Judul Buku: McDonaldisasi Masyarakat

Penulis: George Ritzer

Penerbit: Pustaka Pelajar

Tahun Terbit: 2014

Halaman: 373

ISBN: 978-602-229-396-5

Iklan

Perkembangan ekonomi dunia yang berwatak kapitalistik selalu diiringi jeritan buruh. Dalam relasinya dengan pemilik modal, buruh terpaksa mengikuti perintah. Jika tidak mau tunduk, ancaman-ancaman seperti pemecatan siap menyerang buruh.

Perintah pemilik modal bertujuan untuk mendapatkan keuntungan sebesar mungkin (akumulasi kapital). Tak ayal, waktu dan tenaga buruh acap kali diperas untuk memenuhi tujuan pemilik modal.

Selain itu, salah satu strategi pemilik modal untuk mengakumulasi kapital adalah dengan mempercepat produksi melalui pembagian kerja. Strateginya, buruh dispesialisasikan untuk mengerjakan bagian tertentu dari proses produksi. Ini memungkinkan proses produksi suatu barang menjadi singkat karena dikerjakan bersama-sama.

Baca juga: Hakikat Kerja Karl Marx: Kelas Buruh Berhak Sejahtera dan Bahagia

Seorang Sosiolog Jerman, Max Weber (1864–1920) menyebut pembagian kerja ini sebagai hasil dari rasionalisasi yang diformalkan. Yakni, menata kerja manusia secara logis dan sistematis melalui peraturan/hukum agar proses produksi berjalan terukur. Suatu peraturan dibuat dan dipaksakan oleh pemilik kuasa dalam sebuah hierarki pembagian kerja.

Syahdan, buruh yang sudah terspesialisasi nantinya diikat oleh Standard Operating Procedure (SOP) untuk mengerjakan satu tugas. Buruh harus bertindak sesuai SOP serta kewajiban lain yang dipaksakan oleh pemilik modal.

Kala itu, Weber melihat ini sebagai perkembangan masyarakat Barat tradisional ke arah modern. Dalam masyarakat tradisional, posisi yang diisi oleh seseorang kurang jelas mendefinisikan lingkup kompetensinya, dan apa yang menjadi fokus pekerjaannya. Individu memiliki kehendak pribadi dan membuat mereka sporadis dalam melakukan kerja.

Setelah dirasionalisasi, terjadi struktur formal dalam melakukan pekerjaan. Standarisasi-standarisasi kemudian diciptakan. Ini memberikan keuntungan bagi pemilik modal. Salah satunya efisiensi waktu untuk menghasilkan kuantitas produk yang lebih besar.

Bermaksud mengafirmasi pemikiran Weber, seorang Sosiolog Amerika Serikat, George Ritzer datang dengan bukunya berjudul McDonaldisasi Masyarakat. Baginya, rasionalisasi semacam itu terjadi juga dalam model bisnis waralaba seperti McDonald. Ritzer memakai istilah McDonaldisasi—sebagai model waralaba besar—dapat membawa pengaruh dominan terhadap sektor ekonomi dan sosial masyarakat.

McDonaldisasi adalah sebuah proses di mana prinsip restoran cepat saji dijadikan metode untuk mendominasi sektor ekonomi yang lain, bahkan kehidupan sehari-hari. Bagi Ritzer, McDonald dan perusahaan sejenis bisa mendominasi karena memegang teguh beberapa prinsip. Yaitu efisiensi, daya hitung/kuantifikasi, prediktabilitas, dan kontrol manusia melalui teknologi.

Iklan

Pertama, efisiensi adalah cara optimal untuk mengerjakan tugas, sehingga hasil produksinya maksimal dengan sumber daya yang minimal. Contoh perusahaan waralaba paling cerdik menerapkan prinsip ini adalah IKEA—perusahaan yang menjual perabotan rumah tangga. Pasalnya, ketika selesai belanja, pelanggan harus merakit perabotannya sendiri. Di kantin IKEA, ketika selesai makan pelanggan juga diharuskan membersihkan meja sendiri. Dengan ini, perusahaan bisa memangkas jumlah buruh perakit perabotan dan pembersih.

Kedua, daya hitung. Yaitu kecenderungan untuk menguantifikasi segala aspek dalam proses produksi dan layanan. Penekanan biasanya ada pada seberapa banyak barang bisa diproduksi dalam waktu tertentu. Semakin banyak jumlahnya, semakin dianggap sukses. Waktu pun ikut dihitung secara ketat, agar barang cepat selesai dibuat dan sampai ke tangan pelanggan.

“Para manajer dan pemilik (modal) mendapatkan keuntungan lebih karena banyak pekerjaan terselesaikan, (dan) lebih banyak konsumen yang dilayani…” (hlm 86).

Ketiga, daya prediksi. Yaitu keinginan untuk menciptakan produk atau pelayanan yang konsisten sehingga dapat diperkirakan. Sebagai contoh, ketika membeli makanan khas sebuah minimarket, dalam bayangan pelanggan rasa dari makanan tersebut tidak jauh berbeda dari yang dijual di minimarket lainnya. Sebab, setiap cabang menggunakan panduan resep yang sama. Masyarakat yang rasional, tulis Ritzer, tidak menyukai kejutan, dan perusahaan waralaba bisa mengatasi masalah itu.

