Make Rojava Green Again : Membangun Masyarakat Ekologis

Komune Internasionalis Rojava

Rasi Imaji

2020

104 halaman

“Sentralisasi pertanian, perampasan tanah petani, dan migrasi ke kota semakin menghancurkan pengetahuan masyarakat juga bagi semua alam” –Abdullah Ocalan

Iklan

Kapitalisme hari ini telah mengakar ke berbagai aspek kehidupan. Corak produksi akumulatif dalam sistem kapitalis seakan memacu eksploitasi berlebihan terhadap para pekerja maupun sumber daya alam demi kepentingan pribadi. Hal ini pada akhirnya, selain menindas kaum pekerja, juga secara langsung merusak alam serta ekologi di seluruh dunia.

Tak perlu jauh-jauh, program food estate yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 2021 yang dianggap gagal menjadi bukti nyata akan peran sentralisasi dalam penghancuran ekosistem. Proyek food estate yang dianggap sebagai solusi ketahanan pangan malah menimbulkan masalah berkepanjangan bagi alam maupun penghuni asli tanah yang akan dijadikan proyek tersebut.

Program food estate yang direncakan sebagai lumbung pangan nasional tentunya akan membutuhkan pembukaan lahan yang besar. Lahan-lahan itu tak lain merupakan kawasan hutan yang menjadi rumah bagi banyak pohon, satwa-satwa liar, maupun area penghidupan masyarakat adat. Dengan terjadinya pengalihfungsian areal hutan menjadi pertanian monokultur, tentu akan menciptakan kerusakan ekosistem dan keragaman hayati di mana alam dengan segala fungsinya bagi bumi berubah menjadi area ciptaan yang terfabrikasi.

Menrut Iola Abas, Koordinator Nasional Pantau Gambut, dari keseluruhan 64% atau sekitar 883.000 hektare dari wilayah food estate merupakan area Fungsi Ekosistem Gambut (FEG) yang berstatus lindung. Apabila wilayah ini dibuka dengan mengabaikan karakteristik dan tata kelola lahan yang berkelanjutan, maka akan mengakibatkan kebakaran hutan, banjir, membuat tanah dan air di sekitarnya tercemar, serta melepaskan emisi karbon yang sangat besar.

Perusakan alam secara masif ini berujung pada berubahnya iklim bumi secara signifikan. Perubahan iklim bukan hanya sebatas naiknya suhu permukaan bumi, melainkan akan juga berdammpak pada berubahnya curah hujan yang semakin kacau, menyebabkan kemarau panjang maupun banjir-banjir besar.

Sampainya Kita Kepada Kapitalisme

Mungkin, perlu diperhatikan bagaimana pada akhirnya bisa terbentuk suatu pola pengerusakan alam secara masif ini. Sejak awal di zaman nenek moyang kita, manusia selalu hidup bersamaan dengan alam. Alam dianggap sebagai sesuatu yang hidup, sehingga manusia menghormati dan bergantung padanya.

Dengan berkembangnya teknologi pertanian, di mana manusia bisa menghasilkan makanan lebih banyak, terciptalah sebuah hirarki dalam struktur masyarakat di mana si pemilik lahan dan pangan terbanyak dianggap superior, yang menyebabkan terjadinya perang untuk memperebutkan lahan.

Persaingan pembukaan lahan yang ugal-ugalan demi menanjaki hirarki sosial inilah yang akhirnya menyebabkan pembabatan hutan. Selain itu, dengan munculnya hirarki, muncul pula kaum-kaum elit yang menempatkan dirinya di atas hirarki masyarakat sebagai utusan tuhan. Pola ini mengasingkan manusia dari alam, di mana manusia merasa sudah bisa menaklukan alam sebagai utusan tuhan, sementara menghilangkan “kegaiban” alam dan menjadikannya sebagai objek pasif.

Seiring berjalannya waktu, pola ini terus menerus dipertahankan hingga sampai pada era kapitalisme sekarang ini. Di era kapitalisme di mana terjadi monopoli besar-besaran, alam dijadikan sebagai komoditas privat yang hanya dipandang sebagai bahan mentah yang bisa menghasilkan keuntungan. Masyarakat yang tidak memiliki akses terhadap alam, semakin terasingkan dan tidak lagi memiliki rasa keselarasan dengan alam.

