Memasuki putaran kedua Pemira UNJ, Luthfi-Fachrizal dinyatakan tidak lolos dalam seleksi pemberkasan. Hal tersebut dikarenakan adanya pelanggaran pemalsuan tanda tangan koorprodi oleh Ketua Tim Sukses Luthfi-Fachrizal. 

Pasca kemenangan kotak kosong, Pemira UNJ tingkat universitas memasuki putaran kedua. Pendaftaran calon Ketua dan Wakil Ketua BEM UNJ kembali dibuka yang menghasilkan tiga nama bakal calon, yaitu Tsabit Syahidan (FIK) – Lingga Fatahillah Albiar (FT), Luthfi Ridzki Fakhrian (FIS) – Fachrizal Nurrachman (FMIPA) dan Rahman Maulana (FIS) – Eva Monica (FE).

Pasca proses pendaftaran, terdapat tahapan verifikasi tertutup bakal calon. Pada fase tersebut, salah satu bakal calon Luthfi Ridzki Fakhrian (FIS) –  Fachrizal Nurrachman  (FMIPA) diduga melakukan pelanggaran berupa pemalsuan tanda tangan Koorprodi S1 Akuntansi dalam berkas persyaratan mendaftar menjadi tim sukses yang dilakukan koordinator tim sukses mereka.

Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) UNJ per tanggal 23 Januari 2024 juga sudah mengeluarkan rilis di Instagram terkait adanya laporan dugaan pelanggaran oleh Koordinator Tim Sukses Luthfi-Fachrizal. Atas laporan tersebut, Panwaslu telah memutuskan adanya pelanggaran, serta menjatuhkan sanksi berupa pencabutan hak pilih bagi koordinator tim sukses selama satu tahun, serta pasangan Luthfi-Fachrizal dinyatakan gagal pada tahapan verifikasi, karena berkasnya dianggap tidak sah. 

Baca juga: https://lpmdidaktika.com/kotak-kosong-juga-bagian-dari-demokrasi/

Koordinator Tim Sukses Luthfi-Fachrizal, Agil Prasojo, buka suara terkait kasus pelanggaran Pemira yang dituduhkan kepadanya. Ia menjelaskan, bahwa dugaan pelanggaran tersebut disebabkan kealpaan dirinya melakukan konfirmasi ulang kepada Koorprodi S1 Akuntansi.

Iklan

“Kronologinya ketika pemberkasan putaran pertama, gue lupa buat ngelengkapin tanda tangan koorprodi yang menjadi syarat pemberkasan. Gue minta tanda tangan digital, tapi katanya harus tanda tangan basah. Karena waktu sudah mepet, akhirnya gue inisiatif pakai tanda tangan digital Koorprodi S1 Akuntansi dan lupa konfirmasi,” terang Agil.

Agil menjelaskan pada saat itu KPU menghimbau untuk memakai berkas yang sama seperti pada Pemira putaran pertama. Maka, menurutnya tim pasangan Luthfi-Fachrizal memasukan berkas KRS miliknya yang menggunakan tanda tangan digital Koorprodi S1 Akuntansi.

Pada masa verifikasi tertutup, Agil juga mengaku sempat dipanggil oleh Tim Adhum KPU UNJ pada tanggal 22 Januari 2024, guna dimintai keterangan terkait KRS-nya yang menggunakan tanda tangan digital. Saat itu pula, ia dinyatakan melakukan pelanggaran karena memakai tanda tangan tanpa izin, serta diminta untuk menandatangani surat klarifikasi.

“Setelah dijatuhi pelanggaran, gue minta izin buat keluar untuk menemui koorprodi bersama Luthfi dan Rizal. Setelah bertemu langsung dan meminta maaf, serta menjelaskan duduk perkaranya, koorprodi gue akhirnya menandatangani berkas KRS. Beliau bilang kalau urusan tanda tangan itu urusan personal beliau bersama gue, kalau untuk urusan KPU silakan memakai KRS yang sudah ditandatangani,” ucap Agil.

Pasca mendapatkan tanda tangan basah seperti yang diminta oleh KPU UNJ, Agil sempat kembali untuk meminta adanya perbaikan. Namun, pihak KPU justru menolak dan beralasan bahwa pada tahap verifikasi tertutup tidak diperkenankan adanya penambahan ataupun perbaikan berkas.

Setelah mendapatkan KRS dengan tanda tangan basah, Agil pun kembali untuk melakukan perbaikan. Namun, pihak KPU menolak dan beralasan pada verifikasi tertutup tidak boleh ada penambahan atau perbaikan berkas.

Padahal menurut Agil perbaikan masih bisa dilakukan, jika mengacu pada PKPU No. 4 pasal 14. Baginya dalam aturan tersebut sudah jelas menyatakan, bahwa peserta pemilu eksekutif UNJ berhak melakukan perbaikan berkas yang belum memenuhi persyaratan. 

Apalagi menurut Agil, sidang verifikasi tertutup baru akan dilaksanakan pada 23 Januari 2024. Ia mengatakan seharusnya perbaikan masih bisa dilakukan, sebab tahapan Pemira UNJ baru di masa verifikasi tertutup. 

Agil merasa kecewa atas sikap KPU UNJ yang tak mengindahkan adanya usaha untuk melakukan perbaikan berkas. Terlebih pernyataan pelanggaran oleh KPU dilakukan pasca dirinya menghadap ke koorprodi untuk menjelaskan ihwal permasalahan tersebut. 

Iklan

“Kecewa dan sedih sama KPU, padahal gue sempet ngajuin banding. Dan masalah gue sama koorprodi sudah selesai, sebelum hal tersebut dinyatakan pelanggaran dan baru konfirmasi,” tandasnya.

Meskipun merasa kecewa atas putusan tersebut, Agil beserta timnya menyatakan menerima keputusan KPU UNJ yang menyatakan pasangan Luthfi-Fachrizal gagal dalam tahapan verifikasi berkas. Selebihnya ia berharap, KPU UNJ kedepannya bisa lebih terperinci dalam membuat produk hukum dan tidak menyulitkan. 

“Harapannya Pemira UNJ bisa lebih menarik, semoga dibuat peraturan baru yang tidak lagi menyulitkan dan bisa menghilangkan batasan-batasan yang selama ini menghambat,” pungkasnya.

Saat dimintai keterangan terkait pelanggaran tersebut, Tim Didaktika sempat menghubungi Ketua KPU UNJ, Fauzan Adzim. Namun, Ketua KPU UNJ menolak permintaan wawancara dengan alasan sedang sibuk mempersiapkan Pemira putaran kedua. 

Penulis/reporter: Zahra Pramuningtyas

Editor: Mukhtar Abdullah