Judul : Panggil Aku Kartini Saja

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara, Jakarta

Tebal : 301 Halaman

ISBN : 9789793820057

 

Iklan

Nama Kartini dalam catatan sejarahnya tidak bisa dilepaskan dari kisahnya melawan kolonialisme. Kala itu ia hidup di tanah Jawa dengan kekentalan sistem feodalisme yang membuat jiwanya tidak tumbuh bebas. Hal itu diperparah dengan nasib nahasnya sebagai perempuan sekaligus pribumi. Tapi, bukankah nasib bisa dirubah?

Pramoedya Ananta Toer, dalam bukunya yang berjudul Panggil Aku Kartini Saja telah memotret kehidupan Kartini sejak masa kanak-kanak hingga ia dinikahi oleh lelaki yang dipilih orang tuanya. Menariknya, buku tersebut juga menunjukkan surat-surat yang ditulis Kartini kepada sahabat-sahabatnya. Surat itu merepresentasikan bagaimana jiwa yang hidup dalam seorang Kartini. Jiwa yang mengharapkan kebebasan dan kemerdekaan rakyatnya.

Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintahan kolonial sangat menindas pribumi. Seperti kekejaman tanam paksa oleh pemerintah Belanda, yang juga sempat dibicarakan oleh Multatuli atau Douwes Dekker (1820-1887) dalam bukunya berjudul Max Havelaar. Rakyat diperas hanya untuk memperkaya pejabat kolonial. Di sisi lain rakyat menderita kelaparan dan kemiskinan.

Multatuli adalah salah satu golongan liberalis di bidang sastra. Mereka (liberalis) berusaha melepaskan diri dari feodalisme yang tidak demokratis, baik dari pemerintah kolonial maupun kaum priyayi pribumi. Mereka menghendaki kelonggaran hierarki dalam struktur sosial saat itu, meski tidak sampai pada penolakan terhadap penjajahan. 

Di Hindia Belanda, abad ke-19 adalah titik mula munculnya industri, menciptakan intensifikasi kapitalisme yang mengubah penjajahan menjadi imperialisme modern. Di saat yang sama, para golongan liberalis mendesak dibangunnya pendidikan bagi Pribumi. Nampak dari kebijakan Politik Etis. Meski pendidikan hanya untuk menciptakan pekerja di sektor perkebunan, pabrik, maupun pejabat pemerintah rendahan. 

Sekitar 1879 Pemerintah Hindia Belanda membangun Hoofdenschool atau sekolah raja untuk mendidik calon Amtenar; pejabat sipil. Akses pendidikan tersebut cukup banyak didapatkan oleh keluarga Kartini. Persentuhan dengan budaya Barat pula yang membuat pikiran Kartini lebih maju dan terbuka. 

 

Pergolakan Jiwa Kartini

Kartini dilahirkan dari rahim rakyat jelata bernama Ngasirah sekitar tahun 1879. Sejak kecil, ia telah mendapat diskriminasi dari keluarganya sebab ia anak dari ibu yang berbeda. Jiwanya tumbuh dengan meninggalkan hal-hal yang khas dari bangsawan Jawa seperti kebiasaan memerintah dan hanya mau diperintah oleh atasan. 

Sebelum masuk masa pingitan, Kartini juga pernah mengalami diskriminasi dalam lingkungan sekolahnya. Semisal, pembagian kelas disesuaikan dengan pembagian jenis kelamin, jabatan orang tua, dan lain-lain. Terkadang, ia juga mendapat diskriminasi warna kulit dari tenaga pendidik.

Iklan

Usai masuk masa pingitannya, Kartini merasa sangat terpenjara sebab hanya dapat berdiam diri di kamarnya. Ia tidak diizinkan untuk mengunjungi tempat manapun yang dikehendakinya. 

Masa-masa membosankan itu, ia habiskan dengan membaca Koran atau surat kabar yang muncul. Selain itu, ia juga seringkali membaca sastra. Sejak kecil, ia sudah sangat tertarik dengan kondisi rakyat yang ia temui baik secara sekilas bertemu langsung maupun melalui surat kabar. Baginya, rakyat yang menderita dan dijajah adalah penderitaan luar biasa.