Tambah lagi ketika kita hendak membayar, biasanya penjaga kasir akan mengucapkan hal yang sama. Seperti “Apakah memiliki kartu member?” atau “Mau sekalian isi pulsanya?”. Hal itu karena memang mereka mengikuti skenario, sehingga aksinya sangat terprediksi.

Prinsip terakhir, kontrol terhadap manusia oleh teknologi. Buruh tidak hanya sekadar dikontrol melalui teknologi tak terlihat seperti SOP, pembagian kerja, atau peraturan formal. Lebih dari itu, mereka dikontrol oleh teknologi yang terlihat, seperti robot, aplikasi digital, atau komputer.

Pekerja ekonomi gigs pun tak terlepas dari prinsip ini. Dalam kasus driver ojek online, mereka diatur oleh aplikasi yang dilengkapi dengan mekanisme rating. Mekanisme ini mengharuskan driver memberikan pelayanan maksimal kepada pelanggan demi mendapat penilaian yang baik. Sebab, mekanisme rating sangat berpengaruh terhadap sedikit-banyaknya jumlah pesanan. Maka, secara tidak langsung, driver dipaksa untuk terus bekerja dan melayani sebaik mungkin.

Di sisi lain, Ritzer dan Weber sama-sama memperingatkan bahwa rasionalitas semacam ini justru melahirkan irasionalitas. Dalam cara kerja rasional, buruh hanya diberi sedikit pilihan untuk menyelesaikan tugas. Spesialisasi membuat mereka terkungkung pada satu jenis pekerjaan dan wajib menyelesaikannya sesuai SOP, tanpa boleh menggunakan caranya sendiri.

Ketika sistem tersebut dianggap berhasil di sektor waralaba, logikanya menyebar ke sektor lain seperti industri manufaktur bahkan jasa. Akibatnya, banyak buruh kehilangan otonomi, kreativitas, dan aspek kemanusiaannya dalam bekerja.

“Diri sendiri (buruh) ditempatkan dalam peti mati, emosinya dikontrol, dan jiwanya dikuasai.” (Hlm. 50)

Pada prinsip kontrol kita melihat, buruh harus bekerja berdampingan dengan mesin, robot, hingga komputer. Semakin canggihnya teknologi, maka konsekuensi logisnya tenaga buruh dengan mudahnya digantikan oleh teknologi.

Dampak itu lah yang dirasakan oleh buruh industri teknologi. Sejak awal 2025, perusahaan seperti Meta dan Microsoft melakukan pemecatan besar-besaran. Meta telah memecat sebanyak 3.600 buruh, dan Microsoft telah memecat 2.000 buruh. Alasannya, perusahaan menilai performa buruh jauh di bawah indikator penilaian yang telah ditetapkan.

Apabila dicermati, perusahaan sedang berfokus untuk mengembangkan teknologi kecerdasan buatan yang memerlukan anggaran besar. Oleh karena itu, anggaran untuk upah buruh dialihkan ke pengembangan teknologi.

Demi mengejar kuantitas produksi yang lebih banyak, pemilik modal juga kerap kali menaikkan jam kerja buruhnya. Melansir artikel Konde (13/01), di kawasan tambang nikel di Morowali, Sulawesi Tengah, lebih dari 80 ribu buruh harus bekerja 48 hingga 60 jam seminggu. Jauh melebihi batas yang ditetapkan Undang-undang (UU) Cipta Kerja selama 40 jam per minggu.

Diperparah, beberapa dari mereka tidak memiliki waktu istirahat di sela-sela bekerja. Buruh perempuan pun sulit mengajukan cuti haid, karena alur pengajuannya yang rumit. Semua ini dilakukan untuk memastikan tambang nikel Morowali beroperasi 24 jam sehari.

Lebih lanjut, daya tawar buruh ketika menghadapi pemecatan diperlemah melalui Pasal 151 UU Cipta Kerja. Perusahaan dapat melakukan pemecatan tanpa didahului lewat perundingan kedua belah pihak.

Baca juga: Kesejahteraan Buruh Sukar Tercapai

Dalam buku ini, sebenarnya masih banyak irasionalitas lain yang diciptakan oleh prinsip McDonaldisasi, terkhusus dampaknya pada konsumen. Makanan cepat saji yang tinggi gula dan kalori menjadi hal lumrah. Di kemudian hari, ini menjadi penyebab meningkatnya obesitas dan penyakit turunannya.

Kiranya Ritzer telah memberikan gambaran pada kita bagaimana cara kerja perekonomian hari ini. Dalam edisi ulang ulang tahun ke-20 bukunya, ia menambahkan apa yang menjadi kritik atas pemikirannya. Ini membuat kita mendapat penjelasan yang komprehensif mengenai isi buku.

Namun sayangnya, Ritzer tidak memberikan solusi konkret untuk meredam dampak negatif McDonaldisasi. Ini membuat pembaca mungkin merasa pesimis menghadapi tantangan yang diidentifikasi.

Penulis: Fadil B. Ardian

Editor: Lalu Adam Farhan