Judul Buku: Soewardi Soerjaningrat dalam Pengasingan

Penulis: Irna Hadi Soewito

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun: 2019

Jumlah Halaman: 143

ISBN: 978-979-407-3209

Iklan

Sudah tak asing lagi bagi telinga kita mendengar kata “Merdeka”. Terutama dari program yang sedang hangat diperbincangkan saat ini, yaitu Merdeka Belajar. Hal barusan digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim. Konon katanya, program ini mengambil pemikiran dari Ki Hajar Dewantara, soal merdeka dalam dunia pendidikan.

Nadiem menafsirkan azas kemerdekaan Ki Hajar Dewantara dengan memberikan kemudahan akses kepada para pelajar untuk mengeksplorasi pelajaran-pelajaran yang mereka minati. Namun, apakah makna merdeka hanya sebatas itu? Atau bisa lebih jauh lagi?

Membicarakan arti merdeka yang dimaksud Ki Hajar, tersirat dalam sebuah buku biografi yang ditulis oleh Irna H.N. Hadi Soewito. Ia memotret sedikit riwayat hidup sang Bapak Pendidikan, yang menunjukkan proses perjuangan hidup hingga akhirnya memasukkan azas kemerdekaan dalam pemikiran pendidikannya.

Soewardi Soerjaningrat memiliki nama asli Ki Hajar Dewantara. Dia dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889. Ayahnya bernama kanjeng Pangeran Harjo Soerjaningrat, seorang yang bergelar Sri Paku Alam III. Sehingga secara garis keturunan, ia adalah seorang ningrat. Oleh sebab itu, dia dapat belajar di sekolah ternama The School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA).

Semasa kecil Soewardi terkenal bandel dan pandai bergaul. Makanya saat di STOVIA, Soewardi tak pernah malu-malu untuk bergaul dengan siapapun. Di sekolah ini pula, dirinya bertemu dua orang sahabat karibnya, yaitu Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Dan di kemudian hari, ketiganya lebih dikenal dengan julukan tiga serangkai.

Baca juga: Nabi Utusan Nietzche dan Ajaran Moralitas Zarathustra

Namun, Soewardi memilih tidak menyelesaikan sekolahnya di STOVIA. Setelah keluar, dia bekerja sebagai buruh di pabrik gula Kalibogor, Banyumas. Lalu berpindah haluan bekerja di apotik Rathkamp sebagai ahli kimia. Tetapi Soewardi terpaksa dipecat, karena salah meramu obat.

Usai dipecat, Soewardi memutuskan untuk fokus menekuni bidang jurnalistik. Bersama dua sahabat karibnya, ia mendirikan harian surat kabar De Expres. Selama berkecimpung di dunia jurnalistik inilah, dia menyebarkan gagasan tentang kemerdekaan lewat karya-karyanya. Di antara tulisan-tulisan dirinya, salah satu yang paling fenomenal adalah “Als ik eens Nederlander was”, Jika Aku Seorang Belanda.

Tulisan di atas muncul untuk menanggapi kebijakan kolonial Belanda. Kala itu, masyarakat pribumi diwajibkan untuk membayar iuran, guna mengadakan pesta 100 tahun kemerdekaan Belanda. Banyak dari orang pribumi yang merasa keberatan dengan keputusan tersebut, namun hanya bisa bergumam. Akan tetapi, dengan berani Soewardi mewakili suara rakyat pribumi dengan tulisannya.

Dalam tulisan tersebut, ia mengkritik bangsa Belanda atas perlakuannya yang tidak adil. Sebab, tak sepantasnya bangsa penjajah mengadakan pesta kemerdekaan di negara jajahan. Apalagi, dana untuk menggelar pesta bersumber dari pungutan kepada masyarakat pribumi yang notabene lebih sengsara. Hal seperti ini hanya akan memancing amarah pribumi untuk memberontak.

Iklan

Akibat tulisannya, ia harus menjalani hukuman internering (pengasingan) ke negara kincir angin bersama keluarga dan kedua temannya. Selama di Belanda ketiganya hidup serba kekurangan. Tiga serangkai ini hanya mengandalkan sumbangan teman-teman mereka di Hindia sebesar 150 gulden.

Meski begitu, Soewardi tidak semudah itu membuang prinsipnya. Dirinya sering sekali menolak bantuan, bukan karena sombong, tapi ia tau untuk menjadi manusia yang merdeka harus mandiri terlebih dahulu. Hingga akhirnya, ia bisa menghidupi dirinya sendiri lewat cara membangun kantor surat kabar bernama Indonesisch Persbureau (Biro Pers Indonesia).

Memahami Frasa “Merdeka”

Soewardi menggemari bidang politik dan pendidikan. Namun, sang istri menyarankan Soewardi untuk memilih pendidikan sebagai jalur perjuangannya, ketimbang politik. Dia beralasan, bahwa sifat sang suami yang mudah marah membuatnya kurang cocok bergerak di dunia politik. Alhasil, Soewardi menyetujui saran barusan.

Dalam filsafat pendidikannya, ia menganggap pendidikan merupakan serangkaian proses untuk memanusiakan manusia. Cara mencapainya adalah dengan memerdekakan seseorang dari aspek lahiriah dan batiniah. Ide akan kemerdekan itu ditemukannya dari pengamatan terhadap pendidikan ala kolonial Belanda. Soewardi beranggapan, bahwa sekolah buatan belanda tak lebih daripada sarana pencitraan bangsa kolonial, agar dicap peduli kepada rakyat jajahannya.

Dalam pendidikan ala kolonial Belanda, rakyat pribumi dibuat tidak percaya diri. Mereka selalu dikucilkan dan diperlakukan berbeda dengan bangsa lainnya. Selain itu, di dalam kelas hanya kebudayaan Belanda yang disajikan, sehingga rakyat pribumi dibuat lupa atas jati diri bangsanya. Soewardi melihat pendidikan macam ini tidak cocok untuk bangsanya. Olehkarenanya, Soewardi ingin memerdekakan pemuda pribumi dari belenggu pembodohan bangsa Belanda.

“Soewardi meletakan dasar kemerdekaan tersebut sebagai azas pendidikan anak-anak, karena dia menyadari bahwa mengisi jiwa merdeka pada anak-anak negeri jajahan sama artinya dengan mempersenjatai bangsa tersebut dengan keberanian berjuang.” (hlm. 94)

Kemerdekaan bagi Soewardi tak hanya sekedar bicara tentang kebebasan atau keleluasaan akses. Lebih dari itu, ia memandang jauh kedalam diri manusia dan menemukan kepingan yang dibutuhkan agar seseorang bisa merdeka. Itulah yang ia jadikan pijakan pemikiran pendidikannya.

Penulis : Asbabur Riyasy

Penyunting : Abdul