Tim Didaktika mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Martin Suryajaya, seorang penulis filsafat sekaligus kritikus sastra dan novel melalui Zoom Meeting pada Jumat (19/05). Wawancara tersebut berkaitan dengan fenomena penggunaan ChatGPT yang semakin marak khususnya dalam dunia sastra.

 

Apa masalah yang muncul dalam dunia sastra dengan kehadiran ChatGPT?

Dalam dunia sastra penggunaan ChatGPT mempunyai keterbatasan yaitu tidak dapat membuat suatu cerita utuh, terutama mengenai isu sensitif karena ChatGPT sudah dibatasi oleh sensor moral. Jadi, ChatGPT hanya dapat memberikan referensi plot menarik, karakterisasi penokohan, dan struktur penulisan. Selain itu, Artificial Intelligence (AI) dilatih dengan basis data dari berita dan Wikipedia sehingga tulisan yang dihasilkan lebih bersifat faktual jurnalistik daripada bersifat puitik.

Apakah karya sastra yang dihasilkan oleh ChatGPT dapat disebut sastra? 

Suatu produk tulisan yang dihasilkan oleh ChatGPT tetap bisa disebut sebagai sastra atau tidak tergantung dari sudut mana kita menilainya. Sebagai contoh, ada beberapa puisi yang bukan puisi pada awalnya. Namun, ketika tulisan tersebut dipublikasikan oleh sastrawan sebagai karya sastra maka ia menjadi karya sastra, sama halnya dengan yang dihasilkan oleh ChatGPT.

Iklan

Menurut Martin, apa ada yang berubah dari sastra dengan hadirnya ChatGPT?

Hadirnya ChatGPT memperlihatkan bahwa sekarang mesin sudah bisa membuat tulisan seperti yang ditulis oleh sastrawan, sehingga sastrawan ditantang untuk dapat lebih kreatif dan berani melakukan eksperimen dalam dunia sastra. Seperti yang dilakukan oleh seorang sastrawan Amerika bernama Kenneth Goldsmith, ia menulis sebuah novel berjudul Weather berisi laporan berita cuaca tanpa diperindah oleh diksi puitik selayaknya karya sastra pada umumnya.

Apakah kehadiran ChatGPT dapat mengancam sastra itu sendiri?

Tidak mengancam karena daripada menjadi lawan dari sastra, justru ChatGPT dapat menjadi alat bantu bagi para sastrawan. Melalui ChatGPT sastrawan dapat menguji karya sastranya dan melihat sudah sejauh mana kemampuannya. Jadi, sastrawan akan terus berusaha untuk melakukan hal yang lebih jauh dari ChatGPT.

Bagaimana supaya ChatGPT dan sastra dapat berjalan beriringan? 

ChatGPT dan sastra dapat berjalan beriringan jika sastrawan sendiri mau merubah mindsetnya. Kalau sastrawan masih berpikir sastra hanya bisa dikerjakan oleh manusia, sementara mesin tidak bisa, atau bahkan sastrawan juga tidak mau menyentuh ChatGPT berarti ada masalah pada sastrawannya. Jadi, dalam menulis sastrawan tidak bisa asal menulis seperti dulu karena ia harus mengulik berbagai pengetahuan terlebih dahulu.

Baca Juga: Hadirnya ChatGPT Menuntut Dosen untuk Lebih Kreatif

Berarti kehadiran ChatGPT tidak mengancam para pekerja sastra?

Tentu tidak mengancam. Sebagai contoh, jika mahasiswa mengerjakan tugas menggunakan ChatGPT, maka ia harus melakukan pengecekan terlebih dahulu karena ChatGPT bukan mesin yang mengetahui segala persoalan. Sehingga, dosen tidak perlu khawatir saat ada mahasiswa yang menggunakan ChatGPT karena kecerdasan mereka dapat diukur melalui sejauh mana mahasiswa melakukan pengecekan dan tidak menerima begitu saja hasil dari ChatGPT.

Bagaimana dengan masalah plagiarisme ketika menggunakan ChatGPT? 

Iklan

Plagiarisme timbul ketika si pelaku men-copy paste seluruh hasil dari ChatGPT. Tulisan yang dihasilkan oleh ChatGPT tidaklah sepenuhnya benar, ketika ia diminta untuk menggali sesuatu lebih jauh maka hasil yang diberikannya cenderung keliru. Seperti yang saya sebut sebelumnya, mesin itu hanya memperkirakan kata, maka penyebutan sumber dari tulisan ChatGPT selalu salah. Jadi, suatu masalah dapat dikatakan plagiarisme jika si pengguna tidak memilah hasil yang diberikan oleh ChatGPT dengan benar dan teliti. 

Pengaruh positif dan negatif ChatGPT terhadap sastra?

Pengaruh positifnya, ChatGPT dapat menjadi wadah bagi para pelaku sastra untuk melewati batas-batas dari sastra. Ketika pelaku sastra sudah mulai mempertanyakan sastra lebih jauh, maka ChatGPT bisa menjadi tempat bagi pelaku sastra untuk mengeksplor hal tersebut. Sedangkan, pengaruh negatifnya membuat pelaku sastra menjadi malas mengulik dan langsung percaya begitu saja terhadap mesin, sehingga ia tidak melakukan pengecekan terhadap tulisan yang dihasilkan oleh mesin.

Bagaimana pandangan Anda terhadap dunia sastra kedepannya dengan hadirnya ChatGPT?

Dengan hadirnya ChatGPT malah membuat sastra semakin diperkaya karena sastrawan dapat melakukan berbagai eksperimen terhadap ragam sastra. Seperti ChatGPT yang menghasilkan beragam gaya penulisan sehingga memantik para sastrawan untuk terus kreatif dan mengeksplor hasil dari AI. Misalnya, perbedaan dari karya sastra tiap penulis, yang nantinya memunculkan sebuah kritik sastra yang baru dan pembacaan terhadap tulisan pun mengalami perubahan bukan sekadar mendeskripsikan sebuah teks. Namun, membiarkan mesin untuk mendeskripsikan ribuan teks dan sastrawan mengolah tafsiran tersebut.

Bagaimana seharusnya teknologi ini digunakan dengan baik?

ChatGPT harusnya digunakan secara kritis oleh tiap penggunanya. Jadi, ketika ia menggunakan ChatGPT, ia tak sekadar percaya pada tulisan yang dihasilkan oleh  AI. 

 

Penulis/Reporter: Chika

Editor: Devita