Otak hingga jantung terus diburu, nyawa tidak bernilai. Hanya seorang yang layak, berhak atas kemenangan.

Pertempuran yang tidak pernah usai. Adanya peperangan ini, melibatkan seluruh manusia. Semua ingin memasuki zona ini. Tak pernah ada batas, maka siapapun terpaksa memasukinya.

‘’Lapor, Kapten Hong!” ucap satu ajudan tak dikenal itu.

Hong hanya melihat, sembari memberi isyarat tangan baginya untuk melanjutkan laporannya.

‘’Saya terpaksa meninggalkan benteng pertahan, karena melihat pasukan Jepang dan Korea sudah menerobos masuk.’’ Hanya kalimat itu yang ajudan itu lontarkan.

Angin berhebus cukup kencang, jubah kebesaran Kapten Hong mengikuti arah angin itu. Tidak ada wajah kekecewaan. Ia menerima ajudan itu, menyuruhnya untuk beristirahat.

Iklan

‘’Saya ucapkan kepada kalian semua!”

‘’Bahwa saat ini, kita kerajaan terakhir yang menolak peperangan, akan ikut serta dalam perang ini!!!’’

‘’Maka dari itu, persiapkanlah. Kita semua akan melindungi apa yang telah kita bangun!!!’’

Riuh para prajurit garis depan menggema, hingga tanah tidak bisa menahannya. Getaran layaknya gempa menemani persiapan. Tak lama dari itu setelah Hong membawa bilah pedangnya, ia menunduk, menutup mata, melemaskan tangan, hingga suara-suara aneh muncul dalam kepalanya.

‘’Apakah kau yakin dengan putusan ini? Bukankah kau sudah melihat kepala pecah, otak manusia berceceran, mata yang meletus, rambut yang terbakar menjalar hingga membakar wajah-wajah itu. Inipun hanya kepala. Bukanlah dahulu kau pernah melakukan semua itu. Pembunuh besar yang akhirnya menjadi panglima. Hong, bijaklah dengan keputusan ini. Lindungi apa yang harus kau lindungi, tapi tak usah kau menyerang yang lain.’’

Kata-kata itu layaknya pesan dari Gabriel pada Abraham. Membuat penerima termenung dan memang itu pesan kebenaran, buah dari kejujuran yang selalu menyertainya. Detik berlanjut, Hong membuka matanya. Hentakan sepatu membuatnya terpaksa melihat sumber suara itu. Mata penuh konsentrasi melihat dengan tajam Laksama Liu, datang Bersama kedua pengawalnya Zhang dan Zhao.

‘’Homat Laksamana!’’ Hong memberi hormat serta melaporkan bahwa mereka terpaksa turun ke medan perang untuk menghadang pasukan Jepang dan Korea, yang menyerang masuk lewat sisi timur laut dan barat daya.

‘’Tidak mengapa Kapten, selama Anda menjaga batas timur laut ini, rasanya tidak bisa ditembus oleh siapapun. Juga di sebrang sana ada Jendral Guan yang menjaga batas barat, tidak kalah hebatnya dari dirimu,’’ tutur Laksama Liu sembari melihat pasukan Jepang yang sudah berbaris.

Bukan sembarang sanjungan, Hong tidak hanya seorang Kapten penjaga perbatasan. Dahulu ia dikenal dengan julukan Head Hunter. Sebagai mantan penjaga hutan, ia kerap mencacak kepala orang yang memasuki wilayahnya tanpa izin. Dalam hutannya, dikenal dengan produksi Candu yang bisa mematikan pikiran orang.

Memang baginya kepala, otak, ide, hingga pikiran adalah perusak. Hancurkan saja, tidak ada gunanya. Banyak orang idiot yang menurutnya tak layak melanjutkan hidup. Karena ketakutan akan kebodohan, ia selalu menggunakan pikirannya matang-matang sebelum memburu kepala.

Iklan

Berlainan sifatnya yang cenderung mudah tersulut emosi dengan ketenangan dalam pikirnya. Ia menampakan dirinya seperti itu, supaya tidak banyak orang yang mau akrab dengannya.

Hong pergi menerjang pasukan musuh, terus memburu kepala, hingga pecahkan kepala.

‘’Hancurkan otak mereka! Bajingan kalian semua!!!’’ teriak Hong. Zhao serta Zhang hanya mengikuti Hong. Bentur, tembus, bunuh. Senyuman penuh kenikmatan menyertai tiga orang itu.

***

Di perbatasan barat peperangan terjadi lebih cepat, dengan Jendral Guan. Didampingi oleh Kapten Ma, seorang pembunuh dari Kaisar Cao, raja yang adil dan bijaksana.

