“Upaya menjadi jiwa yang adil dalam memimpin, digambarkan Plato ibarat seorang sais (logistikon) yang mampu mengendalikan dengan baik dua bagian jiwa lainnya, yaitu kuda putih (thumos) dan kuda hitam (epithumia)”. Hlm 228.

 

Kebobrokan moral penguasa, masih menjadi permasalahan yang sering terjadi, terutama dalam rezim pemerintahan bergaya demokrasi seperti Indonesia. Tak lepas dari itu, pendidikan menjadi salah satu sektor yang terdampak dalam kekuasaan ini. Banyak ditemukan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang melakukan korupsi.

Berdasarkan penuturan peneliti ICW (Indonesia Corruption Watch) Dewi Anggraeni, mengatakan terdapat 240 korupsi pendidikan yang ditindak aparat penegak hukum dalam waktu enam tahun terakhir. Dan Sebagian besar pelakunya adalah lulusan pendidikan tinggi. Dipandang dari sudut manapun, tidak ada pemimpin besar yang tidak lahir dari suatu pendidikan.

Hal ini tentu memberikan akibat buruk bagi wajah dunia pendidikan di Indonesia. Sektor pendidikan yang hakikatnya menjadi wadah untuk mendidik generasi penerus bangsa, justru tercederai oleh perilaku penyelenggara pendidikan itu sendiri. Korupsi di bidang pendidikan mengancam kesejahteraan masyarakat karena mengikis kepercayaan sosial dan memperburuk ketidaksetaraan, serta berpotensi merusak pembentukan individu yang terdidik, kompeten dan tidak individualis.

Maka dari itu, menurut Plato dalam bukunya Paideia: Filsafat Politik Pendidikan Platon,  (2019) karya A. Setyo Wibowo, mendefinisikan bahwa paideia sebagai proses pembalikan seluruh diri manusia atas jiwanya. Paideia, sebagai lawan dari kondisi apaideusia, dimana manusia tak terdidik dan tak berbudaya beranjak pada kondisi berbudaya. Pemikiran Plato mengenai Paideia, bermula pada kekecewaannya terhadap polis atau negara tempat ia tinggal.

Iklan

Yang dimaksud dengan pendidikan masih dalam kondisi apaideusia adalah ketika wajah pendidikan hanya akan dipimpin oleh individu yang mementingkan dirinya sendiri. Kepemimpinan dipandang sebagai sebuah fungsi, bukan hanya sebagai kedudukan atau hasrat egois seseorang. Agar sampai pada karakteristik pemimpin seperti ini, maka langkah yang harus dilakukan adalah melalui pendidikan calon pemimpin.

Seorang siswa haruslah dididik melalui proses pengajaran yang tepat. Proses belajar mengajar bukanlah soal seberapa mampu seorang anak menghapalkan berbagai materi yang disampaikan. Pun bukan soal kurikulum yang menghadirkan jumlah mata pelajaran yang banyak, sehingga alih-alih merasa senang belajar, para siswa justru merasa terbebani.

Sekolah akhirnya bukan lagi menjadi tempat belajar menyenangkan melainkan beban yang harus dipikul oleh setiap siswa. Sehingga pendidikan bukan hanya mengenai bagaimana seseorang menjadi pandai, tetapi bagaimana seseorang memaknai sebuah karakter yang baik dalam membentuk dirinya.

Plato mengungkapkan hal tersebut, sesuai dengan kisahnya sendiri. Keluarga Plato berasal dari kalangan aristokrat atau bangsawan yang juga memiliki peran penting bagi politik Atena. Namun, cita-cita serta ambisi Plato untuk menjadi seorang politikus akhirnya kandas ketika sang guru yang sangat ia kagumi tutup usia karena ketidakadilan dari polis.

Socrates ditangkap dengan tuduhan telah merusak dan meracuni pikiran para pemuda dengan  mengembangkan ajaran baru di Athena. Ia dijatuhi hukuman mati dengan meminum racun oleh pemerintah demokratis saat itu. Kematian Socrates dinilai Plato sebagai keadaan sistem pemerintahan yang tidak beres, dan juga adanya kebobrokan moral para penguasa. Plato tidak puas dengan penguasa yang tidak memiliki pengetahuan dan kekuatan moral untuk bertindak sesuai dengan kebaikan bersama-dengan kata lain, penguasa yang dimotivasi oleh kepentingan pribadi bukanlah pemimpin yang kuat.

