Warga Rusun Pesakih harus melunasi tagihan air yang terus membengkak, hingga denda jika pembayaran tidak tepat waktu. Namun kualitas airnya justru tidak layak untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, bahkan menyebabkan gatal-gatal.

Sembari memandangi dagangannya, salah satu penghuni lantai dua Rumah Susun (Rusun) Pesakih sejak 2016, Lina (52) mengungkapkan bahwa air yang mengalir ke unitnya memiliki rasa yang aneh. Saat melihat keadaan air tersebut, lina takut untuk menggunakannya.

Selain rasa, aliran air juga kerap meninggalkan endapan kuning pada lantai kamar mandi jika didiamkan. Bahkan, kondisi air tersebut sewaktu-waktu bahkan dapat berubah menjadi merah saat lama tak digunakan.

“Jadi kalau habis mandi, badan rasanya kayak belum bersih,” ujarnya saat diwawancarai Tim Didaktika pada Sabtu (14/2).

Baca juga: Akses Pasar Tertutup, Hambat Perekonomian Warga Rusun Bambu Apus

Rusun Pesakih sendiri terletak di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Sudah didirikan sejak tahun 2013, merupakan kompleks hunian vertikal yang menjadi rumah bagi para warga relokasi dari berbagai wilayah di Jakarta. Meskipun sudah berjalan lama, di tahun 2019 mulai terjadi permasalahan kompleks mengenai pemenuhan kebutuhan air bersih bagi warga.

Iklan

Air yang digunakan berasal dari Perusahaan Air Minum (PAM). Namun kondisi air ternyata tidak layak untuk standar kebutuhan rumah tangga, seperti penggunaan memasak ataupun dikonsumsi. Hampir seluruh warga di Rusun Pesakih mengalami kondisi tersebut.

Seperti salah seorang ibu rumah tangga, Maryati (42) merasakan dampak yang lebih serius pada kesehatan keluarganya. Ia meratapi bagaimana kondisi ibunya sebagai penderita stroke, harus mengalami pula gatal-gatal di seluruh tubuh hingga muncul luka koreng setelah penggunaan air di rusun.

Lebih parahnya, Maryati mengungkapkan dampak air kotor juga menimpanya saat masa kehamilan. Saat itu, ia terkena penyakit kulit yang membuatnya harus mengeluarkan biaya lagi untuk pengobatan. Setelah lahiran, Maryati menceritakan anaknya juga turut terdampak gatal-gatal.

“Kadang airnya licin kayak berminyak, jadi saat kena sabun, sabunnya tidak berbusa. Efeknya ke anak-anak dan orang tua jadi gatal-gatal semua pada merah,” keluh Maryati saat diwawancarai pada Sabtu (14/2).

Karena kondisi air yang kotor, Maryati mengatakan warga terpaksa harus memodifikasi keran demi mendapatkan air bersih. Lebih lanjut, ia menjelaskan warga sering memasang saringan di ujung keran dengan bahan seadanya seperti kain bekas hingga sarung tangan bayi untuk menyaring kotoran.

Berbagai permasalahan air di Rusun Pesakih bukanlah satu-satunya persoalan, Maryanti menceritakan kesehariannya yang harus membeli air galon isi ulang untuk penggunaan di dapur. Tiap minggunya, ia harus mengeluarkan uang sebesar Rp6.000 untuk biaya galon.

Belum lagi tagihan biaya air PAM, ibu rumah tangga itu mengocek uang dengan rata-rata mencapai Rp200.000 tiap bulannya. Lebih parahnya, Maryati mengatakan warga Rusun Pesakih terancam penyegelan meteran serta denda yang terus meningkat jika tidak sanggup membayar tagihan air.

“Bahkan airnya kita juga pakenya tidak deras karena bayarannya nanti mahal. Bulan lalu saya belum mampu bayar makanya disegel.” paparnya dengan mata yang berkaca-kaca.

Di akhir, Maryati mengungkapkan harapannya agar terjadi peningkatan kualitas air yang baik di Rusun Pesakih. Tak hanya itu, ia juga mendambakan adanya keringanan tagihan air agar beban pengeluaran dapur tidak semakin mencekik.

“Kita sih mau airnya bersih dan disubsidi dengan harga terjangkau agar struknya tidak mahal,” pungkas Maryati.

Iklan

Baca juga: Fasilitas Rusun Pesakih Tidak Ramah Lansia dan Penyandang Disabilitas

Untuk mendapatkan tanggapan terkait pengelolaan air di Rusun Pesakih, Tim Didaktika mewawancarai Pihak Pengelola Rusun Pesakih, Ali pada Jumat (20/2/2026). Ia menjelaskan dalam menangani permasalahan air kotor, Ali mengungkapkan pihak pengelola sudah melakukan usaha sesuai kapasitas mereka yang tertuang dalam Peraturan Daerah (Perda) Jakarta Nomor 5 Tahun 2026. Di peraturan tersebut, tertuang dalam Pasal 10 Ayat 4 menjelaskan pengelolaan sarana air dan listrik rumah susun termasuk dalam kewajiban mereka.

“Jadi kalau ada keluhan akan kami perbaiki dalam batas kewenangan kami. Kalau soal kualitas air, kita menerima apa adanya dari PAM,” jelas Ali.

Namun, pengelola itu justru mewajarkan terjadinya kondisi air yang buruk. Melihat air PAM di seluruh jakarta juga tidak dapat dikonsumsi. Ia menambahkan, bahkan kondisi air rumahnya di Tangerang tidak dapat dikonsumsi.

“Memang lazimnya air PAM tidak dapat dikonsumsi,” ungkapnya dalam menjawab isu air.

Pun terkait penggunaan air di Rusun Pesakih, Ali mengaku sering menggunakannya hanya untuk wudhu saja. Ali menduga bahwa tidak menutup kemungkinan penampungan air warga yang kurang baik, menyebabkan terjadinya aliran air kotor.

“Jadi kalau ada keluhan mereka gatal kena air, seharusnya saya dan satu masjid gatal semua dong,” pungkasnya.

Reporter/penulis: Tahani Alya Shofa dan Hawari Haqqi
Editor: Anna Abellina Matulessy