‘’Srttt!!!” Suara keras yang membuat Kapten Ma melihat kebelakang. Ia melihat Jendral Guan sedang mengayunkan pedangnya dan memotong tangan, salah dua dari pembesar musuh. Jelas bahwa darah keluar hebat dari nadi musuh itu.

‘’Wuahhh!!’’ teriakan Ma yang juga menyarangkan pedangnya pada jantung satu pembesar musuh itu. Ia melompat tak lama setelah melihat Guan, dan langsung menargetkan jantung itu.

Sontak, pasukan musuh itupun kabur tak karuan, melihat pembesar mereka kalah dengan Guan yang menginjak potokan tangan itu hingga hancur. Juga Ma yang mencabut jantung musuhnya, dan mengangkatnya ke langit.

‘’Jangan terlalu merasa menjadi pengangkut beban Guan, biasa sajalah. Kemenangan hari ini menarik, sangat berharga layaknya jantung ini. Andai manusia dibolehkan memakan ini,’’ kata Ma, juga seraya melempar-lempar jantung itu, layaknya sebuah bola.

Guan membalasnya dengan menatapnya, tatapan tajam juga hembusan nafas tak lupa ia lakukan. ’’Sangat berharga, hampir setengah dari pasukan yang dibawah benderaku mati. Darah sudah mengalir layaknya sungai. Pengorbanan mereka tak sebanding dengan hilangnya satu nyawa. Hanya satu.’’ Setelahnya Guan menunduk, ia mengangkat kakinya, dari injakannya pada tangan pembesar itu.

Begitu juga dengan Ma, ia melepaskan jantung itu. Cengkraman yang sangat kuat, hingga organ itu tak mampu lagi menempel pada tangannya, mencuat keluar dari sela-sela jari.

Keduanya terhening, membesihkan darah yang menempel. Meski tak satupun dari mereka yang terluka. Kepiawan mereka dalam medan perang tidak perlu diragukan. Sama seperti Hong, Zhang, maupun Zhao. Mereka berlima masuk dalam prajurit terbaik Laksamana Liu.

Setelah keduanya bersih, Guan memberi isyarat untuk menguburkan mayat-mayat bersamaan. Ma juga pergi ke sisi musuh, zona yang telah musuh tinggalkan. Lalu membawa jantung-jantung dari prajurit terbaik mereka.

Sorot matahari sudah mulai turun, puncak peperangan dimulai saat matahari benar-benar ada pada atas kepala manusia. Tidak akan ada bayangan. Menjadi tanda bahwa tak seorangpun dapat bersembunyi. Bahkan dari bayangannya sendiri. ‘’Ayo pulang Ma, kita kembali ke markas besar. Dan mempercayakannya pada Kapten Pi. Aku yakin takkan ada satupun manusia yang berani menyerang.’’

Kedua pergi meninggalkan perbatasan menuju ke kota. Perjalan yang sepi, melintasi jalur yang jauh dari perkampungan. Mereka tidak ingin melihat wajah-wajah yang terluka akibat perang yang terpaksa mereka lakukan.

***

Kapten Pi, seorang yang hebat, hampir mendekati kelima orang itu. Hanya ia terlalu muda. Rata-rata setengah umur kelima orang itu. Ia memberi perintah untuk memperbaiki benteng-benteng, merampas sisa-sisa senjata hingga pasokan musuh. Kemudian pergi ke melewati perbatasan, melihat sisa musuh-musuh yang terus mundur.

Hanya melihat, Pi tidak maju dan menerjang mereka. Baginya tidak perlu melawan orang yang tidak ingin berperang. Ia hanya terus mengikuti mereka dengan kudanya. Hingga sampai pada sebuah pelabuhan. Pi terus maju dan merekapun panik. Belum sampai siap untuk pulang.

Ia hanya berkata, ‘’Pergilah, kami mengampuni kalian semua. Sampaikan pesan pada pangeran kalian. Bahwa kami tidak akan menyerang kalian. Kaisar Cao telah mati, dibunuh oleh sergapan Kapten Ma. Jantung dan kepalanya sudah kami kubur. Tak perlu kami pamerkan pada dunia.’’

Setelahnya Pi meninggalkan mereka semua, pergi dengan keberanian. Tidak ada rasa takut, seandainya ia diserang dari belakang. Setelah berjalan di lembah, suara burung merpati membuat Pi melambatkan kudanya. Burung itupun menghampirnya, memang terdapat sebuah surat.

Pi tidak serta merta membuka surat itu. Ia melihat pengirimnya Jendral Zhao, tidak ada tanda sebuah kegelapan baginya. Begitu juga surat itu.

ia hanya berucap, ‘’Lagi, ini sebuah kemenangan.’’

 

Penulis: Ihsan