Aksi Kamisan yang telah digelar selama 17 tahun kembali berlangsung dengan khidmat di depan Istana Negara, pada Kamis (4/9). Aksi Kamisan ini selain mengenang aktivis kemanusiaan Munir Said Thalib yang wafat karena diracun, juga menuntut keadilan atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang masih terjadi di Indonesia.
Pada kesempatan ini, massa aksi juga mengenang Affan Kurniawan, korban yang meninggal dunia setelah dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob pada Kamis malam (28/8). Perwakilan dari ojol yang berorasi menyebut wafatnya Affan menjadi bukti praktik kekerasan aparat kepolisian masih terjadi.
Mahasiswi Universitas Indonesia (UI) yang datang ke Aksi Kamisan, Haura menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam mengawal isu-isu HAM. Sebab, mahasiswa sebagai generasi muda berperan penting sebagai estafet perjuangan keadilan di Indonesia.
Baca juga: Demonstrasi Gebrak Menuntut Penurunan Harga Barang Pokok
Lebih lanjut, Haura menjelaskan, meskipun Aksi Kamisan digelar dengan damai dan penuh ketenangan, ironisnya perjuangan mencari keadilan bagi korban pelanggaran HAM masih menghadapi kebuntuan. Ia juga mengingatkan perlunya menuntut tanggung jawab negara atas pelanggaran HAM yang hingga kini belum diselesaikan.
“Sebagai rakyat, kita berhak menuntut negara agar segera menyelesaikan kasus pelanggaran HAM guna mewujudkan akuntabilitas,” ucap Haura.
Ia pun mengkritik aparat yang dianggap lebih melindungi kepentingan elit pemerintahan, sementara rakyat menjadi korban utama. Menurut Haura, institusi kepolisian harus melakukan reformasi serius. Sebab, kondisi saat ini menunjukkan aparat lebih sering berdiri berseberangan dengan rakyat, alih-alih melindung dan mengayomii.
“Kalau mau dibilang oknum pun sudah nggak bisa karena terlalu banyak, sekarang kita harus percaya sama siapa?” ujarnya dengan nada getir.
Sansan, mahasiswa akuntansi dari Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), melanjutkan bahwa kekecewaan masyarakat terhadap aparat justru semakin memicu lahirnya gerakan perlawanan yang lebih kuat. Dirinya menegaskan bahwa polisi seharusnya hanya menjalankan tugas mengawal dan mengawasi aksi, tanpa melakukan tindakan represif yang berpotensi menimbulkan korban.
Lebih lanjut, Sansan menjelaskan bahwa pola kekerasan aparat secara berulang membuat masyarakat semakin kehilangan kepercayaan terhadap negara dalam memberikan ruang kebebasan berpendapat. Kondisi inilah, katanya, yang mendorong munculnya tuntutan untuk melakukan Reset Indonesia agar sistem dan institusi dapat kembali menjalankan fungsi dasarnya.
“Institusi kepolisian sudah bobrok dan harus segera berbenah agar kembali menjadi pelindung rakyat,” tegas Sansan.
Baca juga: Pak Presiden Jangan Jadi Pengecut
Sementara itu, Arika Hayla Febriska atau Ayla, mahasiswi Sastra Indonesia UI angkatan 2025, mengungkapkan rasa geram terhadap pola kekerasan aparat yang terus berulang. Menurutnya, baik polisi maupun pemerintah sama-sama gagal karena takut menghadapi kebenaran dan tidak memiliki nurani.
Ketika ditanya mengenai kematian Affan Kurniawan, Ayla menunjukkan kekecewaan mendalam atas sikap aparat yang seolah tidak belajar dari sejarah kelam. Ia berharap suatu saat keadilan akan terungkap dan suara rakyat benar-benar didengar agar tragedi serupa tidak terulang kembali.
“Prabowo penjahat HAM, dari tahun 2007 sampai sekarang kita nggak pernah dikasih kejelasan. Tapi jangan menyerah, suatu saat keadilan pasti akan terungkap dan kebenaran akan hidup,” tutupnya.
Reporter/penulis: Safira Irawati
Editor: Lalu Adam

