Kebijakan satu kesatuan KTM dengan ATM BNI Taplus Muda yang berbayar memberatkan mahasiswa baru. 

Bank Negara Indonesia (BNI) cabang UNJ menginformasikan pengambilan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) melalui surat pemberitahuan nomor RWM20-10/0011/2023 UNJ pada Kamis (19/01). Dalam surat tersebut, tidak ada himbauan untuk membawa uang ketika mengambil KTM mahasiswa baru.

Sementara itu, pada saat mengambil KTM, beberapa mahasiswa mengaku KTM berbayar. Salah satunya mahasiswa Prodi Sastra Indonesia 2022, Lia mengaku keberatan terkait sistem pengambilan KTM yang dibarengi ATM BNI Taplus Muda. Lia mengungkapkan ketika mengambil KTM, ia diharuskan menyetor uang sebesar Rp. 100.000,00. 

Nantinya, uang sebesar Rp90.000,00, akan masuk ke saldo rekening BNI Taplus Muda. Terpotong biaya administrasi sebesar Rp10.000,00.

“Uang Rp100.000 termasuk nominal yang besar bagi kebanyakan mahasiswa, apalagi kebutuhan mahasiswa cukup banyak, kan? ” tutur Lia

Senada, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah 2022 Vidi Arif, mengungkapkan pengambilan KTM sekaligus kartu ATM BNI Taplus Muda sangat minim sosialisasi. Vidi pun harus menguras dompetnya lebih dalam. Baginya, sekalipun sisa saldo bisa diambil, tetapi ia tetap merugi sebab telah terpotong biaya administrasi.

Iklan

 “Jika mahasiswa keberatan mengenai pengambilan kartu ATM lalu menguras saldo di rekening ATM tersebut, mereka sudah rugi untuk sesuatu yang mereka tak inginkan,” ucap Vidi. 

Saat dikonfirmasi, Kepala Biro Akademik dan Hubungan Masyarakat (Bakhum) UNJ, Tri Suparmiyati mengatakan bahwa KTM angkatan 2022 tak berbayar. Sedari dahulu dan juga sekarang, ia menyatakan KTM diberikan secara gratis kepada mahasiswa.

“KTM itu benar-benar gratis yang bayar itu mungkin ATM,” ucap Tri pada Rabu (22/02).

Diketahui kebijakan KTM tahun 2022 berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perwakilan BNI Rawamangun, Henri menjelaskan bahwa bank yang mengelola KTM UNJ angkatan 2022 hanya BNI, tak seperti tahun terdahulu yang dikelola bersama bank lain. 

Hal barusan sebab tahun 2022 UNJ ingin bekerja sama hanya dengan satu bank dalam pengelolaan KTM untuk mempermudah koordinasi. Oleh karenanya sejumlah bank, termasuk BNI berkompetisi dengan memberikan penawaran terbaik kepada UNJ. Hasilnya, BNI terpilih sebagai satu-satunya bank pengelola KTM yang bekerja sama dengan UNJ. 

Namun, hal tersebut juga merubah sistem KTM berdasarkan pada kesepakatan antara BNI dengan UNJ. Henri mengatakan, BNI menanggung seluruhnya beban pembuatan KTM, kemudian membuatkan rekening mahasiswa berupa kartu ATM BNI Taplus Muda. Sehingga, mahasiswa mendapat dua kartu.

Kartu pertama merupakan KTM yang bermodel tapcash, dapat digunakan untuk transaksi. Kedua, kartu ATM BNI Taplus Muda yang dibebankan biaya administrasi setiap bulannya.

Henri kemudian menuturkan alasan dibalik pembuatan ATM untuk mahasiswa, yaitu agar mahasiswa melek perbankan. Karenanya dibuatkan rekening sesuai kriteria mahasiswa, yaitu BNI Taplus Muda. 

“Dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyarankan sosialisasi pada generasi muda untuk mengenal perbankan. Maka mahasiswa kita buatkan rekening sesuai kriteria untuk anak muda, namanya BNI Taplus Muda,” ujar Henri. 

Pemimpin BNI UNJ Lilis mengutarakan dalam ATM BNI Taplus Muda terdapat biaya administrasi sebesar Rp5.000,00 per bulan. Menyoal adanya mahasiswa yang dikenakan biaya administrasi sebesar Rp10.000,00, menurutnya rekening mahasiswa tersebut sudah dibukakan dua bulan sebelumnya.

Iklan

Kemudian Lilis mengungkapkan bahwa waktu pembuatan rekening berbeda-beda. Oleh karena itu, dapat diartikan berbeda-beda juga biaya administrasi ketika mahasiswa mengambil ATM.

“Waktu rekening dibentuk berbeda-beda sebab terkendala data. Setelah data kita terima langsung kita proses,” jelas Lilis. 

Sementara, Divisi Institutional Banking BNI, Eci mengatakan antara KTM dan ATM BNI Taplus Muda merupakan satu kesatuan. Sehingga mahasiswa wajib mengambil keduanya. 

“Karena sudah satu kesatuan dan kemudian kalau mau top up KTM tak bisa di bank lain, hanya BNI,” ucap Eci. 

Sementara itu, mahasiswa Prodi Pendidikan Sejarah 2022, Achmad Firdaus malah mempertanyakan nasib mahasiswa yang sebelumnya sudah mempunyai rekening. Menurutnya mahasiswa jadi terbebani oleh dua biaya administrasi. Seharusnya, lanjut Achmad, pembuatan kartu ATM dibuatkan untuk mahasiswa yang minat saja. 

“Tujuannya memang mulia untuk membuat mahasiswa melek perbankan. Namun, jika mahasiswa sudah melek perbankan dan sudah memiliki tabungan atau rekening di bank lain bagaimana? Ini kan jadi double pengeluaran untuk biaya administrasi, “ ujar Achmad.

 

Penulis: Andreas Handy

Editor: Siti Nuraini