Gerakan Mahasiswa Jawa Barat mengadakan aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat pada Senin (18/3). Demonstrasi yang dihadiri oleh 200 mahasiswa dari Jawa Barat ini bertajuk “Jakarta Lautan Api”.

Koordinator lapangan aksi, Reza menyatakan aksi “Jakarta Lautan Api” mempunyai tiga tuntutan, yaitu adili Jokowi, tolak pemilu curang, dan stabilkan harga bahan pokok. Menurutnya, aksi tersebut merupakan lanjutan dari berbagai gerakan mengkritik Jokowi di Jawa Barat.

“Aksi sebelumnya kurang mendapatkan atensi dan hasil yang kami harapkan, maka kami mengadakan aksi di Jakarta supaya lebih dekat dengan sorotan utama kami, yakni Jokowi, “ ujar Reza.

Terkait tuntutan adili Jokowi, Reza menyatakan banyak permasalahan muncul di era pemerintahan Jokowi. Baginya, demokrasi di Indonesia saat ini sudah mati. Hal itu menurutnya dapat dilihat dari maraknya kekerasan aparat negara terhadap rakyat. Ditambah lagi kemunculan berbagai peraturan yang membatasi kebebasan berpendapat, seperti UU KUHP.

Lanjutnya, Reza menyatakan pemberantasan korupsi di era Jokowi sangat buruk. Katanya salah satu peristiwa yang terbukti jelas ketika Ketua Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri menjadi tersangka dalam kasus korupsi.

Reza juga menyinggung Undang-Undang (UU) Cipta Kerja yang muncul di era pemerintahan Jokowi. Menurutnya, UU itu menguntungkan investor tapi menyengsarakan rakyat.

Iklan

“UU Cipta Kerja menyebabkan banyak pelanggaran HAM dan perampasan tanah-tanah rakyat, “ ucap Reza.

Baca juga: 3 Tahun Perjuangan Warga Pancoran untuk Hak Atas Tanah

Selanjutnya terkait tuntutan tolak pemilu curang, Reza menyatakan Pemilu yang merupakan proses demokrasi tetapi dalam praktiknya penuh akan masalah. Ia mencontohkan berbagai kasus penggunaan fasilitas negara oleh kroni Jokowi dalam berkampanye. 

Belum lagi menurutnya terdapat pelanggaran etik MK dalam perubahan aturan batasan umur calon presiden dan wakil presiden. Perubahan peraturan tersebut memuluskan putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka menjadi calon wakil presiden.

Terkait tuntutan terakhir, yakni stabilisasi harga bahan pokok, Reza menyatakan sejumlah harga bahan pokok naik drastis. Reza mengungkapkan sejumlah orang tua mahasiswa yang mengikuti aksi itu mengeluhkan mahalnya harga bahan pokok hari ini.

“Aksi ini justru merupakan suruhan dari beberapa orang tua kami (massa aksi) karena mahalnya harga bahan pokok, “ ungkap Reza.

Demonstrasi ini diwarnai kericuhan. Reza menuturkan mulanya aksi ingin dilakukan di depan istana negara. Sayangnya, aparat kepolisian melarang dan membatasi massa aksi untuk demo di kawasan patung kuda.

Kericuhan terjadi ketika massa aksi kemudian berusaha menuju Istana Negara. Terdapat kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap massa aksi.

Salah satu massa aksi, Ghifari mengatakan saat kericuhan terjadi, ia mengalami tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat kepolisian. Jelasnya, aparat kepolisian mendorong mahasiswa agar tidak berdemonstrasi di luar kawasan Patung Kuda. 

Ghifari pun berusaha menghalangi dorongan aparat kepolisian terhadap kawan-kawannya. Namun, Ghifari mendapat dua pukulan dari aparat kepolisian yang membuatnya terjatuh ke tanah.

Iklan

“Saya sangat menyayangkan tindakan kekerasan yang dialami oleh saya. Bisa dilihat polisi hanya mengayomi elit-elit yang merusak demokrasi, “ pungkas Ghifari.

 

Reporter/penulis: Andreas Handy

Editor: Arrneto Bayliss