Iklan

“Kapitalisme telah membengkokan entitas lingkungan dan menghasilkan monokultur besar. Sentralisasi ini serta keterasingan di antara manusia terhadap alam menyebabkan perlawanan sejak awal, karena petani kecil tidak mau menyerahkan tanah mereka;..” Hal. 43

Komune Rojava dalam upaya merebut alam

Dengan semakin terprivatisasinya alam, pun juga akan menyebabkan kesenjangan maupun kemiskinan bagi orang-orang yang tidak memiliki lahan. Komune Rojava hadir sebagai bentuk perlawanan dalam tatanan yang demokratis dan ekologis.

Rojava sendiri adalah sebuah daerah di utara Suriah yang bangkit dari konflik perang Timur Tengah. Di tanah yang serba carut-marut itu, muncul ide-ide kemerdekaan demokratis di mana manusia bisa menghidupi dirinya sendiri tanpa perlu menggantungkan diri pada pemerintah sentral, dan hidup selaras dengan alam, dalam sistem egaliter dimana tidak adanya penindasan dan hirarki sosial.

Komite Hijau Rojava adalah sebuah komite yang mengatur dan menginisiasikan terbentuknya corak kehidupan manusia yang selaras dan tidak merusak alam. Fokus utama dari gerakan ini adalah desentralisasi yang menghilangkan kuasa pusat akan sumber daya, menghasilkan komoditas secara mandiri sesuai kebutuhan alami manusia, bukan atas tujuan akumulatif.

Kemandirian inilah yang nantinya akan menjadi kunci akan pelestarian alam. Corak-corak akumulatif yang serakah dalam produksi komoditas, seperti pertanian monokultur dan penggunaan pupuk kimia, hanya akan memberi manfaat dalam waktu dekat, tetapi jika ditarik lebih jauh malah hanya akan merusak alam itu sendiri, seperti rusaknya kualitas tanah maupun penyebaran penyakit dari makanan.

Agroforesti yang diterapkan di Rojava menjadi alternatif dalam melawan dominasi praktik monokultur pada umumnya. Agroforestri sendiri adalah sebuah sistem yang menggabungkan pertanian dengan perhutanan dengan varietas jenis tanaman yang beragam. Dengan adanya pelestarian hutan di sekitar area pertanian, turut serta menyediakan habitat bagi keragaman hewandan berperan mengurangi erosi.

Di saat yang sama pula, kehadiran pohon juga mengurangi kebergantungan tanaman biji-bijian terhadap pupuk kimia. Dedaunan kering yang rontok akan terproses secara alami dan menjadi sumber hara yang bisa digunakan secara langsung oleh pertanian. Dengan adanya varietas tanaman ini pulalah yang mencegah terjadinya kerusakan tanah akan habisnya sumber nutrisi seperti dalam sistem monokultur yang menyesap habis nutrisi.

Selain agroforestri, desentralisasi pertanian juga menjadi fokus utama masyarakat Rojava. Pertanian perkotaan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat akan sayur dan buah secara mandiri. Pupuk yang digunakan pun tak lain bersumber dari limbah organik rumah tangga. Selain tidak mengganggu ekosistem alami dengan membuka lahan secara liar, pertanian perkotaan juga meningkatkan otonomi masyarakat dan melepaskan ketergantungan pangan dari kuasa pusat.

Dengan tak adanya ketergantungan pangan terhadap pusat, secara langsung juga mengurangi dampak yang ditimbulkan dari sistem sentralistik yang memerlukan alat-alat pertanian seperti pupuk, serta mengurangi polusi yang ditimbulkan dari perlunya proses pengiriman logistik dari pusat produksi hingga sampai ke atas piring masyarakat.

Gerakan pembebasan di Rojava seakan menjadi percontohan, akan berdirinya masyarakat yang demokratis, egaliter, dan selaras dengan alam sebagai sikap yang mungkin bisa ditiru oleh banyak orang, bahkan di Indonesia itu sendiri.

Dengan mengurangi perilaku konsumtif, menggunakan transportasi umum, serta mengurangi pembuangan sampah adalah cara kecil dalam memupuk kesadaran akan pentingnya keberlangsungan alam bagi manusia.

Buku Make Rojava Green Again yang diterbitkan secara kolektif oleh Rasi Imaji ini menjadi sebuah jendela pembuka mata akan mungkinnya gerakan-gerakan masyarakat yang kolektif untuk menjaga kelestarian lingkungan. Walau pada akhirnya terdapat berbagai kekurangan penerjemahan, yang wajar sebenarnya mengingat terbitan secara sukarela dengan tujuan non-profit, diharapkan bisa memberi gambaran besar mengenai perlawanan rakyat Rojava menghadapi krisis iklim maupun kapitalisme.

 

Penulis: Muhamad Walidudin

Editor: Izam Komaruzaman