“Jangan lupa siapa musuh sebenarnya.”
Kalimat itu berulang kali diucapkan Katniss Everdeen —tokoh utama dalam serial The Hunger Games. Ia bermaksud mengingatkan para pemberontak agar tidak saling bertengkar. Alasannya, musuh sebenarnya bukan sesama rakyat, melainkan sistem Capitol yang menindas.
Katniss tahu betul bahwa adu domba hanya akan melemahkan gerakan rakyat. Ia tidak ingin perlawanan kandas hanya karena orang-orang sibuk berkonflik dengan sesamanya, sementara penguasa tetap duduk nyaman di atas penderitaan rakyat.
Sebagai gambaran, ungkapan itu terekam dalam serial The Hunger Games yang berlatar tempat di Panem, yakni sebuah negara fiksi yang terbagi menjadi distrik-distrik miskin dan satu pusat kekuasaan bernama Capitol. Di antara kedua tempat itu, terdapat ketimpangan yang kontras.
Baca juga: Aksi Kamisan Ke-876: Menuntut Keadilan dan Mengecam Kekerasan Aparat
Di Capitol, orang-orang hidup dalam pesta, makanan berlimpah, pakaian bagus, dan segala bentuk kemewahan duniawi yang berlebihan. Sementara di distrik lainnya, rakyat bekerja keras memasok hasil tambang, pertanian, dan sumber daya lain hanya untuk dikirim ke Capitol. Alhasil, membuat kehidupan rakyat di distrik-distrik semakin nestapa dan terpuruk jurang kemiskinan.
Panem pernah diguncang pemberontakan besar, dengan “Distrik 13” sebagai penggeraknya. Pemberontakan terjadi karena rakyat sudah muak dengan ketimpang sosial-ekonomi antara Capitol dengan distrik lainnya. Namun pemberontakan itu digagalkan oleh Capitol karena Distrik 13 berjuang sendiri tanpa solidaritas dari distrik lainnya. Kemudian Distrik 13 diluluhlantakkan oleh otoritas kekuasaan.
Sebagai pengingat akan pemberontakan itu, Capitol menciptakan The Hunger Games: sebuah tontonan sadis di mana dua anak dari setiap distrik dipaksa saling membunuh hingga tersisa satu pemenang, laiknya pertarungan gladiator di Colosseum Roma. Bagi Capitol, ini hiburan. Bagi distrik, ini mimpi buruk yang terus menghantui setiap tahun.
Katniss menyadari kesalahan itu. Karena itulah, ia sebagai tokoh pemberontak baru, lebih dulu berusaha menyadarkan dan menyatukan semangat dari 11 distrik lain sebelum akhirnya memimpin pemberontakan melawan Capitol.
Dengan bersatunya ke 11 distrik, Katniss berhasil merebut Capitol. Pemberontakan berhasil, Katniss bersama rakyat mencapai tujuan menciptakan kondisi sosial-ekonomi di Panem yang akhirnya tidak lagi timpang.
Meski hanya fiksi, serial tersebut terasa akrab di Indonesia saat ini. Di mana elit politik menikmati kenyamanan, sementara rakyat diadu domba lewat konflik horizontal yang akhirnya hanya memperkuat posisi mereka. Tragedi Affan Kurniawan adalah contoh yang paling menyayat hati.
Pada 28 Agustus, Affan Kurniawan —seorang pengemudi ojek daring (ojol)— tewas dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob ketika sedang mengantarkan orderan makanan. Alih-alih hadir melindungi warga, aparat kepolisian justru berubah menjadi mesin kekerasan. Lebih ironis lagi, polisi yang melindas Affan hanya mendapat skorsing 20 hari dari atasannya—hukuman ringan yang jelas tak sebanding dengan hilangnya nyawa seorang rakyat kecil.
Belum cukup di situ, kerusuhan juga pecah pada 29 – 30 Agustus. Delapan orang meninggal dalam bentrokan antara polisi dan demonstran. Fasilitas umum terbakar, bahkan gedung DPR – DPRD ikut rusak. Pemerintah bukannya mengakui kesalahan dalam cara aparat menangani protes, malah buru-buru menyalahkan rakyat karena aksi ricuh itu.
