Penarikan Kamus Sejarah Indonesia Jilid I dari website resmi Kemendikbud yaitu rumahbelajar.id merupakan reaksi dari gelombang protes masyarakat  atas penghilangan tokoh pendiri dan mantan ketua NU (Nadhlatul Ulama) yaitu,  Hadarcthus Syech Hasyim Asy’ari dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dari Kamus Sejarah Indonesia Jilid I.

Menurut Abrar selaku Dosen Program Studi Sejarah di Universitas Negeri Jakarta, permasalahan pada Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, Kamus tersebut masih di tahapan draf saja, belum menjadi buku yang layak diterbitkan. “Kalau Kamus Sejarah Indonesia ini hanya rangka untuk data saja, maka belum menjadi hasil yaitu buku.” tungkasnya

Dia menambahkan, buku ini termasuk  anggaran Kemendikbud tahun 2017. Tetapi, anggaran untuk buku ini tidak dilanjutkan di tahun berikutnya, sehingga tim penulis tidak dapat melakukan pencarian data lebih lanjut. “Yang jadi masalah di Kemendikbud sudahkah ada pemikiran melanjutkan untuk menjadi sesuatu yang optimal bukan hanya konsep, dengan melanjutkan anggaran di tahun berikutnya.” jelasnya.

Menurutnya penulisan buku Kamus Sejarah Indonesia Jilid I, harus secara komprehensif dan objektif.  Seperti penulisan tokoh-tokoh juga tidak bisa ditulis dalam rangka menghakimi saja, harus dijelaskan secara jelas kontribusinya bagi negara.

“Karena sejarah tidak menceritakan baik atau buruk tetapi bicara apa yang terjadi.” tambahnya

Namun, ia pun menyatakan dukungannya untuk dilakukan penyempurnanaan terhadap buku ini,  dengan cara melibatkan ahli-ahli sejarah yang ada di Indonesia. Karena menurutnya, jika buku ini sudah diperbaiki, maka akan bermanfaat bagi pembelajaran sejarah di Sekolah- sekolah.

Iklan

Risti Sere sebagai guru sejarah di SMKN (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri) 68 Jakarta, mengaku tidak mengetahui Kamus Sejarah Indonesia Jilid I. Walaupun buku ini sudah terbit pada tahun 2017, sebanyak 20 eksemplar saja, dua tahun kemudian pada 2019, diterbitkan melaui website Kemendikbud yaitu Rumah Belajar. “Buku ini tidak beredar di sekolah-sekolah bahkan tidak ada sosialisasi nya ke guru-guru.” pungkasnya.

Ia pun heran dengan tidak adanya Kamus Sejarah Indonesia Jilid I ini di sekolah, karena tujuan dari buku ini adalah mempermudah guru untuk pembelajaran sejarah. “Jika targetannya adalah buat belajar sejarah, harusnya disediakan di sekolah, ini kritik terhadap Kemendikbud perihal buku ini.” Jelasnya.

Keheranan perihal sosialisasi yang kurang dari Kamus Sejarah Indonesia Jilid I ini dialami oleh Laila Amalia Khaerani, mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta 2019. Menurutnya, ia sebagai mahasiswa yang diproyeksikan untuk menjadi guru sejarah, akan tetapi salah satu sumber acuan materi pembelajaran sejarah sendiri tidak jelas perihal sosialisasinya.

Setelah mengetahui Kamus Sejarah Indonesia Jilid I ditarik pengedarannya.  Ia berharap semoga buku ini kedepannya bisa lebih menjelaskan secara komprehensif dan tidak diintervensi oleh kepentingan beberapa kelompok tertentu. Karena, tema pokok materinya yaitu  sejarah, sebisa mungkin yang diungkapkan hanya fakta dan data. Supaya generasi bangsa ini tidak mispresepsi dengan sejarah yang ada.  

Reporter: Rizalul Haq

Editor: Fadhlan Aziz