Penghuni Rumah Susun Sentra Mulya Jaya di Bambu Apus, Jakarta Timur, yang ditargetkan mandiri secara ekonomi melalui koperasi dan kantin belum berjalan optimal. Pembatasan akses bagi masyarakat luar membuat perputaran ekonomi menjadi tersendat.
Dari siaran pers Kementerian Sosial (Kemensos), Rumah Susun (Rusun) Sentra Mulya Jaya diresmikan pada tahun 2023. Rusun hasil kolaborasi antara Kemensos dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) ini dirancang sebagai hunian layak bagi kelompok rentan, mulai dari pemulung hingga warga yang sebelumnya tinggal di kolong jembatan.
Melalui sumber serupa, diketahui penghuni dikenakan biaya sewa ringan sebesar Rp10.000 per unit setiap bulan. Hunian ini bersifat sementara, dengan masa tinggal maksimal dua hingga tiga tahun. Selama periode tersebut, Kemensos menjanjikan program kemandirian ekonomi agar penghuni dapat hidup mandiri setelah masa tinggal mereka berakhir.
Dukungan ini meliputi pemberian modal usaha, penyediaan area kantin, dan pembentukan koperasi. Namun satu tahun berselang, sejumlah fasilitas tersebut tidak berfungsi secara maksimal.
Baca juga: Fasilitas Rusun Pesakih Tidak Ramah Lansia dan Penyandang Disabilitas
Salah satu penghuni yang akrab dipanggil Lena mengatakan, kantin yang telah dilengkapi kursi dan meja tidak pernah benar-benar beroperasi. Menurutnya, kebijakan keamanan yang membatasi akses masyarakat luar untuk masuk ke rusun menjadi kendala utama.
Lena menambahkan, sangat tidak mungkin hanya mengandalkan pembeli dari warga rusun. Sebab, lanjutnya, mereka saja susah payah untuk memenuhi kebutuhan hariannya.
“Rencananya tempat itu digunakan untuk berjualan, tetapi orang luar tidak boleh masuk. Mereka harus meminta izin kepada petugas keamanan dulu jika ingin berbelanja di sini,” keluh Lena saat ditemui pada Senin (16/2).
Ia menjelaskan, sistem keamanan yang kaku dan pembatasan tamu membuat dagangan warga kehilangan calon pembeli. Lena menyebut warga merasa terisolasi di dalam lingkungan sendiri tanpa adanya perputaran uang dari pihak luar.
Perempuan berumur 49 tahun itu menjelaskan, koperasi yang diharapkan menjadi penopang ekonomi penghuni rusun justru terpuruk. Meski pernah ditunjuk sebagai bendahara, ia mengaku tidak dilibatkan karena operasional sepenuhnya dikendalikan pengelola.
Bagi Lena, pemasukan ekonomi warga rusun terdampak saat warga tidak dilibatkan dalam pengelolaan koperasi. Sambungnya, hal itu berakibat pada penjualan yang seret dan daya beli penghuni melemah.
“Barang-barang banyak yang busuk karena tidak ada yang beli, akhirnya dijual murah supaya habis saja. Koperasi cuma bertahan sekitar 6 bulan,” terangnya.
Setali tiga uang, hal tersebut juga dirasakan oleh Daeng (bukan nama sebenarnya). Ia menilai warga enggan membeli stok di koperasi karena harga jualnya lebih mahal. Oleh karena itu, banyak warga yang memilih berbelanja di warung sekitar rusun karena harganya lebih murah.
Pria berusia 72 tahun itu menyoroti ketidakwajaran harga tersebut. Penetapan harga di koperasi, ujar Daeng, seharusnya lebih rendah atau setidaknya mengikuti dengan harga pasar.
“Saya pas muda pernah jadi pegawai negeri, jadi tahu aturan koperasi. Kalau harga di koperasi lebih tinggi, hal itu berisiko,” tegasnya saat ditemui Didaktika pada Jumat (13/2).
Berlandaskan itu, Daeng yang telah menetap sejak tahun pertama peresmian rusun memilih untuk membuka warung kecil di unitnya. Langkah tersebut diambil setelah melihat harga koperasi yang tidak terjangkau.
Dalam prosesnya, Daeng mengungkapkan bahwa bahan dagangannya dikumpulkan secara bertahap. Ia menggabungkan antara bantuan Kemensos dengan dana pribadi yang dikumpulkan dari pekerjaan sebelumnya.
“Modal warung ini sebagiannya hasil memulung. Kalau dari Kemensos saya dapat kopi, gula, beras, dan termos,” ucapnya.
Selanjutnya, Daeng bercerita ihwal pendapatan dari hasil berniaga yang tidak menentu. Menurutnya, hal ini terjadi karena daya beli penghuni rusun sangat terbatas secara finansial.
Ia menjelaskan bahwa keterbatasan ekonomi tetangganya kerap membuat mereka membeli secara piutang. Kondisi ini membuat uang hasil usahanya tertahan di tangan pembeli, sehingga terkadang pemasukan Daeng tidak dapat menutupi keperluan rumah tangganya.
“Pendapatan memang ada tapi tidak banyak. Kadang sehari hanya mendapatkan sekitar Rp10.000 saja. Sehingga sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Kondisi terbatasnya akses bagi masyarakat luar dikonfirmasi oleh Staf Pengelola Rusun Sentra Mulya Jaya, Fauzan Amin. Akses bagi masyarakat luar memang belum terwujud, pengawasan ketat.
“Kalau untuk membuka akses ke lingkungan untuk masyarakat (luar), belum terwujud. Paling dari warganya sendiri yang mau berbaur dengan masyarakat sekitar,” ujar Fauzan saat ditemui di ruangannya pada Jumat (13/2).
Terkait bantuan usaha, Fauzan menegaskan bahwa dukungan modal hanya diberikan satu kali dalam bentuk barang sesuai keterampilan masing-masing penghuni. Pihak pengelola juga memberlakukan masa pemantauan selama tiga bulan untuk mengevaluasi keseriusan penerima manfaat.
Di sisi lain, ia mengakui bahwa pengelola belum membuka akses pasar bagi para penghuni. Menurut Fauzan, pemberian tempat usaha kepada satu orang dikhawatirkan memicu kecemburuan sosial di antara warga.
“Jadi kami pikir lebih baik mereka yang menentukan sendiri mau di mana tempat usahanya didirikan,” tutupnya.
Baca juga: Kejar Kuota Penuh, Asesmen Rusun Sentra Mulya Jaya Diabaikan
Pada 11 Februari, Didaktika telah menyambangi kantor pengelola rusun dengan membawa surat permohonan wawancara. Akan tetapi, satpam memberitahu, kepala pengelola tengah melakukan rapat dan tidak dapat diganggu.
Didaktika pun menghubungi Fauzan Amin pada Sabtu (21/2) melalui WhatsApp. Kami meminta kontak kepala pengelola untuk keperluan konfirmasi terkait informasi yang diperoleh. Namun, permintaan tersebut ditolak. Ia beralasan harus bersurat ke kantor pusat yang beralamat di Jl. Tat Twam Asi No. 47, Pasar Rebo, sesuai arahan dari atas.
Kemudian Didaktika mengajukan permohonan wawancara secara daring. Akan tetapi, hingga berita ini diterbitkan Fauzan belum memberi tanggapan.
Reporter/penulis: Diajeng Gihan
Editor: Safira Irawati

