Semangat isu sosial dan bisnis bersatu padu membentuk Sunyi Coffee. Menunjukan disabilitas itu produktif.

Dalam sebuah penelitian internasional, yang berjudul Employment Governance for People with Disabilities: Comparative Study Between Indonesia and Malaysia. Menyatakan bahwa, kesempatan kerja bagi kaum disabilitas di Indonesia dan Malaysia masih terbatas dan kesulitan menemukan pekerjaan dan gaji yang layak. 

Hal itu disebabkan karena asumsi yang ada di tengah masyarakat dan dunia kerja memandang, kemampuan yang dimiliki oleh disabilitas terbatas. Selain itu, minimnya dukungan dari keluarga, tingginya biaya untuk menyediakan fasilitas kerja, serta kurangnya ketersediaan pelatihan dan pendidikan yang tepat menjadi faktor hal tersebut dapat terjadi.

Namun, lain halnya dengan yang terjadi di Sunyi Coffee, kafe ini justru menampilkan pemandangan berbeda. Dengan menjadikan kaum disabilitas sebagai pegawainya, hal tersebut menampik anggapan disabilitas tidak produktif dan terbatas kemampuannya di dunia kerja. Begitulah yang dilakukan oleh Sunyi Coffee untuk kaum disabilitas agar memperoleh kesetaraan dalam bekerja.

Sunyi Coffee terletak di Barito, Jakarta Selatan, memiliki konsep kafe yang berbeda dengan tempat lainnya. Sebab, interaksi yang terjadi antara pegawai dan pelanggan dilakukan tanpa suara. Mengambil tema “sunyi” karena pegawai yang bekerja di kafe ini berasal dari kalangan disabilitas, yaitu teman tuli.

Para pelayan yang ada di kafe ini disebut teman tuli karena mereka memiliki kebanggaan dengan dipanggil seperti itu. Hal itu karena panggilan tuli menjadi budaya dan adat di tengah komunitas mereka, sehingga dalam kehidupan sehari-hari mereka menerapkan itu.

Iklan

Karena pegawainya berasal dari teman tuli, maka komunikasi yang dilakukan baik antar pegawai maupun kepada pelanggan dilakukan dengan bahasa isyarat dan gestur tubuh. Untuk memudahkan pelanggan, kafe ini juga menyediakan kartu-kartu berbahasa isyarat untuk melakukan pemesanan makanan dan minuman, bagi pelanggan yang belum bisa bahasa isyarat.

Para pegawai yang berada di Sunyi Coffee tidak hanya berasal dari kalangan disabilitas tunarungu dan tunawicara, tapi juga berasal dari kalangan disabilitas yang lain seperti tunanetra dan tunadaksa. Namun, untuk saat ini pekerjaan barista hanya dikelola oleh teman tuli.

Saat ditemui oleh Tim Didaktika tentang alasan berdirinya kafe, Proyek Manajer Sunyi Coffee, Tami mengatakan bahwa Sunyi Coffee berdiri untuk menjadi wadah bagi para disabilitas. Selanjutnya, Tami, menambahkan bahwa Sunyi Coffee tidak hanya bergerak di bidang food and beverages saja, tapi juga sebagai platform edukasi untuk disabilitas belajar membuat kopi profesional. 

Sunyi Coffee memberikan edukasi kepada disabilitas dengan pemberian pelatihan gratis profesi barista, melalui pelatihan ini disabilitas mendapatkan keahlian khusus dalam membuat kopi. Untungnya, pelatihan barista gratis dari Sunyi Coffee tidak mengikat peserta. Setelah mengikuti pelatihan, peserta boleh memilih untuk bekerja di Sunyi Coffee atau bekerja di tempat lain. 

Sampai saat ini sudah banyak lulusan pelatihan Sunyi Coffee yang telah bekerja di coffee shop lain. Kafe ini menerima para pegawai dari kalangan disabilitas dengan melihat kualifikasinya. Melalui pelatihan terbuka tersebut Sunyi Coffe bisa mendapatkan channel untuk merekrut pegawai. 

Setelah pelatihan para peserta tidak langsung menjadi barista. Peserta yang melamar menjadi barista akan melalui tahapan screening, interview, kemudian trial selama tiga bulan, setelah itu ditetapkan menjadi pegawai tetap.

Tami menjelaskan, dalam menjalani usaha ini tidak lepas dari rintangan, tapi pihak Sunyi Coffee terus berusaha untuk mempertahankan bisnis ini karena ia percaya dalam menjalani bisnis memang terdapat dinamika yang harus dihadapi.

Ketika pandemi, pihak Sunyi Coffee mengaku mengalami penurunan omzet, tapi hal itu tidak membuat mereka memecat pegawai. Pihak Sunyi Coffee berhasil mengendalikan laju bisnis dengan baik sehingga berhasil melewati pandemi COVID-19. Hal itu membuktikan bahwa kehadiran disabilitas di dunia kerja bukanlah sebagai beban, tapi ini adalah usaha yang menjanjikan. 

Sampai saat ini Sunyi Coffee telah memiliki cabang di Jakarta, Alam Sutera, dan Bekasi. Para barista yang menjadi pegawai di cabang-cabang tersebut berasal dari lulusan pelatihan barista Sunyi Coffee. 

Kafe ini merupakan bentuk keinklusivitasan di ibu kota karena para pelayan yang semuanya berasal dari kalangan disabilitas. Melalui kafe ini, tercipta lingkungan kerja inklusif sesungguhnya, disabilitas mendapatkan wadah untuk bekerja dan bersosialisasi.

Iklan

Kehadiran kafe ini selain memberikan ruang beraktivitas untuk para disabilitas dan ruang berbagi, tapi juga memberikan ruang untuk perekonomian disabilitas itu sendiri sehingga mereka dapat memisahkan dirinya dari ketergantungan terhadap orang lain. 

Selain itu Tami berharap, bahwa hadirnya kafe dapat membentuk ruang inklusif untuk menangkis stigma negatif di tengah masyarakat tentang kaum disabilitas tidak produktif dan tidak memiliki kemampuan. Kafe ini juga menjadi wadah sosialisasi dan penghidupan bagi disabilitas. 

“Sebenernya visi yang ingin kami perlihatkan itu agar menjadi bukti, bahwa disabilitas itu bisa bekerja profesional dan setara” ungkap Tami.

 

Penulis/reporter: Naufal Nawwaf

Editor: Zahra Pramuningtyas