Judul Buku: Lebih Putih Dariku

Penulis: Dido Michielsen

Penerbit: Marjin Kiri

Cetakan: Pertama, Juni 2022

Tebal Buku: 288 hlm

ISBN: 978-602-0788-32-6

Iklan

Pada masa Hindia Belanda posisi perempuan pribumi sangat sengsara. Perempuan berdarah biru maupun bukan, terhimpit dengan adanya feodalisme dan budaya patriarki. Kebudayaan masyarakat Jawa sendiri mempercayai bahwa kodrat seorang perempuan adalah macak (berhias diri), manak (melahirkan), dan masak.

Selain itu, masyarakat Jawa mempunyai konsep perempuan sejati yang berhubungan dengan bentuk tubuh dan kodrat alami perempuan. Hal tadi, biasanya tercantum dalam karya sastra jawa kuno, contohnya dari Serat Panitisastra menyinggung bahwa perempuan yang tidak mempunyai anak dianggap sebagai perempuan sia-sia. Selain itu, Serat Candrarini pun mengajak perempuan medeladani sifat-sifat para istri arjuna, yaitu beberapa di antaranya rela dimadu, pandai berdandan dan merawat diri, sederhana, pandai melayani kehendak laki-laki, dan lainnya. Konsep tersebut disosialisasikan secara turun temurun, dan akhirnya membentuk tatanan yang sulit diubah.

Saat dewasa perempuan Jawa harus dijodohkan sesuai dengan perintah orang tua dan anggota keluarga laki-lakinya. Sudah menjadi kewajiban untuk seorang perempuan pribumi yang tinggal di keraton harus dipingit saat remaja. Kalau beruntung mereka akan dinikahkan dan menjadi istri sah. Sebaliknya, kebanyakan perempuan Jawa hanya dijadikan selir atau bahkan sekadar dinikahkkan untuk tujuan politik.

Lain halnya dengan perempuan berdarah ningrat, perempuan kelas ke bawah memiliki nasib lebih buruk. Kebanyakan dari mereka terpaksa bekerja di perkebunan dengan upah kecil, guna mencukupi kebutuhan hidupnya. Itu sebabnya, tidak jarang perempuan harus mencari pekerjaan lain, salah satunya dengan menjadi nyai.

Tidak seperti sekarang, di mana sebutan nyai biasanya diperuntukkan untuk perempuan Jawa lanjut usia. Pada masa Hindia Belanda sebutan tersebut, diperuntukkan untuk perempuan-perempuan pribumi yang dijadikan gundik—ikatan hubungan luar perkawinan—oleh orang Eropa.

Nyai biasanya sekadar dijadikan alat pemuas nafsu oleh laki-laki Belanda. Mereka tidak boleh hamil sehingga wajib baginya untuk datang ke dukun memindahkan posisi rahim. Selain itu, Nyai diwajibkan bisa berbahasa belanda dan membantu tuannya beradaptasi dengan budaya pribumi.

Meski pendapatan sebagai nyai cukup besar, perempuan yang berprofesi tersebut dipandang hina oleh masyarakat. Mereka dikucilkan karena dianggap kedudukannya sama dengan pelacur, serta dianggap mengkhianati agama karena hidup bersama orang kafir.

Kemudian, para tuan tidak segan untuk menyiksa atau membuang nyai ketika mereka melakukan kesalahan. Mereka tidak memiliki perlindungan hukum dari perlakuan tidak wajar dan semena-mena yan dilakukan tuannya.

Dido Michelsen penulis buku berjudul Lebih Putih Dariku mencoba mengulik praktik pernyanyian di Jawa. Dia berangkat dari pengalaman nenek moyangnya yang seorang nyai Belanda.  Isah, tokoh utama dalam cerita ini digambarkannya sebagai perempuan pribumi yang tinggal di keraton Yogyakarta bersama ibunya.

Isah sendiri terlahir dari seorang selir bupati yang tidak diakui keberadaannya. Dari kecil ia tidak mempunyai pilihan dalam hidup. Dia harus menuruti semua perintah dari orang dengan kedudukan di atasnya. Belum lagi, Isah dipaksa oleh ibunya menjadi seorang selir di usia remaja. Isah yang ingin bebas memutuskan keluar dari keraton demi memperjuangkan hak hidupnya sebagai perempuan.

Iklan

Isah yang ingin bebas memutuskan keluar dari keraton demi memperjuangkan hak hidupnya sebagai perempuan. Di luar keraton ia memilih menjadi seorang nyai dari perwira belanda bernama Gey. Dia membayangkan bahwa hidupnya akan bahagia menjadi seorang nyai, sebab dinikahkan secara resmi oleh tuannya.

“Betapapun kelihatannya sangat menakutkan, kehidupan bersama Gey adalah satu-satunya kesempatanku buat mendapat kebebasan.” (hlm. 91)

Isah merasa bahagia saat mengandung anak Gey. Tuannya itu terlihat sangat menyayangi ia dan anaknya. Berbeda dengan tuan-tuan lainnya, saat lahir anak keduanya Gey pun tampak tidak masalah.

Namun, hidup perempuan pada masa itu memang tidak mudah seperti bayangan Isah. Nyatanya, Isah berakhir sama seperti kebanyakan Nyai lainnya. Ia dibuang ketika dinilai sudah tidak berguna, serta harus berpisah dengan kedua anaknya.
Sehingga di sisa hidupnya, Isah menghabiskan waktu dengan sebatang kara.

Lewat kisah Isah dalam bukunya, Dido Michaelsen ingin menghapus stigma negatif Nyai sebagai seorang   perempuan penggoda dan pengingkar agama. Justru, dia memaparkan dengan ciamik bahwa perempuan pribumi yang terpaksa mengikuti praktik pernyaian, disebabkan sulitnya hidup. Lewat Isah, ia juga ingin menyuarakan bahwa kehidupan Nyai mempunyai arti.

“Masih ada banyak nyai tidak dikenal dan nyai yang tidak menikah di Hindia Belanda. Perempuan yang di kemudian hari tidak bisa ditemukan karena secara resmi mereka tidak diakui keberadaannya dan tidak terdaftar di catatan mana pun. Ibu-ibu tanpa nama dari ribuan orang Indo Eropa dan keturunannya, yang kulitnya lebih putih darinya.” (hlm. 287)

Nyai bukan seperti yang diceritakan pada sastra-sastra kolonialisme. Mereka bukan pencuri harta tuannya, bukan juga hewan peliharaan. Mereka adalah perempuan-perempuan berani yang mengambil keputusan dalam hidup. Saat itu, perempuan pribumi hanya dihadapi dua pilihan. Menjadi seorang Nyai atau hidup dalam kungkungan adat istiadat dan kemiskinan.

Penulis: Adinda Rizki

Editor: Abdul