Komunitas berisi kegiatan baca buku bersama atau book party tengah menjamur. Biasa dihadiri anak muda, book party berpotensi meningkatkan budaya literasi dan memicu perubahan sosial.
Jumat malam (5/12), belasan anak muda duduk melingkar membaca buku bersama di Perpustakaan Cikini, Jakarta Pusat. Di samping membaca buku bersama, para peserta acara Perpustakaan Bareng itu secara bergiliran menyampaikan hasil bacaan masing-masing.
Salah satu peserta Perpustakaan Bareng adalah Daniel. Pria yang bekerja sebagai pengembang aplikasi itu mengaku senang mengikuti acara tersebut karena dirinya mempunyai hobi membaca. Tambah lagi, ia menjelaskan banyak mendapat teman yang mempunyai kesamaan hobi lewat acara tersebut.
“Acara ini sangat positif karena mendorong orang-orang untuk membaca buku,” ujar Daniel pada Sabtu (5/12/2025).
Lebih lanjut, Daniel merasa mendapat berbagai pandangan baru ketika mengikuti acara Perpustakaan Bareng. Sebab menurutnya, dalam acara tersebut terdapat sesi peserta menceritakan hasil bacaan masing-masing.
“Saya dulu sering meremehkan genre bacaan buku yang saya tidak baca. Akan tetapi, karena ada acara ini membuka pandangan bahwa bukan saya enggak suka genrenya, tapi mungkin memang belum saatnya dibutuhkan oleh saya,” pikir Daniel.
Perpustakaan Bareng adalah salah satu kegiatan yang dilakukan oleh Jakarta Book Party. Komunitas ini kerap mengadakan kegiatan baca buku bersama di berbagai ruang publik Kota Jakarta.
Baca juga: Mahasiswa UNJ Keluhkan Sistem Kerja PKM yang Memberatkan
Salah satu pendiri Jakarta Book Party adalah Yowi. Pekerja kantor ini mengaku dirinya dan teman-temannya yang suka membaca buku sekadar iseng saat mendirikan komunitas Jakarta Book Party pada Oktober 2023. Mereka pun mempromosikan acara Jakarta Book Party di media sosial.
“Enggak disangka Jakarta Book Party booming, banyak orang yang tertarik datang. Bahkan, beberapa orang menghubungi kami untuk membuka komunitas seperti ini di kota-kota lainnya.“ ucapnya pada Sabtu (5/12/2025).
Yowi menjelaskan peserta Jakarta Book Party umumnya adalah anak muda yang sedang berkuliah atau bekerja. Untuk menarik orang datang ke komunitasnya, Yowi menitikberatkan promosi lewat media sosial. Yowi mengaku, terdapat pengurus komunitas Jakarta Book Party yang mempunyai tupoksi khusus dalam bidang promosi.
“Enggak perlu mempersiapkan diri gimana-gimana kalau tertarik ikut acara komunitas ini, selalu kita sediakan buku juga. Acara kita se-fun itu,” tuturnya.
Di samping Jakarta Book Party, muncul komunitas baca buku bersama lainnya seperti Klub Buku Bawah Tanah. Pendiri komunitas ini adalah Benedictus Aditya Kurniawan atau biasa disapa Adit MKM. Ia menyatakan, Klub Buku Bawah Tanah mempunyai konsep yang berbeda dengan komunitas buku pada umumnya.
Misalnya, kata dia, jumlah peserta acara dari komunitas yang berdiri pada 22 November 2025 ini dibatasi. Selain itu, setiap kegiatan acara Klub Buku Bawah Tanah mempunyai topik yang berbeda-beda.
“Yang aku pengen adalah forumnya kecil, tapi kita bisa diskusi secara intimate tentang sebuah isu secara mendalam,“ ucapnya pada Sabtu (22/11/2025).
Untuk memperdalam setiap diskusi dalam Klub Buku Bawah Tanah, Adit berupaya menghadirkan tamu undangan yang mempunyai kapabilitas terkait tema bahasan. Ia mencontohkan saat mengangkat tema “Bangkitnya Orde Baru” pada 22 November 2025, hadir Christina Udiani yang merupakan penyunting buku Laut Bercerita, sebuah novel yang menceritakan pergerakan aktivis pada masa kekuasaan rezim Soeharto.
