“Om Dzul dari mana saja? Kok lama banget nggak mampir ke sini?”
Pria berumur 58 tahun itu dikerubungi banyak perempuan dengan pakaian minim. Mami menyapa sambil tersenyum anggun, senang melihat klien yang baru saja tiba.
“Sorry deh, Dona. Saya lagi banyak meeting di Senayan,” serunya sambil membuka jas.
Dzul, salah satu politikus berpengaruh dari partai besar. Ia digadang-gadang akan maju sebagai presiden tahun depan. Di media, ia dikenal sebagai sosok sederhana, dekat dengan rakyat kecil, dan religius. Namun malam itu, ia memilih menghabiskan tahun barunya di sebuah rumah bordil di sekitar Jakarta Utara.
“Anak istri sehat, Om?” tanya salah satu perempuan yang membantunya membuka jas.
“Sehat dong, Rina. Kemarin baru saja pulang dari Italia. Udah, udah, saya mau cepat-cepat nih,” kata Dzul sambil menepuk-nepuk perempuan di sekelilingnya, lalu berjalan menuju kamar yang telah dipesan.
Malam dihabiskan dengan gairah dan kesenangan. Setelah selesai, Dzul berdiri di dekat jendela, merokok sambil menatap kembang api yang meledak silih berganti di langit Jakarta. Dalam kepalanya, kemenangan sudah terasa dekat. Ia yakin, tahun depan adalah tahunnya.
1 Januari
Dzul terbangun dengan kepala berat. Ia mengingat dua tubuh di kanan-kirinya semalam. Namun ketika tangannya bergerak, yang ia sentuh hanya sprei kasar.
“Rina? Putri?” panggilnya.
Tak ada jawaban.
Ia membuka mata. Yang terlihat bukan kamar rumah bordil atau lampu temaram. Ia terbaring di atas kasur buluk penuh jamur. Dindingnya lembab, cat mengelupas. Kipas angin tua berputar lambat, mengeluarkan bunyi berdecit.
“Apa-apaan ini…”
Dzul bangkit. Tubuhnya terasa berbeda. Lebih ringan, lebih ringkih. Ia menatap tangannya—kurus, kuku hitam, urat-urat menonjol. Ia berjalan tergesa ke cermin kecil di sudut kamar.
Wajah asing menatap balik. Seorang pria muda, sekitar tiga puluhan, dengan mata cekung dan janggut tak terurus.
“Ini mimpi,” gumamnya.
Ponsel di kasur bergetar. Layarnya retak. Notifikasi muncul bertubi-tubi, lamaran kerja ditolak, saldo e-wallet tersisa dua belas ribu lima ratus rupiah, dan peringatan dari aplikasi judi online.
Pesan-pesan itu tertuju pada nama Andi.
Andi, pengangguran yang sudah lama sulit mendapat kerja. Berkali-kali ditolak karena usia, tinggi badan, dan alasan administratif yang tak pernah jelas. Ia pernah bekerja serabutan, lalu terjerumus judi online dengan harapan bisa cepat keluar dari hidup sempitnya.
Dzul memukul pipinya sendiri, memastikan semua ini nyata.
“Bangsat. Bukan mimpi,” katanya pelan, terduduk di lantai dingin.
Sementara itu, di kamar rumah bordil yang mewah, Andi membuka matanya dengan dua perempuan di sampingnya. Bau seks membuatnya mual. Ia buru-buru ke kamar mandi.
Namun ia terdiam di depan cermin. Tubuh itu tua, terawat, berwibawa. Wajah itu wajah yang sering ia lihat di televisi—politikus yang bicara soal rakyat kecil, keluarga, dan moral.
“Ini aku?” Andi menyentuh wajah Dzul.
Bayangan di cermin mengikuti. Andi tertawa. Tertawa keras, lama, sampai tenggorokannya terasa perih. Tidak ada lagi lamaran kerja. Tidak ada lagi ditinggal istri. Tidak ada lagi rentenir dan judi online. Ia sekarang adalah orang kaya, punya kuasa, dan bisa membeli apapun.
Ia membuka ponsel dengan hati-hati. Pesan dari ajudan, staf, istri, dan orang-orang penting memenuhi layar. Diam-diam, Andi mulai menyusun rencana keluar dari politik, keluar dari Indonesia, dan pensiun dengan uang yang tak akan habis tujuh turunan.
Satu minggu kemudian.
Saat Dzul—dalam tubuh Andi—berhenti di warung kopi sebelum meminjam uang lagi, televisi di sudut ruangan menampilkan berita.
“Dzul Rahman tiba-tiba mundur dari bursa capres.”
Tak lama kemudian, kabar lain menyusul.
“Dzul Rahman keluar dari partai.”
“Bacapres Dzul Rahman pensiun dan pindah ke Eropa.”
Berita tentang “Dzul” bermunculan tanpa henti. Dzul menatap layar dengan getir. Seluruh hidup, citra, dan rencana yang ia bangun bertahun-tahun dihancurkan Andi hanya dalam satu minggu.
Sementara Dzul yang menjalani hidup Andi semakin kacau. Istri Andi meninggalkannya kemarin, muak dengan pengangguran, utang, dan judi. Lamaran kerja kembali ditolak. Utang makin menumpuk. Bagi Dzul yang dulu, semua ini bisa dibayar dalam satu jentikan jari. Sekarang, ia hanya bisa bersembunyi dari kejaran rentenir.
Ia perlahan hidup dengan pola pikir Andi, berharap pada judi online. Berusaha bertahan hidup dengan uang pas pasan sambil mencari kerja.
“Bajingan. Apa-apaan ini? Ditolak lagi gara-gara tinggi badan nggak memenuhi syarat,” teriaknya sambil melempar ponsel ke dinding.
Pusing bukan kepalang, ia membeli alkohol. Mabuk, seperti kebiasaan lamanya. Ia lupa bahwa ia sedang diburu.
Malam itu, di sebuah gang sempit, beberapa pria menghampirinya. Kata-kata kasar. Tangan-tangan keras. Dunia berputar cepat.
Tubuh Andi jatuh ke aspal. Darah mengalir pelan.
Dzul menghembuskan napas terakhirnya tanpa nama, tanpa kuasa, tanpa pidato. Ia mati bukan sebagai Dzul Rahman, melainkan sebagai Andi—pengangguran miskin yang penuh utang.
Di Eropa, Andi duduk santai memainkan ponselnya. Linimasa Twitter menampilkan sebuah berita kecil.
“Seorang pria bernama Andi tewas akibat pengeroyokan rentenir.”
Andi tertawa pelan. Nama, usia, dan alamat itu sangat cocok dengan hidup yang pernah ia jalani.
Tak ada yang mengaitkan kematian itu dengan Dzul Rahman, mantan calon presiden yang kini menikmati masa pensiun di luar negeri.
Padahal, yang mati adalah Dzul Rahman.
Pertukaran itu sempurna.
Dzul benar-benar menjadi bagian dari rakyat kecil seperti citranya. Andi menjadi kaya raya seperti keinginannya dan dunia tetap berjalan seperti biasa.
Penulis: Hanum Alkhansaa R

