengalami penambahan meski kebijakan itu diterapkan.
Mahasiswa prodi Pendidikan IPS, Tantri memang merasa tidak keberatan dengan adanya kebijakan bebas pustaka. Menurutnya, kebijakan itu bisa mengakomodasi buku-buku baru di perpustakaan.
Namun, sebagai mahasiswa yang sering mendatangi perpustakaan, ia merasa penambahan buku masih terbilang minim dan kurang variatif. Terlebih lagi, ia merasa koleksi karya sastra masih kurang dan lebih banyak buku-buku non fiksi.
“Seharusnya dengan adanya kebijakan bebas pustaka, perpustakaan selalu ada penambahan buku ya. Karena kan dalam periode tertentu sudah pasti ada buku baru,” ujarnya.
Tantri juga menjelaskan tidak adanya pembaruan buku dapat dilihat dari konten rekomendasi perpustakaan. Sebab buku yang direkomendasikan biasanya hanya buku-buku lawas. Buku-buku yang sering dipinjam mahasiswa juga tidak ada penambahan eksemplar sehingga masih sedikit.
“Semoga koleksi bukunya semakin banyak, lebih bervariasi, dan ada pembaruan, jadi gak hanya terbitan lama aja yang ada di perpustakaan. Supaya mahasiswa UNJ juga lebih tertarik untuk baca buku,” ucapnya berharap.
Tidak hanya Tantri, mahasiswa prodi Manajemen, Reyhan juga tidak masalah dengan adanya kebijakan bebas pustaka. Menurutnya, kebijakan tersebut bermanfaat dan dapat menambah variasi buku yang ada di perpustakaan.
Akan tetapi, kebijakan tersebut dinilai belum membuat koleksi buku di perpustakaan lebih beragam. Ia merasa buku-buku di perpustakaan belum lengkap. Buku-buku dan literatur akademik lainnya masih sangat minim.
“Menurut saya kebijakan tersebut belum membuat buku-buku di perpustakaan lebih bervariatif. Saya berharap perpustakaan UNJ bisa menyediakan berbagai macam literatur bagi mahasiswa agar mereka lebih tertarik lagi datang ke sana,” jelasnya.
Baca juga: Menikmati Kesemrawutan Kota lewat Pameran Lukis
Kendati demikian, Kepala UPT Perpustakaan UNJ, Ummi Mukminati Siregar mengungkapkan sumbangan buku dari mahasiswa memang digunakan untuk penambahan koleksi perpustakaan. Namun, biasanya mahasiswa yang menyumbang buku tidak sesuai persyaratan. Mulai dari buku bekas, buku yang sudah dicoret-coret, sampai buku bajakan.
“Kalau kami lebih senang mahasiswa memberikan buku cetak dibanding menyumbang uang. Cuma itu kembali ke mahasiswanya, mereka kalau kasih ke kami buku bekas, buku yang dicoret-coret, bahkan buku bajakan. Kita ada sumbangan buku tapi ‘kan ada syaratnya, itu dipenuhi saja,” ungkapnya.
Hal serupa turut diungkapkan oleh Pengurus Pengadaan Koleksi UPT Perpustakaan UNJ, Rina. Ia menjelaskan kalau mahasiswa tidak ingin ribet sehingga kebanyakan mereka memilih menyumbang uang. Ia pun menyebutkan perpustakaan akan menerima apapun sumbangan bukunya asal sesuai persyaratan.
Selain itu, Rina mengklaim sumbangan uang mahasiswa sebagai pengganti buku juga akan dialokasikan untuk pembelian buku perpustakaan. Namun, uang tersebut tidak hanya dibelikan buku, tetapi juga diperuntukkan berlangganan pustaka digital Gale. Pustaka tersebut berisi jurnal, buku, majalah, dan video dalam bidang ilmu ekonomi, teknik, dan sosial.
“Kita mengalokasikan sumbangan dana dari mahasiswa untuk langganan e-resources Gale juga. Karena pustaka digital itu memang tidak dibiayai oleh UNJ jadi kita pakai dana dari situ. Kita menyediakan akses informasi ke mahasiswa dalam bentuk cetak maupun digital,” tuturnya.
Rina pun menjelaskan, dari tahun 2021-2023 perpustakaan selalu melakukan pembelian buku. Ia juga merasa pihak perpustakaan sudah melakukan upaya untuk membeli buku sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dengan cara menyebar kuesioner melalui Instagram dan laman perpustakaan.
Rina berasumsi penyebab mahasiswa tidak merasakan adanya penambahan buku karena terbatasnya ruangan koleksi perpustakaan yang hanya di Lantai 3 saja. Oleh karena itu, menyiasati minimnya rak buku, pihak perpustakaan menyortir buku yang sekiranya tidak diminati mahasiswa untuk mengurangi beberapa eksemplar dan digantikan dengan buku baru.
Namun, saat Tim Didaktika meminta basis data buku-buku di perpustakaan, Rina tidak mampu memberikannya. Sebab, perpustakaan baru menjalani peralihan sistem sehingga banyak fitur baru yang belum ia pahami. Selain itu, ia juga mengaku belum merapikan data-data tersebut.
“Kalau untuk datanya sendiri saya harus mengambil data inventarisnya dulu dan itu untuk merapikannya membutuhkan waktu tidak sebentar,” pungkasnya.
Reporter/Penulis: Adinda
Editor: Izam