Bagi Adit MKM, Klub Buku Bawah Tanah dapat mempertemukan orang yang bacaannya mendalam dan minim. Harapnya, interaksi ini membuat orang yang mempunyai bacaan lebih sedikit, bisa tertarik mendalami suatu isu dan mendapat referensi buku. Lanjutnya, sesama orang yang mempunyai banyak bacaan dapat saling memperdalam pengetahuan dan melahirkan ide-ide baru.
“Menurutku di era sekarang, kita jenuh dengan media sosial. Book Party adalah salah satu opsi untuk menjalankan aktivitas fisik bersama,” tutup Adit.
Komunitas serupa juga tumbuh di lingkungan kampus, salah satunya “Pesta Buku UNJ”. Di lapangan rumput Plaza UNJ, belasan peserta acara komunitas ini duduk melingkar, membaca, dan berbagi gagasan seputar buku yang mereka bawa.
Salah satu pendiri Pesta Buku UNJ adalah Anja. Mahasiswa Fakultas Ilmu Pendidikan ini mengaku merasa bosan dengan lingkungan pertemanan kampus yang minim pertukaran gagasan. Maka, Anja bersama teman perkuliahan yang hobi membaca buku mendirikan Pesta Buku UNJ pada November 2025.
“Kami bosan dengan lingkungan pertemanan yang pembahasannya enggak bermutu. Akhirnya kami berinisiatif untuk bikin komunitas yang produktif, seperti baca buku dan diskusi di kampus,“ ungkapnya pada Rabu (26/11/2025).
Baca juga: Biaya Praktikum Masih Membebani Mahasiswa Fakultas Teknik
Dosen Pendidikan Sosiologi UNJ, Ubedillah Badrun menyatakan fenomena menjamurnya book party terdiri atas faktor eksternal dan internal. Dalam faktor eksternal, pria yang kerap disapa Ubed ini menitikberatkan pemikiran Jurgen Habermas terkait Digital Public Sphere sebagai pisau analisis.
Jelas Ubed, kehadiran Digital Public Sphere ditandai dengan pergeseran ruang diskursus isu publik ke dunia digital karena pengaruh media sosial. Tambahnya, terdapat banjir informasi dan perdebatan di media sosial yang mudah dilihat generasi muda.
“Kondisi perkembangan digital saat ini terdapat banyak informasi dan perdebatan. Hal itu memantik rasa penasaran Gen Z mendalami suatu isu, sehingga mereka membaca buku,” ujarnya pada Kamis (11/12/2025)
Kemudian, Ubed memandang ramainya permasalahan sosial di Indonesia beberapa tahun ke belakang, merupakan faktor eksternal lain menjamurnya book party. Bagi dia, hal ini memancing keresahan kolektif kaum muda, sehingga mulai sering membaca dan mendiskusikan permasalahan sosial bersama-sama.
Dalam faktor internal merebaknya book party, Ubed menyoroti dimensi psikologis Gen Z. Ia menyebut Gen Z sebagai psychologically problematic generation. Menurutnya, generasi ini menanggung beban mental kompleks di tengah situasi yang tidak menentu. Ubed menilai, aktivitas membaca bersama dapat mengalihkan beban psikologis Gen Z.
“Adanya kegelisahan terhadap realitas dan kejenuhan menghadapi problem, membuat mereka mulai berpikir mengalihkan pikiran dengan membaca buku dan berkomunitas,“ ucapnya.
Lanjutnya, fenomena ini berpotensi menghasilkan banyak komunitas intelektual yang dapat meningkatkan budaya literasi di masyarakat. Ia menekankan keberadaan kelompok semacam ini krusial, karena perubahan sosial sering bermula dari komunitas intelektual yang memiliki kesadaran rasional terhadap realitas.
Ubed mencontohkan kemunculan Renaissance pada abad ke-15 yang mendobrak kejumudan ilmu pengetahuan di Eropa. Fenomena tersebut, terang Ubed, dipengaruhi oleh kaum intelektual yang membaca dan mendiskusikan kembali literatur-literatur rasional dari periode Yunani Kuno.
“Seluruh perubahan sosial di dunia memang lahir dari komunitas intelektual. Lahir dari orang-orang yang memiliki kesadaran rasional terhadap realitas,” tegas Ubed.
Reporter/penulis: Hawari dan Rian
Editor: Andreas Handy