Untuk itu, Plato menggambarkan hadirnya tiga manifestasi hasrat dalam diri manusia yang akan memunculkan pemimpin negara dengan kearifan dan kebijaksanaan, dengan tujuan agar tidak ada lagi pemimpin yang mementingkan dirinya sendiri. Karena Plato, melihat bahwa prinsip hidup demokrasi, yang dianut oleh sebuah negara hanyalah ‘suka-suka’, maka kualitas politis menjadi payah. Pemimpin politik dan kebijakan politik yang landasannya menjadi tak berdasar dan hanya mementingkan urusan pribadi.

kita bisa melihat bahwa mendidik calon pemimpin bukan hanya persoalan memberikan mereka pengetahuan-pengetahuan teknis dan praktis, tetapi juga membentuk jiwa atau karakter. Proses pembentukan karakter harus dijadikan dasar penting untuk membentuk pemimpin yang ideal. Artinya, pemimpin ideal mustahil tanpa adanya karakter yang selalu terarah pada yang baik.

Pertama, ada bagian nafsu-nafsu dari perut hingga ke bawah yang bernama epithumia (keinginan makan, minum dan seks, atau gampangnya adalah uang). Kedua, di atasnya, sekitar dada, adalah thumos (keinginan, kehormatan dan harga diri). Dan ketiga adalah rasio (logistikon) yang ada di leher hingga kepala.

Epithumia, mengambil bagian nafsu yang dengannya dapat menghancurkan seorang individu. Hal ini disebabkan, diri manusia yang tidak bisa mengontrol kelangsungan hidupnya sendiri, dengan kodratiah bersifat tidak puas. Banyak pejabat, ulama bahkan petinggi-petinggi yang pada akhirnya terjungkal dari tahtanya karena mengikuti hasrat epithumia.

Contohnya, ketika seorang pejabat hanya mementingkan kepentingannya sendiri, seperti makanan, minuman dan seks atau gampangnya adalah uang, yang pada akhirnya dicari terus-menerus tanpa henti hingga selalu memiliki rasa ketidakpuasan, yang pada tingkat tertentu akan membuat individu manusia sendiri hancur sendiri.

Iklan

Untuk itu, manusia memerlukan elemen pengontrol diri, yakni rasio atau logistikon dalam mengendalikan nafsu irasional. Bila nafsu haus menggebu-gebu, menginginkan sesuatu, meminta dipenuhi kapanpun dengan cara apapun, maka logistikon mengendalikan kapan dan dimana sebaiknya nafsu itu dipenuhi. Disatu sisi, logistikon memiliki fungsi untuk menghitung-hitung, kapan sebuah nafsu harus dipenuhi atau tidak.

Setelah pemimpin memiliki dua rupa keindahan dan kebajikan dalam jiwa, Plato menyebutkan bahwa keseimbangan lainnya dapat dilihat dari adanya thumos, atau prinsip semangat berbangga diri juga merangsang jiwa manusia saat melihat sesuatu yang mengecewakan, sehingga muncullah sikap memberontak atau melawan sesuatu yang mengecewakan itu. Ia menjadi pembantu logistikon untuk menahan hasrat epithumia.

Sebagai pemimpin, tokoh politik, sosok yang ditokohkan dan menjadi panutan dalam masyarakat, sudah seharusnya ‘berpijak dari sini dan bertolak lebih ke dalam’, ke dalam nilai-nilai dan gagasan filosofis susunan jiwa manusia menurut Plato ini. Praktisnya, pengendalian diri sangat penting, bukan hanya di saat ada ‘waktu khusus’ untuk menjalankannya, tetapi sepanjang kehidupan manusia.

Setiap tokoh masyarakat memang harus mampu mengendalikan diri, menyadari diri dan potensi-potensinya, serta mengatur segala pola pikir, rasa dan tindaknya, agar mampu menjalankan setiap tugasnya, dengan baik.

 

Penulis : Laila Nuraini Fitri

Editor : Asbabur