Aliansi Gerakan Buruh Bersama Rakyat (Gebrak) melakukan demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Kamis (04/09). Mulai pukul 11.00 WIB, massa aksi berjalan kaki dari Gedung International Labour Organisation menuju Patung Kuda.
Gebrak membawa berbagai tuntutan yang mereka sebut sebagai prioritas rakyat. Berbagai di antaranya adalah penghentian brutalitas aparat dan praktik militerisme di ruang publik. Selain itu, mereka juga menuntut penurunan harga pangan dan sembako.
Pun, terpampang patung tikus berdasi berukuran besar dalam aksi ini. Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), Sunarno menjelaskan makna patung tersebut adalah harapan agar semua koruptor dapat diadili dengan tegas.
Baca juga: Pak Presiden Jangan Jadi Pengecut
“Tikus itu binatang pengerat, sama dengan tikus yang memakan uang rakyat. Kami ingin pemerintah menangkap seluruh koruptor dan diadili. Asetnya dikembalikan kepada negara,“ jelasnya pada Kamis (04/09).
Sunarno juga menyoroti ketimpangan yang semakin tajam antara rakyat dan pejabat. Menurutnya, gaji pejabat bisa mencapai 30 kali lipat lebih besar dibandingkan upah buruh. Tambah Sunarno, buruh tercekik oleh kenaikan pajak dan harga barang pokok.
“Pemerintah harus menyatakan komitmen selalu mendengar aspirasi rakyat dengan mewujudkan segera berbagai tuntutan tersebut,“ tegasnya.
Massa aksi lainnya yang merupakan buruh pabrik asal Tangerang, Sari mempersoalkan keadaan ekonomi hari ini. Perempuan berusia 48 tahun tersebut menggambarkan sulitnya hidup di tengah jumlah gaji yang tidak sepadan dengan harga kebutuhan sehari-hari.
“Ayam sekarang bisa Rp40-50 ribu per kilo, kangkung yang dulu Rp3 ribu sekarang Rp7 ribu. Semua naik, tapi gaji kami dipotong sampai di bawah upah minimum kota (UMK). Gimana bisa bertahan?” ujarnya.
Sari mengatakan dirinya hanya mendapat upah Rp3,2 juta perbulan, meski UMK Tangerang berjumlah Rp5.069.000. Tambah lagi sejak 2021, gaji Sari dipotong sebesar 25 persen dari pihak perusahaan dengan alasan pandemi.
Imbas jumlah gaji yang tidak sebanding dengan harga kebutuhan pokok, Sari menyebut anaknya hanya sanggup bersekolah sampai tingkat SMA. Padahal, Sari ingin anaknya menyentuh bangku kuliah.
Sari kemudian membandingkan ketimpangan nasib buruh dengan pejabat. Keluhnya, buruh harus bertahan sebulan dengan upah hanya Rp3 juta, tapi anggota DPR mendapat jumlah gaji yang sama untuk satu hari.
“Bagaimana bisa mereka digaji Rp3 juta sehari sementara kami sebulan. Itu bikin kami marah. Turun ke jalan ini cara kami melawan,” tegasnya.
Sementara itu, Mahasiswa Universitas Siperbangsa Karawang, Tri Prasetio yang tergabung dalam massa aksi menilai negara hari ini semakin mengekang demokrasi. Ia mengecam sikap represif aparat terhadap massa aksi pada demonstrasi belakangan ini.
“Negara terus menunjukkan sikap represinya. Lebih dari 3.000 orang ditangkap dan beberapa tokoh gerakan juga ditahan. Itu bentuk pembungkaman dan pengkhianatan terhadap amanat undang-undang dasar,” ujarnya jelasnya pada Kamis (04/09).
Baca juga: Aliansi Perempuan Indonesia Desak Presiden Hentikan Represifitas Aparat
Ia menegaskan, negara harus segera menghentikan kekerasan aparat dan membebaskan ribuan peserta aksi yang ditangkap. Baginya, negara tidak boleh menciptakan ketakutan bagi masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.
Lelaki yang akrab disapa Tio itu menyebut gerakan mahasiswa tidak bisa lagi berhenti pada aksi moral semata. Namun baginya, perlu peleburan antara gerakan mahasiswa dan rakyat untuk membangun alat politik yang lebih konkret.
“Reformasi hari ini sudah dikhianati. Maka kita perlu membentuk alat politik sendiri dan pada akhirnya mengambil alih kekuasaan itu,” pungkasnya.
Penulis/reporter: Zahra Pramuningtyas
Editor: Andreas Handy

