Pedagang Kantin Gedung Blok M resah. Tiga persen dari omzet mereka per hari akan dipotong untuk biaya pemeliharaan gedung.

Pedagang kantin yang terletak di sekitar Gedung G tampak mulai berbondong-bondong pindah ke Gedung Kantin Blok M pada Sabtu (12/08). Dua hari setelahnya, sejak Kantin Blok M dibuka pedagang akan dihadapkan dengan sederet perubahan mengenai aturan kantin. Salah satu perubahan yang bakal diterapkan, yakni pemotongan tiga persen dari omzet pedagang setiap harinya.

Kepala Badan Pengelola Usaha (BPU) UNJ, Sofiah Hartati menjelaskan pemotongan tiga persen dari omzet pedagang setiap harinya untuk dana pemeliharaan Gedung Kantin Blok M. Dana pemeliharaan yang dimaksud ditujukan untuk gaji sejumlah pegawai yang bekerja di Kantin Blok M.

“Kira-kira ada delapan orang pegawai yang terdiri dari empat orang petugas kebersihan, satu orang tukang jaga WC, dua orang petugas keamanan, dan satu koordinator. Jadi, uang yang 3 persen itu untuk menggaji mereka, “ ucap Sofiah pada Rabu (16/8).

Adapun di kantin baru, Sofiah mengucapkan nantinya pembayaran tak boleh lagi menggunakan uang fisik. Pembeli harus membayar dengan mekanisme QRIS.
Kepala Divisi Bidang Pengembangan Aset BPU, Rahman menjelaskan soal mekanisme pemotongan 3 persen. Ia mengatakan setiap pedagang akan dibuatkan dua rekening oleh pihak bank. Rekening tersebut terdiri dari rekening penampungan dan rekening pribadi milik pedagang.

“Uang dari pembeli masuk ke rekening penampungan. Setiap jam 12 siang akan dikirimkan 97 persen pendapatan pedagang ke rekening pedagang dan 3 persennya dikirim ke UNJ, “ tutur Rahman.

Iklan

Rahman memberitahukan pemotongan tiga persen baru akan diberlakukan setelah QRIS milik pedagang sudah siap semua. Kemungkinan minggu depan QRIS milik pedagang sudah siap semua, ujarnya pada Jumat (18/08).

Sejumlah pedagang resah lantaran nantinya pendapatan per hari mereka harus disisihkan tiga persen untuk pemeliharaan Gedung Kantin Blok M. Salah seorang pedagang kantin, Muhajir, merasa keberatan akan kebijakan baru tersebut. Bagi Muhajir, biaya sewa kantin kini sudah mencekik. Apalagi ditambah tiga persen pemotongan. Sebelumnya, lanjut Muhajir, ia hanya membayar sewa sekitar Rp 8 juta per tahun. Sedangkan sekarang, ia dibebankan biaya sewa sebesar Rp 21 juta per tahun.

“Sudah bayar sewa mahal tetapi masih dipotong tiga persen, “ ucap Muhajir.

Tingginya biaya sewa kantin baru, ditambah adanya pemotongan tiga persen memaksa Muhajir untuk menaikkan harga dagangannya. Pedagang Warung Bunda ini merasa takut tak bisa membayar biaya sewa kantin, jika harga dagangannya tak dinaikkan.

Pedagang kantin lain, Kasori, merasa biaya pemeliharaan gedung yang dibebankan kepada pedagang terlalu berat. Pedagang ketoprak tersebut berasumsi semisal pendapatan seorang pedagang sebesar satu juta per-hari, maka setiap harinya harus dipotong sekitar tiga puluh ribu rupiah.

Bagi Kasori, perlu ada perubahan biaya pemeliharaan skema tiga persen. Misal, ia menawarkan, skema biaya yang dibebankan kepada pedagang menjadi sebesar Rp50 ribu per-bulan.

“Kalau tiga puluh ribu per hari dalam setahun jika dikumpulkan bisa untuk membayar separuh biaya sewa kantin, “ tutupnya Kasori.

 

Reporter/Penulis: Andreas

Editor: Riyas

Iklan