Tiga tahun sudah kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) mewarnai kehidupan akademik mahasiswa. Dalam pelaksanaanya, MBKM menyajikan Program Kampus Mengajar, Magang Bersertifikat Kampus Merdeka, Studi Independen Bersertifikat Kampus Merdeka, Penelitian Kampus Merdeka, Kemanusiaan Kampus Merdeka, dan Pembangunan Desa Kampus Merdeka. Penyediaan program MBKM dimaksudkan untuk membantu mahasiswa mengaktualisasi diri sebagai seorang manusia merdeka.

Namun, daya kritis mahasiswa dalam kurikulum ini malah ditidurkan. Program MBKM sebagai Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi telah berdampak pada cacatnya tata kelola MBKM. Sebab, IKU diperlukan sebuah kampus untuk mendapatkan dana abadi dari Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud) yang berekses kepada persaingan tidak sehat antar perguruan tinggi. 

Banyak terjadi kasus pemaksaan program MBKM kepada para mahasiswa. Pada akhirnya, mahasiswa tak ubah seekor sapi yang harus dipecut ketika petani ingin menggarap sawah. Dalam terbitan LPM Didaktika, terjadi maladministrasi dan keterpaksaan mahasiswa dalam mengikuti salah satu program MBKM, yaitu pertukaran pelajar. Pasalnya, satu kelas didaftarkan tanpa persetujuan mahasiswa untuk mengikuti program ini dengan dalih kelancaran administrasi. Hal serupa juga berlangsung di UPI, muncul wacana hambatan kelulusan jika tak punya riwayat partisipasi MBKM. 

Pada beberapa perguruan tinggi mahasiswa juga dianjurkan magang sana-sini, tetapi tak pernah diberi kesempatan berpikir secara kritis tentang, seminimalnya, hak hak dasar yang semestinya diterima pekerja. Ini seperti menunjukkan program MBKM hanya untuk memenuhi kebutuhan industri akan tenaga kerja yang dapat dieksploitasi, karena tak punya daya kritis.

Baca juga: Riuh Perkara Kotak Kosong di Pemira Universitas-Prodi – LPM Didaktika UNJ

Fenomena kurikulum yang membatasi pembebasan manusia ditangkap dan ditulis oleh Ivan Illich dalam “Perayaan Kesadaran: Sebuah panggilan untuk Revolusi Institusional”. Berisikan kumpulan essay dengan kritik-kritik Illich terhadap sekolah, gereja, hingga negara. Buku ini memiliki satu benang merah, semangat menggugat institusi-institusi yang mematikan kesadaran masyarakat. 

Iklan

Sekolah Pembunuh Kesadaran

Medio 70-an Amerika Latin mendapatkan bantuan teknis asing dengan mengandalkan peningkatan kapasitas sekolah dasar, sekolah perdagangan, dan sekolah-sekolah tinggi. Tujuan dilakukan perkara ini untuk membawa mayoritas penduduk desa keluar dari keterpinggiran kota gubuk dan pertanian subsisten menjadi jenis daerah pabrik.

Illich mengasumsikan lahirnya sekolah-sekolah penghasil tenaga kerja menyebabkan ledakan kelas menengah dengan nilai-nilai menyerupai bangsa industrial. Masyarakat Amerika Latin kemudian menganggap pendidikan menjadi satu kesatuan dengan sekolah. 

“Sistem sekolah ini telah membangun sebuah jembatan sempit untuk menyeberangi jurang sosial yang semakin melebar. Sebagai satu-satunya lintasan yang sah menuju kelas menengah, sekolah membatasi semua lintasan non-konvensional.” (hlm.126)

Untuk melegitimasi anggota masyarakat yang bersekolah, mereka menyediakan semacam proses sertifikasi ritual berupa ijazah. Sistem seleksi yang disediakan sekolah semakin menjadikan sekolah sebagai barang komoditas. Angkatan bersenjata menghasilkan pertahanan untuk negeri, gereja menghasilkan keselamatan di alam baka, lalu mengapa tidak memahami pendidikan sebagai produk dari sekolah?

Komersialisasi pendidikan membuat sekolah sebagai prestise baru dalam masyarakat industrial. Sekolah menawarkan kedermawanan palsu kepada kaum miskin berupa perolehan status yang diperdagangkan melalui sekolah malam atau sekolah perdagangan. Pada akhirnya, sekolah menjadi mitos atau berhala baru bagi masyarakat industri. Ia disembah dan dikultuskan seperti pengultusan pastor pada abad pertengahan.

“Orang-orang Puerto Rico telah mengadopsi agama baru. Doktrinnya ialah pendidikan sebagai produk sekolah, suatu produk yang dapat didefinisikan dengan angka-angka.” (hlm.147)

Untuk mengatasi kepercayaan berlebih masyarakat Puerto Rico terhadap sekolah, Ivan Illich menawarkan sebuah konsep revolusi kebudayaan. Tujuan dari revolusi kebudayaan adalah mengubah bentuk realitas publik maupun realitas pribadi. Illich percaya revolusi institusi hanya memperbaiki lembaga-lembaga yang sudah ada dan akan mendistorsi secara radikal pandangan kita tentang apa yang dimiliki dan diinginkan manusia. 

Baca juga: Cacat Logika Majelis Tinggi Mahasiswa (lpmdidaktika.com)

Dengan hanya mengandalkan revolusi institusi, masyarakat tidak dapat melihat secara kritis penindasan sistematika sekolah industrial. Mereka berada pada kesadaran semu yang memenjarakan kebebasan jiwa. Walhasil praktik penindasan semakin langgeng terjadi di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.

Iklan

Maka dari itu, penghapusan pendidikan di sekolah secara radikal menjadi sebuah kebutuhan. Cara pertama dengan pembukaan mitos pendidikan sekolah oleh para revolusioner budaya. Pembukaan itu dilanjutkan dengan perjuangan untuk membebaskan pikiran manusia dari ideologi pendidikan sekolah yang keliru. Dalam tahap terakhir, penghapusan sekolah merupakan perjuangan bagi hak terhadap kebebasan pendidikan. 

“Penghancuran sosial dan psikologis yang melekat di dalam pendidikan sekolah yang wajib hanyalah sebuah ilustrasi dari penghancuran yang implisit dalam semua lembaga internasional yang sekarang mendiktekan jenis-jenis barang, pelayanan dan kemakmuran yang tersedia untuk memuaskan kebutuhan manusia.” (Hal. 227)

Buku ini menawarkan analisis teori menarik untuk membedah fenomena MBKM yang memberikan kemerdekaan semu kepada mahasiswa. Terlebih, pendidikan Indonesia hari ini sangat industri-sentris. Hingga melupakan hakikat pendidikan itu sendiri sebagai alat pembebasan manusia.

Penulis: Anisa Inayatullah

Editor: Ragil