Sekitar 3.000 mahasiswa pendaftar beasiswa KJMU dinyatakan tidak diterima. Banyak dari mereka berupaya melakukan sanggah karena merasa layak untuk menerima KJMU.

Sejak dibuka pada Selasa (05/03), rangkaian pendaftaran beasiswa Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU) tahun 2024 tahap pertama menuai banyak masalah. Mulai dari adanya sistem desil (pemeringkatan kesejahteraan) yang membuat banyak mahasiswa tidak dapat mendaftar KJMU sampai terlambatnya pencairan dana KJMU. Terbaru, ribuan pendaftar beasiswa KJMU tidak ditetapkan sebagai penerima. 

Ketua Naramuda UNJ, Yosia Christian mengatakan penetapan status penerimaan KJMU terjadi pada Rabu (26/06) bersamaan dengan hari pencairan dana beasiswa ini. Pengumuman penetapan ini dapat dilihat di laman P4OP Jakarta melalui akun masing-masing pendaftar.

Namun, pengumuman penetapan tersebut menimbulkan gejolak. Yosia menjelaskan pasalnya ribuan pendaftar KJMU tidak ditetapkan sebagai penerima beasiswa ini. Tambahnya, banyak mahasiswa yang ditolak sebagai penerima KJMU berupaya melakukan sanggahan atas penetapan ini. Sebab mereka merasa layak untuk mendapatkan KJMU. 

“Ada sekitar tiga ribu pendaftar ditetapkan tidak menerima KJMU. Itu pendataan dari Naramuda Jakarta dan Genius—organisasi yang berfokus terhadap pengadvokasian beasiswa,“ ujar Yosia pada Senin (01/07). 

Adapun sebab pendaftar KJMU tidak ditetapkan sebagai penerima beasiswa ini beragam, seperti pendaftar dianggap mampu secara ekonomi ataupun alamat pendaftar tidak sesuai dengan survei lapangan. Terkait verifikasi keadaan ekonomi, Yosia mengatakan Pusat Pelayanan Pendanaan Personal dan Operasional Pendidikan (P4OP) Daerah Khusus Jakarta (DKJ) memakai data kesejahteraan sosial milik Kementerian Sosial (Kemensos). 

Iklan

Baca juga: Warga KSB Datangi Wali Kota untuk Mengawal Kelanjutan Akta Perdamaian

Lanjut Yosia, P4OP telah membuka berbagai posko pengaduan terkait masalah ini. Tambahnya, P4OP juga berjanji ada wadah untuk pendaftar melakukan sanggahan ataupun banding terkait penetapan status penerimaan KJMU.

“Namun yang saya tahu, banyak kasus pendaftar yang menuju posko pengaduan malah dioper-oper ke pihak lain yang lebih tidak jelas, “ ucap Yosia.

Mahasiswa Prodi Manajemen UNJ, Fikri merupakan salah satu pendaftar beasiswa KJMU yang tidak ditetapkan sebagai penerima. Mahasiswa semester empat itu mengatakan dirinya tidak ditetapkan sebagai penerima beasiswa ini karena dinilai mampu. 

Sementara itu, Fikri mengatakan keluarganya tidak mampu. Hal ini menurutnya terbukti dari namanya yang tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) milik Kemensos. Lanjut Fikri, kehidupan keluarganya selama bertahun-tahun hanya bergantung dari uang pensiun ayahnya yang sebesar Rp3.000.000 per bulan. Tambahnya, ayahnya pun mempunyai dua tanggungan yang sama masih berkuliah. 

Fikri lalu hendak datang ke posko pengaduan untuk mencoba melakukan sanggahan terkait penetapan status KJMU-nya. Namun, Fikri mendapat kabar kalau posko pengaduan tidak menerima sanggahan. Selain itu, banyak pelapor malah dialihkan ke berbagai instansi lain seperti kelurahan.

“Karena tahu kalau dari banyak pendaftar kalau di posko pengaduan tidak mendapatkan feedback apa-apa, maka saya datang ke kelurahan setempat, “ ujar Fikri pada Senin (01/07).

