23 tahun lalu, tepatnya saat pesta tahun baru 2000, seluruh dunia merasakan sebuah euforia yang membuncah. Setiap orang dengan wajah-wajah penuh harapan menyambut lahirnya milenium baru. Salah satunya di Inggris, ketika ribuan orang berbaris rapih di pinggiran Sungai Thames menunggu detik-detik pergantian milenium.

Harapan tentu juga diiringi dengan sebuah rasa takut. Benar saja, apa yang dinamakan millenium bug benar-benar terjadi. Setelah ratusan kembang api ditembakkan ke langit, seketika itu juga ratusan komputer mengalami kendala. Ihwalnya sepele, mungkin sekadar perangkat tidak dapat menunjukkan angka 00 di layar.

Kegagalan penanggalan dari peranti komputer, memiliki efek domino tersendiri. Waktu itu, memang sudah jamak bagi perusahaan atupun lembaga lain menggunakan komputer sebagai basis datanya. Peristiwa yang kerap dikenang dengan nama Year 2 kilo (Y2K) tersebut menimbulkan kerugian cukup besar. Moda transportasi, saluran energi hingga mesin slot mati, membuat roda-roda perputaran kapital macet.

Selang 23 tahun kemudian, manusia mungkin sudah tidak lagi mengalami ketakutan di atas. Komputer sudah ditingkatkan sedemikian rupa. Penanggalan dua digit juga sudah ditinggalkan. Dulunya cara tadi ditempuh untuk efisiensi dan menghemat penyimpanan. Mutlak menjadi tidak relevan, ketika hari ini ditemukan ruang-ruang penyimpanan data berbasis awan.

Teknologi memang berkembang sedemikian cepatnya. Setidaknya dalam satu dekade terakhir perubahan-perubahannya memang begitu kentara. Mungkin, di awal 2000-an manusia masih memimpikan terciptanya suatu perangkat ringkas yang mampu mengakomodir kerja-kerja mereka. Benar saja, tidak perlu waktu lama bagi Steve Job merealisasikan mimpi tersebut dengan mengenalkan Iphone kepada dunia.

Demikian juga dengan saat ini, di mana dunia sedang memasuki suatu fase digitalisasi secara total. Terbukti dari pertemuan G-20 di Bali kemarin, salah satu bahasannya adalah transformasi ekonomi ke arah digital sebagai bentuk pemulihan pasca Pandemi Covid-19. Tak ayal, terbesit pertanyaan-pertanyaan mendasar bagaimana teknologi berkembang kedepannya?

Iklan

Masifnya penggunaan media sosial dan kemunculan metaverse, sedikit banyak memberikan gambaran soal pertanyaan tadi. Namun terdapat sesuatu lain, bagaimana muncul ketidakberdayaan manusia menghadapi perubahan teknologi yang pesat. Apalagi pasca pandemik yang berlangsung selama dua tahun belakang, dan muncul istilah “kenormalan baru”.

Baca Juga: Hapus Email Tidak akan ada Gunanya Selagi Kapitalisme Masih Hidup

Kondisi pandemik memang memaksa manusia beradaptasi dengan keadaan. Pertemuan-pertemuan fisik yang dibatasi secara ketat, bahkan untuk urusan penting sekalipun. Membuat semua orang memutar otak supaya rutinitasnya tetap berjalan. Jika, sebelumnya rapat di dunia maya terdengar aneh, di waktu ini hal barusan terasa normal-normal saja.

Namun, ketika semua manusia secara berat hati menerima segala bentuk kenormalan baru tadi. Kapitalisme memanfaatkan dengan baik kondisi krisis ini. Bisa dilihat dari keuntungan beberapa perusahaan berbasis digital selama pandemi. Ruang digital yang sebelumnya tidak dimanfaatkan secara efektif, kini menjadi ladang basah akumulasi kapital.

David Harvey mempunyai teori sendiri soal penciptaan ruang oleh Kapitalisme, disebutnya sebagai Spatio-temporal fix. Teori ini, menguraikan bagaimana jalan keluar dari krisis adalah dengan menciptakan ruang-ruang baru untuk ekspansi kapital. Tidak mengherankan, jika saat ini semakin banyak perusahaan terus berlomba-lomba mentransformasikan dirinya di ruang digital.

Contoh kecilnya bagaimana seorang Elon Musk mengakusisi Twitter beberapa waktu lalu. Ia melakukan banyak perombakan besar terhadap platform ini. Paling kentara mungkin dengan adanya pungutan biaya bagi mereka yang ingin menggunakan centang biru di profilnya. Twitter yang sebelumnya bisa dikatakan gratis oleh pemakainnya, kini turut menerapkan sistem berlangganan untuk mencari keuntungan.

Tentu bukan hanya aplikasi berlogo burung berwarna biru itu saja, yang menawarkan sistem berbayar untuk fitur premiumnya. Bermacam aplikasi telekonfrensi, pemutar musik, hingga pemutar film juga menerapkan hal serupa. Bayangkan nantinya, akibat ekspansi digital kita terjebak di penjara maya, dan dipaksa membayar di dalamnya.

Tak pelak, ketidakberdayaan kita menghadapi kemajuan teknologi bisa jadi dibuat secara sengaja. Kenormalan baru menjadi pelumas utamanya, untuk menanamkan kebiasan hidup di dunia digital selama masa pandemi. Bisa dibayangkan ke depannya, orang-orang hanya dijadikan konsumen pasif oleh kapitalisme digital.

Pasca pandemik yang berlangsung selama dua tahun belakangan. Momentum pergantian tahun kali ini, memang begitu ditunggu. Pembatasan pertemuan kini telah dihapus seluruhnya. Banyak orang ingin kembali merayakannya serupa dengan yang pernah terjadi sebelum wabah menyerang.

Meskipun begitu, konstruksi kenormalan baru sebagai jalan masuk pembiasaan kehidupan maya, tidak bisa kita hilangkan begitu saja. Walau sekarang pertemuan-pertemuan kembali terjadi secara tatap muka, nyatanya banyak orang yang justru enggan melakukannya. Alasan utamanya, mungkin sekadar efisiensi ruang dan waktu.

Iklan

Ya, tinggal kita tunggu saja bagaimana kedepanya kapitalisme digital terus berkembang, dan memaksa kita mengikutinya. Bisa saja fenomena Y2K memang tidak terulang. Tapi malah muncul fenomena-fenoma lain yang serupa. Mungkin saja, dua dekade lagi di momen pergantian tahun baru, orang-orang berbaris di pinggiran Sungai Thames bersama robot untuk menyaksikan kembang api.

 

Redaksi