Aparat yang seringkali melakukan penggerebekan membuat anak-anak Kampung Hunian Bayam trauma.    

Dengan mata yang berkaca-kaca, Darmi mengingat kejadian satu bulan yang lalu. Tepatnya pada Desember 2023, ketika warga Kampung Hunian Bayam digrebek secara paksa oleh orang orang tak berseragam. 

Darmi mengatakan, segerombolan orang tak berseragam masuk ke rumahnya dengan kasar begitu dia membukakan pintu. Ia merasa diperlakukan seperti kriminal sebab mereka terus membentak dan memaksa untuk menggeledah rumah. 

“Kami sama sekali tidak merusak namun kepolisian kerap melakukan tindak represif. Memangnya kami kriminal,” tuturnya. 

Dalam pengakuan Darmi, penggerebekan menjadi sering diterima oleh warga Kampung Bayam sejak pemindahan kepemimpinan dari Gubernur DKI, Anies Baswedan kepada PJ Gubernur, Heru Budi. Pasalnya tidak ada pembaruan Surat Keputusan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DKRP) nomor 2356 tahun 2021 terkait izin pemukiman dan perkebunan di wilayah kampung susun bayam setelah Heru menjabat.

Karena tidak ada kejelasan, lanjut Darmi, Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pengelola gedung secara sepihak melakukan berbagai tuduhan seperti perusakan gedung. Padahal, warga hanya menempati unit-unit yang sudah terbuka. Baginya dengan dalih itu, pihak Jakpro bersama kepolisian kerap melakukan tindak represif. 

Iklan

Menurut Darmi, represifitas berulang yang diterima menimbulkan rasa traumatik kepada anaknya, Ubay. Ubay yang Ia kenal sebelumnya merupakan anak yang senang bergaul. Tetapi setelah berbagai kejadian itu anaknya lebih banyak diam di rumah. 

“Biasanya dia berani kalau ada orang baru dan bebas bermain kemana saja. Sekarang Ubay hanya main depan rumah saja. Dia menjadi penakut setiap bertemu orang baru,” ucapnya.

Darmi kerap kali merasa khawatir ketika melihat Ubay selalu berlari ketakutan saat melihat orang berpakaian hitam atau mobil aneh di depan rusun. Bahkan, Ubay juga takut dan lari kalau melihat orang orang seperti sekuriti.

Darmi dan suaminya juga seringkali membawa Ubay berkeliling, agar Ubay mencari suasana baru dan main ke luar ruangan. Namun beberapa kali usahanya gagal Ubay tetap menjadi anak yang murung.

“Saat mengajak berkeliling keluar di Jalan kami bertemu polisi lalu lintas. Melihat itu Ubay langsung meminta pulang karena takut,” tutur Darmi.  

Rasa traumatik itu, lanjut Darmi, memburuk ketika Ubay mendapati ayahnya ditangkap oleh polisi. Ubay menjadi sering menangis dan menyalahkan dirinya sendiri. Sebab ketika sang ayah ditangkap Ubay sedang berada di tempat kejadian. 

Sejak kejadian itu, Darmi kerap kali berbohong ketika suaminya mendapatkan panggilan dari kepolisian. Setiap Ubay bertanya tentang keberadaan sang ayah, Darmi selalu mengatakan bahwa ayah sedang bekerja. 

“Hati saya sangat teriris melihat Ubay menangis dan menyalahkan diri seperti itu,” tuturnya dengan raut wajah sedih.

Sebab itu pula, belakangan ini Darmi merasa semangat Ubay untuk sekolah menurun. Ia mengaku anaknya sempat tidak ingin berangkat sekolah karena ketakutan. Dirinya merasa sedih ketika mendapati penurunan pada nilai-nilai akademik Ubay. 

Darmi cemas jika Ubay terus seperti ini kedepannya maka anaknya akan terus menjadi anak yang tertutup dan kurang bergaul. Darmi tidak ingin Ubay terus mengingat kejadian ini sampai dia dewasa nanti.

Iklan

“Dengan berbagai kejadian ini, saya takut rasa traumatik ini akan dibawa Ubay ketika besar nanti,” ucapnya.

Tidak hanya Ubay, Septi mengaku kerap kali merasa takut ketika pulang kerumah. Sebab beberapa kali Ia ditahan dan tidak diizinkan masuk oleh aparat dengan alasan yang tidak jelas. 

Tidak jarang pula dirinya menyaksikan pembredelan rumah secara paksa. Septi hanya khawatir akan kondisi orang tuanya yang selalu memenuhi panggilan kepolisian dan diperlakukan layaknya kriminal. Hal itu membuat Ia tidak fokus menjalankan pembelajaran di Sekolah. 

“Aku cemas terhadap kondisi Papa dan Mama ketika hendak berangkat sekolah. Takut terjadi apa-apa dengan mereka,” terang Septi.

Kendati demikian, Septi memilih untuk tetap melanjutkan sekolah. Baginya sekolah dapat menjadi senjata untuk melawan penindasan yang dialami. Dengan terus bersekolah, Septi berharap suatu hari nanti Ia bisa hidup layak dan terlepas dari ketakutan terhadap aparat kepolisian.  

Baca juga: Warga Kampung Bayam Menuntut Hak Atas Hunian 

 

Penulis: Hanum

Editor: Annisa Inayatullah