Setelah masa pingitannya, Kartini mulai bebas dalam pergaulannya dengan orang-orang Barat yang berjiwa demokratis, seperti Estelle Zeehendelar. Sejak Tahun 1900 mereka sering bertukar cerita, bacaan, dan pikiran tentang kehidupan di masing-masing negara dan sistem di dalamnya. Kartini juga mengaku kagum dengan leluhur Estelle yang sangat meninggikan ilmu pengetahuan. 

Selain Estelle, Kartini mengenal dunia Barat dengan tiga jalan. Pertama, dengan panca inderanya. Kedua, dengan hubungan baiknya dengan orang Eropa, dan ketiga dengan bacaan dari karya-karya orang-orang Eropa, khususnya sastra.

Karya-karya sastra orang Belanda banyak dibaca oleh Kartini. Dari sanalah, ia dapat melihat dunia Eropa yang selama ini sangat ingin dikunjunginya. Semisal, tentang emansipasi wanita banyak ditemukan dalam karya Marcel Presvot, juga Von Suttner yang memberinya pengaruh tentang perdamaian sosial dan dunia. Sehingga, membentuk pikiran Kartini bahwa tidak dibutuhkan hubungan berupa penghisapan dan penjajahan, lebih baik diganti dengan hubungan persahabatan.

Bacaan lainnya juga seperti Die Frau Und der Sosialismus atau Wanita dan Sosialisme karya August Bebel (1840-1913), seorang Sosialis Jerman dan Pemimpin Partai Sosial-Demokrat. Bacaan-bacaan demikian membuatnya turut menuliskan karya untuk membela rakyat, serta menyadarkan rakyat. Sayangnya, pada saat itu, pengaruhnya serta latar belakangnya sebagai anak Bupati membuatnya tidak ingin secara terang-terangan menunjukkan identitasnya. Itupun semata-mata sebab rasa sayangnya yang besar terhadap ayahnya dan enggan membuat ayahnya dalam masalah.

Kartini juga mulai memikirkan untuk memihak rakyat. Banyak hal dilakukannya, seperti membuat karya tulis, dan seni lukis yang cakap. Seni sebagai alat perjuangan telah digenggamnya erat-erat. Menurutnya, seni adalah sesuatu yang mudah sampai dan diterima oleh rakyat. Ia sendiri menyebutnya dengan seni rakyat. Baginya, mendidik rakyat dengan seni akan membentuk sifat dan watak rakyat pula.

“Duh, karena itu aku inginkan, hendaknya di lapangan pendidikan itu pembentukan watak diperhatikan dengan tidak kurang baiknya akan dan terutama sekali pendidikan ketabahan. Dalam pendidikan ini harus dapat dikembangkan dalam diri kanak-kanak, terus, terus,” (Surat, 15 Agustus 1902 kepada E.C.Abendanon).

Usahanya dalam memihak rakyat dapat dikatakan sunyi. Bentuk perlawanannya berupa tulisan dan karya seni yang tidak secara terang-terangan ia tunjukkan sebagai karyanya. Beberapa kali, ia menuangkan kritiknya kepada kebijakan Pemerintah Kolonial dalam tulisan berbahasa Belanda. Namun, dalam karya tulisnya ia tidak mencantumkan namanya sebagai penulis. Meskipun pembacanya seringkali tahu bahwa penulisnya ialah Kartini, sebab saat itu sangat terhitung jari orang-orang yang mahir berbahasa Belanda. 

Selain seni, bagi Kartini ilmu pengetahuan juga harus mulai disampaikan pada rakyat. Ilmu pengetahuan dapat dijadikan senjata untuk membangkitkan perlawanan pribumi kepada penjajah. Saat itu, Kartini telah melihat tanah jajahan Belanda sebagai kesatuan atau “nation”. Perjuangannya mengarah pada kekuatan yang dapat dikerahkan rakyat, dengan visi melawan kolonialisme. 

Buku Panggil Aku Kartini Saja menarik untuk membaca sisi lain kehidupan Kartini yang jarang orang ketahui. Pram dalam buku tersebut secara runtut membabak fase kehidupan Kartini yang sangat mempengaruhi perkembangan jiwanya. Ditambah, buku ini juga  detail melihat keseharian Kartini yang sering bergaul dengan orang-orang Barat di negerinya, namun dalam dirinya ia tetap memihak dan berjuang untuk Pribumi.

 

Penulis : Siti Nuraini

Editor : Izam Komaruzaman