Rakyat dituding biang kerusuhan, sementara aparat dilindungi. Ironi kembali terjadi: di saat rakyat kehilangan nyawa, polisi yang terluka justru mendapat kenaikan jabatan sebagai bentuk penghargaan. Ini menunjukkan betapa kekuasaan lebih peduli pada citra institusinya ketimbang pada keadilan bagi korban.
Tindakan represif oleh aparat kepolisian, kebijakan pemerintah yang menyengsarakan, Sebenarnya siapa musuh rakyat? Sesama rakyat yang turun ke jalan karena marah, atau mereka yang terus mempertahankan sistem timpang sambil duduk aman di kursi kekuasaan? Jawabannya sebetulnya jelas.
Serupa seperti di Panem, rakyat bukanlah musuh satu sama lain. Mereka hanyalah korban yang dipaksa berhadapan, baik lewat kebijakan yang menyengsarakan maupun lewat provokasi yang membuat rakyat saling membenci. Sementara itu, elit menonton dari jauh, bahkan memanfaatkan konflik demi kepentingan mereka sendiri.
Émile Durkheim pernah menegaskan bahwa manusia saling membutuhkan. Solidaritas sosial dalam masyarakat modern —yang ia sebut sebagai solidaritas organik— tidak mungkin hilang begitu saja. Akan tetapi masih memiliki ketergantungan satu sama lain.
Ketergantungan menurut Durkheim ialah kondisi ketika orang-orang dalam tatanan sosial modern tidak bisa hidup sendiri. Karena setiap individu atau kelompok sosial punya peran berbeda yang saling melengkapi. Maka, suatu masyarakat akan bisa bertahan bila saling terhubung dan bekerja sama
Dalam analisis Durkheim, masyarakat modern memang tampak individualis, namun justru karena perbedaan itulah tercipta ketergantungan di dalam tatanan masyarakat modern. Sebagai contoh, ketika seorang pengemudi ojek daring seperti Affan tewas akibat kekerasan aparat, tragedi itu tidak berhenti pada keluarganya saja. Akan tetapi mahasiswa, buruh, hingga pedagang kecil merasa bahwa ancaman yang sama bisa menimpa mereka kapan pun, karena sistem yang timpang menyentuh semua lapisan.
Inilah titik di mana solidaritas organik menemukan wujudnya dalam pergerakan. Perbedaan latar belakang tidak lagi penting, sebab rasa senasib menyatukan mereka untuk melawan sumber penindasan yang sama.
Baca juga: Pejabat dan Aparat Terlampau Keparat, Perubahan Besar Mesti Diadakan
Rakyat yang turun ke jalan adalah wujud nyata dari solidaritas itu. Mereka menolak diam dan memilih menghadapi persoalan bersama, meskipun harus berhadapan dengan kekerasan aparat dan stigma anarkis dari penguasa.
Karena itu, rakyat tidak boleh terjebak dalam adu domba. Provokasi, pembakaran fasilitas umum, dan upaya memecah belah hanya akan membuat gerakan lemah. Sama seperti Capitol yang membuat distrik saling bertarung dalam The Hunger Games. Padahal, kekuatan sejati justru ada ketika rakyat bersatu. Selama rakyat bersatu, penguasa tidak akan bisa berbuat sewenang-wenang dan memertahankan kekuasaan otoriternya.
Seperti kata Katniss, jangan lupa siapa musuh sebenarnya. Rakyat tidak boleh dipertentangkan satu sama lain, karena musuh yang nyata adalah mereka yang menindas, yang membiarkan rakyat kehilangan nyawa, dan yang terus melanggengkan ketidakadilan demi kekuasaan. Maka jangan terpengaruh, jangan berhenti, dan jangan menyerah. Bersatulah, dan melawanlah.
Penulis : Hanum Alkhansaa
Editor : Lalu Adam