Sesampai di kelurahan, Fikri menanyakan alasan keluarganya dinyatakan mampu. Lanjut Fikri, dari pihak kelurahan menjelaskan keluarganya dianggap mampu karena ayah Fikri merupakan pensiunan tentara. Menanggapi hal itu, Fikri mengatakan ayahnya sudah pensiun sejak dirinya lahir dan uang pensiun ayahnya juga tergolong kecil. Ayah Fikri pun hanya lulusan tamtama—tingkat paling rendah dalam ketentaraan.

Dari laman resmi Pemprov DKI Jakarta, diketahui persyaratan penerima KJMU tidak tertera mahasiswa yang bukan dari keluarga pensiunan tentara ataupun polisi. Adapun syarat umum penerima beasiswa ini hanya berupa berdomisili di Jakarta, terdaftar DTKS, dan pendaftar tidak menerima beasiswa lain dari negara.

Fikri mengaku, telah mendapatkan KJMU sedari semester awal perkuliahan. Ia merasa sangat terbantu dengan adanya beasiswa ini untuk pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) ataupun pembiayaan biaya kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, ia merasa keberatan jika dirinya tidak mendapatkan beasiswa ini lagi.

Iklan

“Jadi, kalau bisa saya kembali mendapatkan KJMU. Saya harap kepada kawan mahasiswa lain juga menyoroti masalah ini,“ ucap Fikri.

Mahasiswa Prodi Teknik Sipil UNJ, Naufal juga pendaftar yang ditolak menjadi penerima KJMU. Mahasiswa semester dua itu memberitahu alasannya ditolak karena alamat tempat tinggal dinilai tidak sesuai dengan survei lapangan.

Baca juga: Balada Harian Mahasiswa Magang

Naufal mengaku, semula keluarganya mengontrak rumah di Rawamangun, Jakarta Timur kemudian pindah ke sebuah rusun di Cipinang pada Januari 2024. Karena kontrakannya hendak direnovasi oleh pemilik rumah.

Ketika pendaftaran KJMU berlangsung, Naufal mengisi data alamat sesuai dengan data tempat tinggalnya sebelumnya. Sebab keluarganya belum mempunyai kartu keluarga (KK) baru lantaran rusun yang mereka tempati masih baru, bahkan belum ada pembentukan rukun tetangga (RT). 

Naufal pun menambahkan, ia telah menjelaskan soal perpindahan alamat tempat tinggalnya di formulir pendaftaran. Selain itu, ia juga sudah meminta kepada kepala RT di tempat tinggalnya yang lama supaya memberitahu kepada petugas survei. 

Saat Naufal mengetahui tidak mendapatkan KJMU, ia pergi ke posko pengaduan. Dari sana ia dialihkan ke berbagai instansi seperti P4OP, kelurahan setempat, dan Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil). 

Naufal menyampaikan telah bertemu pihak dinas sosial. Lanjutnya, dinas sosial mengatakan belum menyurvei rumahnya yang lama. Tambah Naufal, baik tetangga ataupun kepala RT lamanya, tidak mengetahui ada pihak lain yang pernah menyurvei rumahnya beberapa bulan ke belakang.

“Dari keterangan tetangga, Kepala RT, dan dinas sosial mengatakan belum ada yang mensurvei rumah saya. Ini membingungkan,“ ujar Naufal pada Selasa (02/07).

Naufal mengaku sangat kesulitan jika tidak mendapatkan KJMU. Selain karena ia menilai keluarganya tidak mampu, ia berpotensi akan membayar UKT untuk dua semester dalam waktu berdekatan jika dirinya tetap tidak mendapatkan KJMU.

Adapun pembayaran UKT ditangguhkan bagi pendaftar KJMU sampai dana beasiswa itu kemudian cair. Jika pendaftar tidak ditetapkan sebagai penerima, mahasiswa diharuskan membayar UKT secara mandiri melalui uang pribadi. Diketahui beberapa minggu depan, UNJ akan membuka pembayaran UKT buat semester baru.

“Perlu ada audiensi terbuka antara pemerintah dengan para pihak yang terdampak masalah ini. Selain itu, perlu verifikasi lebih lanjut kepada mereka yang tidak ditetapkan menerima KJMU, “ pungkas Naufal. 

 

Reporter/Penulis: Andreas Handy

Editor: Naufal Nawwaf